Senja di Kampus Cinta (Satrasia Reunion Part 2)

20.28



Menjelang pukul tiga sore berdatanganlah teman-teman dari luar kota. Irma dengan suami dan anaknya, Lia juga dengan anak dan suaminya. Beberapa pasangan juga ikut hadir memeriahkan. Dan sepertinya kami mendadak lupa kalau kami ini bukan mahasiswa lagi. Sayangnya geng saya jaman kuliah dulu yang dikenal sebagai geng tujuh kurcaci tak hadir lengkap. Hanya kami bertiga, Lia, Irma dan saya.






Sambil melihat foto-foto jaman kuliah dan membaca kembali buku yang memuat tulisan kami saat kuliah kritik sastra membuat saya sedikit tertawa dan sedikit kagum. Mengapa dulu bisa menulis sebagus itu ya, coba sekarang? Mana bisa.

Para panitia sepertinya sudah mempersiapkan acara ini dengan sangat baik. Berbagai permainan dilombakan, hasilnya saya memenangkan dua buah piring, lumayan oleh-oleh buat Mama.


horee dapet piring


Kami pun tak lupa berfoto di luar, duh hebohnya. Seolah menjadi mahasiswa kembali dengan kehebohan yang tak berubah. acara puncak sekaligus penutup reuni kali ini adalah jalan-jalan ke kampus cinta.


siap-siap mau difoto





eks gedung Pentagon di belakang kami
eks gerbang BNI

Villa Isola 
Senja turun saat kami memasuki pelataran kampus. Romantis. Kami mengabadikan suasana ini dengan aneka gaya. Dari gerbang BNI, lanjut menuju gedung Partere alias Villa Isola yang tetap cantik dengan gaya art deco nya. Matahari makin tergelincir di ufuk barat, kami harus segera kembali ke GSPI. Awan mendung dan rintik gerimis menemani langkah-langkah menuju GSPI.

Perpisahan pun harus kami alami, suka atau tak suka. Saling berjanji untuk keep contact dan akhirnya kembali ke rumah masing-masing. Saya dan Kang Opik kembali ke Braga naik DAMRI. Wuih DAMRI sekarang bagus dan ber-AC. Kami turun di pertigaan gedung Landmark, dan jalan kaki menuju Chez Bon. Setelah mandi dan bersih-bersih, kami jalan-jalan lagi menikmati suasana Braga malam hari.

Di ujung jalan Braga, pertigaan Landmark ada sebuah kafe kopi yang bagus, namanya wiki kopi. Suasana malam minggu membuat kafe itu penuh dan meriah. Kami memesan kopi dan makanan ringan. Musik yang ditampilkan oleh band di panggung depan adalah lagu-lagu pop sunda. Wahh betul-betul terasa sedang di tanah sunda apalagi saya memesan kopi gunung sunda. Gerimis turun merintik, saya dan Kang Opik kembali ke Chez Bon untuk istirahat.








Pagi hari cerah sekali, kami berdua pergi menyusuri gang kecil tak jauh dari penginapan menuju kopi aroma yang terkenal itu. Suasana di gang kecil sangat kontras dengan glamour nya jalan Braga. Setelah melewati jembatan, lurus sedikit dan keluarlah kami di ruko-ruko yang terletak di seberang kopi Aroma. Namun sayang kopi Aroma masih tutup, namun saya berfoto-foto di kedai kopi Aroma. Kalau hari biasa mana bisa? Karena antrian pembeli kopi tersebut sangat panjang.




Dari kopi aroma kami berjalan menuju jalan Al Katiri, kemana lagi selain ke kopi Purnama? Sudah cukup banyak pengunjung yang menikmati menu sarapan di kedai kopi Purnama. Dua gelas kopi susu, seporsi roti telur ditambah seporsi bitter balen menjadi menu sarapan yang mengisi perut.




Setelah menghabiskan sarapan, kami berjalan menuju alun-alun ke arah jalan Asia Afrika. Kebetulan sedang ada pameran Bakso Juara di samping Gedung Merdeka. Saya mencicipi bakso unik yang namanya bakso siomay, yang rasa pedas duh enak sekali. Karena menurut penjualnya bakso itu cukup awet dan tahan lama maka saya membungkusnya sebagai oleh-oleh.





Kami kembali menuju Jakarta dengan kereta pukul satu siang. Perjalanan lagi-lagi diiringi hujan. Jelang malam, di Stasiun Jatinegara kami pun berpisah dan entah kapan bertemu kembali.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images