SEBUAH RENUNGAN

23.26



Yunita Tresnawati … 246046

Lima belas tahun berlalu sudah, namun saya masih jelas mengingat pekik kebahagiaan saat membaca koran Kompas pagi itu. Di koran tersebut tercetak nama saya sebagai salah satu peserta yang lulus Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Seberkas rasa bangga menyelinap dalam dada.


Dengan kode 246046, maka saya resmi diterima sebagai mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Saya pun berkemas, bersiap untuk melakukan daftar ulang di pertengahan Agustus 2001.

Resmi sudah saya merantau dari Jakarta ke Bandung.  Kehangatan rumah berganti menjadi dinginnya udara Bandung utara. Segala sesuatu yang biasanya ada dan tersedia, kini harus dikerjakan sendiri. Bukankah itu tujuan awal saya memilih kampus ilmiah, edukatif dan religius ini? Karena saya ingin lepas dari bayang-bayang nama besar orang tua.

Menyandang status mahasiswa memang menyenangkan. Apalagi menjadi mahasiswa rantau yang otomatis menjadi anak kos. Selain mengurus kebutuhan sendiri, keuangan pun harus disiasati sendiri. Tak ada keluarga yang sigap datang membantu, teman lah yang menjadi keluarga.

Sebagai pendatang dari Jakarta. Tanpa disadari saya berkumpul dengan sesama penutur bahasa dialek Jakarta. Ketidaktahuan kami tentang kosakata bahasa sunda menjadikan kami bernasib sama, sama-sama tidak mengerti apa yang dibicarakan. Jadilah kami bertujuh berkumpul dan berkelompok, kami menamai tujuh kurcaci.

Tanpa terasa, kami sudah memasuki semester tujuh. Kami harus menyiapkan proposal skripsi. Persahabatan makin erat karena kami saling menguatkan untuk dapat lulus tepat empat tahun. Meski judul penelitian berbeda-beda, namun pastinya kami saling memberi tahu dan mengingatkan.

Hingga suatu hari, Nenden Lilis dosen sekaligus penyair perempuan kebanggaan UPI hadir di kelas kami. Ia bertanya pada kami satu persatu mengenai proposal penelitian sastra yang kami kerjakan. Topik penelitian saya adalah naskah drama dianalisis secara struktural dan sosiologi sastra.

“Yunita, apa manfaat penelitian kamu? Apa kontribusi penelitian kamu bagi dunia sastra Indonesia?”

Saya tak mampu menjawab, saya tak berpikir sejauh itu. Penelitian saya hanya sebatas syarat memperoleh gelar Sarjana Sastra dan memenuhi permintaan Kepala Jurusan yang meminta saya melakukan penelitian dengan korpus naskah drama karena belum banyak yang melakukannya. Ketua jurusan menunjuk saya untuk menulis penelitian naskah drama dengan pertimbangan karena saya aktif di teater kampus.

Hingga hari ini pertanyaan Nenden Lilis itu belum mampu saya jawab. Walau secara teori saya dapat mengutip pernyataan Rene Welek atau Saini K.M tentang sastra sebagai alat protes sosial. Namun jawaban dari saya sendiri belumlah ada. Hingga saya lulus dan bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia hampir sepuluh tahun, pertanyaan itu masih belum juga terjawab.

Setahun lalu saya dan teman-teman kuliah reuni di Bandung. Sebagian besar dari kami berprofesi sebagai guru. Oleh-oleh reuni tahun lalu adalah sebuah buku  kami terbitkan bersama, isinya adalah artikel yang kami buat saat kuliah dengan Nenden Lilis pada waktu itu. Dan pertanyaan beliau menyeruak kembali, apa kontribusi penelitian dan kritik saya pada dunia sastra Indonesia?

kiri: buku kritik sastra yang diterbitkan bersama
kanan: skripsi saya tahun 2005

“Heran ya, kenapa dulu kita bisa nulis artikel sebagus ini. Kata-katanya ilmiah betul. Kalau sekarang mana kita bisa?” celoteh seorang teman.

Dalam hati kecil saya membenarkan. Tanpa disadari kemampuan menulis saya menurun, tak setajam dahulu. Diksi saya menjadi terbatas tak seluas dahulu. Dan satu tanya besar menyelinap lagi di dalam hati kecil saya.

Apa kontribusi saya sebagai guru terhadap pengajaran Bahasa Indonesia?
Apa yang sudah saya lakukan untuk membuat Indonesia lebih baik?

Sepanjang jalan pulang dari Bandung menuju Jakarta, dalam benak dan hati kecil saya pertanyaan itu terus bergema. Sudahkah saya membuat Indonesia lebih baik? Sudahkah saya menyiapkan generasi muda, murid-murid saya membawa Indonesia lebih baik?

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images