Tembang Sepi

22.14


Tembang Sepi

Commuter Line baru saja meninggalkan stasiun Tebet, satu stasiun lagi Rana akan tiba di tempat tujuannya. Sekali lagi Rana memutar lagu kesukaannya, sebuah tembang lawas dari band asal Bandung, Dygta yang berjudul kesepian.


Tepat lagu berakhir dari earphone yang menempel di kedua telinga, Rana telah tiba di depan pintu apartemen miliknya. Langkah-langkah lelahnya memasuki kamar mandi, tak lupa ia memutar lagu kesukaannya sekali lagi sambil menemaninya membersihkan diri. Intro musik mengalun memecah sunyi.

Kurindu disayangi sepenuh hati
Sedalam cintaku setulus hatiku
Kuingin memiliki kekasih hati
Tanpa air mata tanpa kesalahan
Bukan cinta yang melukai diriku
Dan meninggalkan hidupku lagi

Usai mandi dan memakai baju rumah yang nyaman, Rana menyeduh kopi dan menyalakan televisi. Tegukan demi tegukan membasuh kerongkongannya, pikirannya melayang, tak fokus pada berita yang ditayangkan di televisi.

Besok hari sabtu, hari yang paling Rana benci. Ia sebenarnya bukanlah seorang workaholic, namun kenyataan bahwa ia tinggal sendiri di belantara Jakarta ini membuatnya terkungkung sepi. Selama ini kegiatannya hanyalah dari  apartemen menuju kantor dan sebaliknya. Monoton tak berubah. Tentang cinta, bukan ia tak tertarik. Ia trauma.

Kurindu disayangi sepenuh hati
Sedalam cintaku setulus hatiku
Kuingin memiliki kekasih hati
Tanpa air mata tanpa kesalahan
Bukan cinta yang melukai diriku
Dan meninggalkan hidupku lagi

Dua tahun yang lalu, Rana baru saja dipromosikan menjadi supervisor yang membawahi sepuluh orang. Karir  cemerlang untuk orang seusianya yang bekerja di sebuah Bank BUMN. Atas nasehat ibu, Rana pun mengambil sebuah unit apartemen yang terletak tak begitu jauh dari kantor. Setelah memiliki apartemen mungil di kawasan Kalibata, lagi-lagi ibu menyarankan Rana membeli sebuah kendaraan. Lebih pantas dilihat orang, begitu seloroh ibu. Akhirnya sebuah Honda Jazz kuning dimiliki Rana.

Rana adalah wanita yang bersemangat saat itu, ia pun aktif mengikuti komunitas automotif di Jakarta. Komunitas mobil kuning, Yellow Car Society pun menyambutnya dengan tangan terbuka. Begitu aktifnya Rana di organisasi, sampai ia merelakan seluruh waktunya. Rana bahagia berada di komunitas yang menjadi keluarga barunya.

Komunitas mobil kuning mempertemukan Rana dengan Randy. Pria parlente asal Bandung. Mereka menjadi sepasang kekasih. Jarak Jakarta-Bandung bukanlah penghalang, Randy rajin datang ke Jakarta dengan mobil kuning yang selalu berganti-ganti.

Kisah Rana nyatanya tak berakhir bahagia, Randy kabur membawa Honda Jazz kuning milik Rana. Randy tak pernah kembali, sebagai ganti banyak orang yang datang ke Apartemen Rana mencari kekasihnya yang ternyata adalah target pencarian orang oleh kepolisian Bandung. Sederet kasus penipuan serta penggelapan uang mengintai Randy yang kini entah dimana rimbanya bersama mobil kesayangan Rana.

Hati Rana hancur, tak ada tempat bersandar, tak ada tempat berlindung. Yellow Car Society pun lesu, Rana enggan aktif kembali. Ia harus menebalkan telinga tiap orang bertanya tentang Randy. Untuk pulang ke kampung halaman di Semarang, Rana tak lagi punya muka. Kini Rana terpuruk sepi dan hanya sendiri. Ia tak mau lagi percaya, baginya saat ini hanya kerja dan kerja, lain tidak.

Sabtu pagi, Rana terbangun akibat sinar matahari yang menerobos jendela. Ia mengambil sepatu olahraga dan berniat lari pagi mengelilingi kompleks Apartemen. Sudah lama kulit putih bersihnya tak tersentuh hangatnya mentari pagi. Tubuh tinggi semampai, rambut ekor kuda terlihat menyilaukan bermandi cahaya matahari pagi.

Tiga puluh menit berlalu tanpa terasa ia berlari. Saat keluar dari minimarket menuju tower apartemennya, Rana merasa seseorang memanggil namanya. Ia menoleh dan melihat sesosok pria tinggi berjalan menghampirinya.

“Ah betul kan, Rana anak Ekonomi UGM 2004. Sudah sebulan aku memperhatikan kamu, tadinya aku pikir cuma kebetulan eh ternyata kamu menengok. Apa kabar, Ran?” sapanya ramah.

“Hmm Ryan ya? Anak akuntansi angkatan 2005 kan ya?” tanya Rana mencoba mengingat-ingat.

“Ah senangnya kamu masih ingat aku” celotehnya riang
           
 “Iya ingat, kamu kan penyiar radio kampus. MC andalan tiap fakultas kita mengadakan acara.” Jawab Rana tersenyum.
            
"Ran, kamu tinggal di sini sejak kapan? Aku baru sebulan tuh di tower Cendana.”

“Aku sudah dua tahun sih di tower Akasia.”
            
Wah aku boleh ya main ke tempatmu. Ih senang deh ada teman sesama anak rantau.” Jawabnya masih bersemangat.

Mereka pun berpisah setelah Rana memberikan alamat apartemennya. Ryan berjanji untuk mampir mengunjungi Rana. Malam itu hujan deras dan pemadaman listrik oleh PLN membuat Ryan singgah cukup lama di Apartemen Rana.

Kotak-kotak kesunyian Rana terbuka. Sepi pun terlempar ke pojok terkelam. Rana menemukan kembali dirinya yang dahulu. Kedatangan Ryan adalah nostalgia sekaligus mengembalikan jati diri Rana yang seutuhnya.

Bebaskan aku dari keadaan ini
Sempurnakan hidupku dari rapuhnya jiwaku
Adakah seseorang yang melepaskanku
Dari kesepian ini

Rana mendengarkan lagu itu untuk terakhir kalinya. Saat langkahnya keluar Stasiun Kalibata, ia pun menghapus lagu tersebut dari playlist ponselnya. Kini ia tak perlu lagi menyumpal telinga dengan earphone yang memanjakannya dengan lagu-lagu menyayat hati.

Kesepian sirna sudah, tembang sepi pun tak perlu lagi bernyanyi. Kesepian pergi bersama jawaban atas kesabaran. Ada seseorang yang melepaskan Rana dari kesepiannya. Ada seseorang.

#30DWCjilid5
#30DWC
#day5

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images