Review Film Kartini

22.22




Kartini, merananya seorang Putri bangsawan
 Saat pintu keluar studio 5 dibuka, saya keluar dengan mata masih sembab akibat kebanyakan menangis. Luar biasa sekali Hanung Bramantyo menyajikan kegetiran hidup Kartini sebagai putri bangsawan membuat saya berkali-kali menangis sepanjang film berlangsung hingga saya lupa pegalnya leher yang menatap layar bioskop dari kursi paling depan.


Putri Bangsawan dalam Pingitan
Kalau selama ini kita selalu melihat kehidupan Putri-putri bangsawan yang selalu bahagia bergelimang harta dan kemewahan, maka anggapan ini akan patah saat menyaksikan film berjudul Kartini ini.

Kartini (Dian Sastro) adalah salah seorang putri dari bupati Jepara, R.M Sosroningrat. Pribadinya yang cerdas dan mudah bergaul membuatnya mudah menyesuaikan diri dengan penguasa Belanda yang bertamu mengunjungi ayahnya. Sebagaimana budaya Jawa yang begitu kuat, Kartini pun dipingit, ia dipersiapkan untuk menjadi Raden Ayu. Putri bangsawan memiliki gelar Raden Ajeng, dan dipersiapkan menjadi pendamping bagi bangsawan pria, ketika menikah maka gelar Raden Ajeng itu berubah menjadi Raden Ayu.

Kartini tidak diizinkan keluar rumah sama sekali. Ketika Kakaknya, Sosrokartono (Reza Rahardian) hendak melanjutkan sekolah ke Belanda, ia memberikan kunci untuk “keluar” dari pingitan. Ternyata kunci yang diberikan kakaknya adalah kunci sebuah lemari buku. Perjalanan Kartini membuka “jendela dunia” pun dimulai saat membaca buku-buku milik kakaknya.

Masa dipingit menjadi sedikit menyenangkan semenjak R.A Kardinah (Ayushita) dan R.A Roekmini (Acha Septriasa) bergabung di kamar yang sama. Kekompakan mereka bertiga begitu terjalin.  Hasil membaca, cakrawala pemikiran Kartini bertambah luas. Ia menyadari betapa budaya dan tradisi begitu tidak adil pada wanita jawa, seperti yang terjadi pada ibu kandungnya. Ibu Kandung R. A Kartini bernama Ngasirah bukanlah seorang bangsawan, harus pasrah hidup di bagian belakang rumah, hidup sebagai pembantu dan menerima kenyataan bahwa suaminya harus menikah lagi dengan seorang ningrat, karena adanya peraturan bahwa Bupati harus menikah dengan wanita nigrat.

Adalah keluarga Belanda, Ovink Soer yang tertarik dengan kecerdasan Kartini dan memintanya menulis untuk sebuah jurnal Belanda. Semenjak saat itu tulisan-tulisan Kartini sering dipublikasikan. Karena pergaulannya, Kartini mampu memperkenalkan ukiran khas Jepara yang pada akhirnya membuat Jepara terkenal sebagai kota penghasil ukiran seperti sekarang. Oleh Nyonya Ovink Soer, ketiga kakak beradik tersebut diberi julukan Het Klaverblad (daun semanggi)

Het Klaverblad yang asli dan yang memerankannya

Atas izin ayahnya, Kartini dan kedua adiknya membuka tempat belajar membaca bagi penduduk. Tentu saja tingkah Kartini ini ditentang oleh kedua kakaknya yang lain. Raden Moerjam sebagai ibu tiri mereka juga kesal sekali dengan tingkah ketiga gadis kecil itu yang tidak patuh pakem.

Aku Tidak Mau Menikah!
Kisah kekompakan Kartini, Kardinah dan Roekmini akhirnya kandas karena Kardinah yang dijodohkan dengan R.M Reksoharjono membuat Kartini dan Roekmini terpukul. Pernikahan paksa ini merenggut kebahagiaan Kardinah yang sama sekali tak mengenal suaminya apalagi mencintainya. Roekmini yang bersedih tak dapat meghentikan air matanya.

Tanpa kehadiran Kardinah, mereka berdua seolah menjadi pincang, apalagi semenjak Roekmini dipisahkan dari kamar Kartini. Kartini pun terus memperjuangkan hak nya untuk memperoleh pendidikan lebih tinggi, ia pun menulis proposal beasiswa ke Belanda. Sayang, kondisi kesehatan ayahnya yang terus menurun pada akhirnya membuat keinginan Kartini kandas karena ibu tirinya tak mengizinkannya keluar dari aturan-aturan ningrat.

Akhirnya datanglah pinangan dari Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat (Dwi Sasono) meminang Kartini untuk menjadi istrinya karena istrinya telah tiada. Kartini menyetujui pinangan tersebut dan mengajukan beberapa syarat, salah satunya adalah meminta dibuatkan sekolah untuk rakyat terutama kaum wanita.

Kisah yang luar biasa
Jika kita selama ini mengenal Kartini sebagai pahlawan emansipasi wanita, namun film ini berkisah tentang kehidupan pribadi serta problematika seorang Kartini. Bagaimana pendidikan moderat dan modern yang ditanamkan ayah serta kakaknya mampu membentuk Kartini menjadi seorang yang kritis sekaligus menjadi problem solver. Meski hanya menampilkan sedikit adegan tentang sekolah untuk kaum wanita pribumi di rumahnya, namun perjuangan dan kepribadian Kartini digambarkan dengan begitu kuat.

Hanung memang dikenal sebagai sutradara berbakat, telah banyak karyanya yang tak hanya bagus namun juga menggugah kesadaran semangat nasionalisme penonton dan kali ini ia berhasil. Saya pribadi sangat menyarankan film ini ditonton para pelajar juga kalangan akademisi karena sarat akan pesan moral. Sebagai penutup saya berharap bahwa sineas kita mampu membuat film sebagus ini sehingga film karya anak bangsa menjadi tuan rumah di negara sendiri.

#30DWCjilid5
#30DWC
#day15

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images