Sejumput Kisah Masa PLPG

21.53




Program Sertifikasi guru adalah program yang paling disambut meriah oleh kalangan profesi guru. Tentu saja pemerintah pun tidak main-main untuk menentukan peserta sertifikasi. Ada serangkaian syarat administratif yang harus dipenuhi hingga kemudian menjalani diklat selama sepuluh hari di lokasi yang ditentukan.


Oktober 2016, nama saya tertera sebagai peserta sertifikasi yang beralih nama menjadi PLPG yang merupakan singkatan dari Pendidikan dan Latihan Profesi Guru. Sebenarnya merunut dari masa kerja, saya belum bisa terdaftar sebagai peserta karena belum sepuluh tahun mengajar. Semua karena keajaiban alam (ya seperti Sailor Moon bukan?) tepatnya karena hasil Uji Kompetensi Guru saya bernilai 87. Bukan karena saya pintar, tapi mungkin karena ketika ujian berlangsung saya terus ditanya dan dicolek-colek oleh seorang Ibu guru sepuh yang duduk di samping saya dan tidak bisa mengoperasikan komputer. Mungkin doa ikhlas beliau yang pada akhirnya mengantar saya menjadi peserta PLPG gelombang satu, Oktober 2016, .

Singkatnya, pagi hari tanggal 10 Oktober 2016, saya sudah berada di Graha Insan Cinta di Depok. Suasana sudah cukup ramai. Panitia juga telah membuka tempat daftar ulang dan lapor diri. Berdasarkan absen dari daftar lapor diri, disusunlah menjadi satu kamar yang berisi sepuluh orang. Saya sekamar dengan empat orang guru matematika dan enam orang sisanya adalah guru Bahasa Indonesia. Lagi-lagi saya jadi anak bawang, alias termuda di kamar itu.

Kondisi kamar serupa dengan barak, malah lebih seram karena kamar dipenuhi dengan 5 ranjang bunkbed yang hampir karatan. Kami bersepuluh segera mengambil posisi menempati kasur pilihan. Kamar itu akan menjadi rumah kami selama sepuluh hari.



Selama PLPG berlangsung, saya beraktivitas di sebuah ruangan bersama tiga puluh orang guru Bahasa Indonesia lainnya. Materi paling pagi dimulai pukul tujuh hingga pukul enam sore. Sebenarnya dalam koper saya terdapat sebuah celana olahraga dan running shoes yang pada akhirnya hingga PLPG selesai tidak pernah dipakai akibat kegiatan pagi saya dan teman-teman sekamar adalah mengundi siapa yang berhak mandi lebih dahulu.

Peserta PLPG di kelas saya hampir sebagian besar berasal dari Provinsi Banten. Banyak hal yang saya jadikan pelajaran sekaligus refleksi diri sebagai guru dari mereka yang tentu saja usianya di atas saya dan punya pengalaman belasan tahun hingga puluhan tahun mengajar.



Hari demi hari berlalu hingga memasuki hari kesembilan. Rangkaian tugas pun rampung dikerjakan. Kondisi tidur yang mencapai dini hari akibat mengerjakan tugas pun berhasil dilampaui.

Saya benar-benar merasa bersyukur karena di sore hari kesembilan saya sudah boleh pulang karena peserta PLPG yang memiliki nilai UKG di atas 80 sudah dinyatakan lulus serta tidak perlu mengikuti UTN. Bagaikan peserta yang tereliminasi, saya menyeret koper keluar dari Graha Insan Cita disertai lambaian perpisahan dari teman-teman peserta yang sudah seperti keluarga selama sembilan hari.





Refleksi saya selama PLPG pun saya tuliskan dalam paragraf sederhana sebagai berikut:

Jangan pernah berhenti belajar, sebab pelajaran bisa datang dari hal kecil bahkan sepele sekalipun. Mengerjakan semua sendiri tanpa minta bantuan orang lain kecuali memang benar-benar tidak bisa. Bekerja sama dan mendengar adalah kunci penting dalam komunikasi. Dan betapa pentingnya belajar teknologi yang terus berkembang.

Mengapa teknologi jadi salah satu refleksi? Karena hampir setengah peserta PLPG tidak paham cara menggunakan komputer/laptop. Tidak bisa mengoperasikan Microsoft words walau fungsi yang sederhana sekalipun. Tidak mampu memindahkan artikel hasil googling ke dalam bentuk teks Microsoft Words. Saya yang memendam pertanyaan pun akhirnya nekad bertanya.

kok, Ibu tidak bisa memindahkan artikel hasil google ke words? Ibu kalau buat soal bagaimana?  tanya saya sambil membantu menyalin artikel yang Ibu itu inginkan

Dengan santai seraya menggenggam I-phone versi terbaru, ia menjawab “Kalau saya mah nyuruh TU (Tata Usaha) sekolah yang bikin.”

Jawaban itu membuat saya tersenyum kaku sambil menyerahkan flashdisk si Ibu yang berkapasitas 32GB tapi tidak ada isinya.

#30DWCjilid5
#30Dayswritingchallenge
#30DWCday2

You Might Also Like

1 comments

  1. Ayo berantas gaptek! Dengan mengajari mengoperasikan, bukan dengan mengerjakan tugas beliau2 ini! 😄

    BalasHapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images