By The River Malacca, I stand Up and Smile

22.34


Tulisan ini merupakan bagian ketiga dari wisata Malaysia-Singapore dari kantor. Catatan perjalanan ini ditulis untuk memenuhi tantangan #30DaysWritingChallenge dengan tema "Awal". Sesi sebelumnya saya selalu menulis tantangan dengan ragam fiksi, kali ini saya memberanikan diri menjawab tantangan dengan menulis non fiksi. Bagaimana saya menghadirkan tema di cerita nyata tanpa kesan memaksakan dan cerita mengalir tanpa ada yang janggal. Judul tulisan ini saya adaptasi kebalikan dari karya Paulo Coelho By The River Piedra I Sat Down and Wept

Dutch Square
Mengawali pagi pertama rombongan kami di Malaka di area Dutch Square. Area yang memiliki bangunan dengan dominasi warna merah bata ini memiliki sebuah gereja dan air mancur Queen Victoria. Entah mengapa menurut saya Dutch Square ini sangat fotogenic hingga siapapun yang berfoto di sana niscaya akan terlihat lebih rupawan.





Karena sakit perut, saya segera meninggalkan area Dutch Square mencari toilet. Dan ternyata toiletnya super jauh, di pinggir sungai Malaka di jajaran kafe-kafe cantik berdinding bata merah, toilet berlokasi.





Sejak awal saya melihat sungai Malaka bulan Desember tahun lalu, saya sudah jatuh cinta luar biasa. Biru jernih warna sungai seolah cerminan awan, tempat melepas keresahan, begitulah kira-kira. Tak mungkin rasanya saya tak mengabadikan momen ini, karena saya tak tahu kapan akan datang ke kota dengan sungai secantik sungai Malaka.

Dataran Pahlawan
Dari Dutch Square, kita bisa berjalan kaki menikmati bangunan-bangunan kuno bersaput warna merah marun yang cantik. Akibat saya kelamaan di toilet dan terlalu bersungguh-sungguh menikmati panorama sungai Malaka, saya pun tertinggal oleh rombongan yang sedang menuju pusat perbelanjaan dekat Dutch Square, yaitu Dataran Pahlawan.

Sejak awal berangkat, memang saya tidak berniat belanja. Namun sayang niat tinggal niat. Di bagian depan pintu masuk Dataran Pahlawan, Brands Factory outlet dan di seberangnya ada toko Paddini yang memang merupakan kumpulan beberapa merk asli Malaysia seperti Vinci dan lainnya. Diskon gila-gilaan membuat saya tak tahan. Belanja dengan kalap kemudian berakhir dengan duduk kelelahan di panggung utama, tepat di area tengah pusat perbelanjaan ini. Suasana natal begitu terasa dengan hiasan rusa-rusa dan pohon natal di sekeliling mall Dataran Pahlawan



Johor Premium Outlet
Pukul tiga sore kami sudah harus meninggalkan Malaka menuju Johor Baru. Perjalanan akan berdurasi sepanjang empat jam. Kami semua tertidur kelelahan hingga malam tiba dan bus yang membawa rombongan kami sudah memasuki kota Johor Baru.

Salah satu daya tarik kota di semenanjung Malaysia yang berbatasan langsung dengan Singapore ini adalah pusat perbelanjaan khusus barang bermerk yang konon dijual dengan harga murah.

Johor Premium Outlet memiliki puluhan tenant dengan merk ternama, dari Coach hingga Burberry. Saya bukan seorang yang shopping minded namun kalau ada diskon ya boleh lah belanja sedikit. Bulan bersinar terang, bulan baru, awal Desember 2016, menemani saya yang duduk sambil mengopi menunggu teman-teman usai berbelanja.

Malam ini kami menginap di Johor. Jam dua belas malam, saya menyeduh secangkir teh daun sirsak sebelum tidur dan mematikan lampu kamar.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images