Jakarta Suatu Ketika

22.15


Kawan saya Nana baru saja membeli alat pengukur langkah yang dikenakan di pergelangan tangan. Untuk menjajal alat tersebut sekaligus berolah raga untuk kami bertiga yang pemalas ini, akhirnya kami memutuskan berjalan keliling kota tua menggunakan bus Trans Jakarta. Kami ingin melakukan jargon yang sering diucapkan oleh Indie Barens “sepuluh ribu langkah dalam sehari.”

and the adventure begin ..

Gang Gloria
Kami turun di halte busway Glodok dan memulai perjalanan menuju Gang Gloria. Udara panas menyergap. Kami lewati jalan-jalan kecil yang tentu lebih teduh dan mampu memayungi kami dari teriknya matahari tengah hari. Ternyata di ujung jalan kecil itu terdapat klenteng. Kami pun berkunjung sejenak.

Keluar dari Klenteng, kami berjalan lurus melewati pasar menuju Gang Gloria. Setibanya di Gang Gloria betapa kecewanya kami melihat penuhnya Kopi Takie. Bunyi laparnya perut memaksa kami mengganti rencana. Kami pun berjalan lurus menyusuri Gang Gloria sampai bagian paling ujung.

Di sana terdapat tempat makan yang terdiri dari beberapa penjaja makanan plus barisan tempat duduk yang nyaman layaknya Foodcourt di sebuah pusat perbelanjaan. Ada cakwe, Gado-gado, Kari Lam, Mi kangkung, Kopi aceh Gayo dan lainnya. Kami duduk di tengah-tengah agar lebih mudah memesan makanan.


Siang itu Cakwe, Kopi Gayo, Kari ayam dan Mi kangkung kami nikmati bersama. Suasana cukup sejuk, beberapa kali angin berhembus meneduhkan suasana. Usai makan, kami berencana menuju area Monas untuk naik bus tingkat berkeliling Jakarta.
  
Trans Jakarta Bus
Sebuah bus Trans Jakarta berwarna pink begitu mencolok mata. Kami bertiga naik dan menikmati sejuknya pendingin udara di dalam bus. Dari area tengah kami menuju bagian belakang bus yang memang masih kosong. Baru kami sadari ternyata penumpang bus ini semuanya wanita dan memang bus pink ini khusus untuk wanita. Turun di halte Monas dan kami menyeberang untuk menunggu bus tingkat di depan Museum gajah. Antrian sudah sangat panjang, didominasi oleh keluarga muda dengan anak-anak mereka yang masih imut-imut. Keberadaan kami bertiga di tengah-tengah mereka sudah seperti alien saja.

area tengah bus pink khusus wanita

akhirnya dapat duduk di barisan belakang

Museum Nasional berada di belakang kami

Satu persatu bus tingkat melaju. Bus nya bagus-bagus dengan warna merah yang cantik sekali, tentu saja kami tak lupa ber-swapoto dengan bus tersebut. Antrian tak jua berkurang, namun posisi kami sudah lebih maju. Saya berencana mengajak Henny dan Nana makan es krim Ragusa, dan kami akan turun di Masjid Istiqlal nanti.

Enjoy Jakarta ...
Singkat cerita kami sudah berada dalam bus tingkat Trans Jakarta. Bus melaju membelah jalan Harmoni menuju Kota Tua. Ternyata bus tingkat punya banyak rute, bukan memutari area Monas dan jalan Merdeka seperti dahulu. Kami akhirnya berniat tetap naik bus itu sampai ke titik tadi kami naik, namun sayang ternyata Kota Tua menjadi pemberhentian terakhir, semua penumpang harus turun, jika ingin naik harus mengantri di dekat Stasiun Kota.

Kafe Batavia
Udara panas di kota tua seolah memanggang kami. Kawasan Kota Tua saat akhir pekan juga ramainya bukan main. Akhirnya dengan sedikit perdebatan kecil, kami pun masuk Kafe Batavia yang berarti harus merogoh kocek lebih dalam.

menunggu disiapkan kursi

Ini pertama kalinya saya masuk ke Kafe Batavia. Suasananya sejuk, kami mendapat tempat di lantai dua, di sisi jendela yang menghadp ke arah Museum Fatahillah. Nuansa Belanda sangat kental di dalam kafe ini, belum lagi pengunjung kafe yang memang didominasi oleh turis asing dan lagu-lagu yang diputar lagu-lagu Belanda juga. Saya jadi mambayangkan menjadi nona Belanda dengan gaun lace plus payung putih dan minum teh di sisi jendela.




Soal makanan, sebenarnya standar. Kami yang memesan salad dan bitterbalen pun bisa dikatakan tidak kenyang. Kafe Batavia ini memang sangat cantik untuk berfoto-foto tapi tidak untuk makan, menurut saya. Dinding yang berhias poster artis, lampu Kristal yang klasik hingga toilet yang juga klasik membuat saya senang berada di sana.




Hore … Sepuluh Ribu Langkah



Kami berjalan di area Museum fatahillah menuju Stasiun Kota. Antrian yang cukup panjang untuk naik bus Trans Jakarta membuat kami urung. Akhirnya kami memesan Grab Car menuju Grand Indonesia. Cukup lama kami berputar-putar di Grand Indonesia dan saat itu kami sudah melakukan sembilan dua ratus langkah. Malam sudah makin melarut, jam delapan kami keluar dari Grand Indonesia.

Kami berniat berjalan kaki menuju halte Trans Jakarta terdekat. Karena pembangunan, halte trans Jakarta di depan gedung UOB sudah tidak ada, saya lupa. Kami pun memutuskan jalan kaki menuju halte berikutnya yaitu di Sarinah.

Menyusuri trotoar sepanjang jalan M.H Thamrin yang benderang karena lampu-lampu hias. Betapa sepi dan gemerlapnya Jakarta malam itu, selama ini tidak pernah memperhatikan. Di bawah kaki kami, terdengar deru mesin-mesin membangun jalur kereta bawah tanah, semoga lekas selesai. 

kusut dan kucel



Jam pengukur langkah tepat menunjukkan angka sepuluh ribu saat kami menginjak tangga terakhir di halte Trans Jakarta, Sarinah. Tak sangka kami mampu melangkah sesuai target dan akhirnya duduk kelelahan di dalam bus yang membelah Jakarta. 

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images