Merlion At Night

22.54


Henderson Waves
Dari puncaknya Faber Park kami berjalan menuruni jalan setapak. Cukup lama juga kami jalan menuruni jalan setapak ditambah beban carierl yang menggantung di pundak. Saat sampai di depan Henderson waves kami terpana. Jembatan megah yang didominasi undur kayu dengan beberapa lekukan serupa ombak ini betul-betul bagus.






Seperti biasa kami selalu berfoto aneka pose hingga bosan. Karena takut mencoba jalur lain, kami turun menggunakan jalur tadi kami naik. Tujuan selanjutya adalah Vivo Mall. Bayangkan kami masuk Vivo dengan tas besar-besar. Makan siang di Food Republic dengan menu Karena takut mencoba jalur lain, kami turun menggunakan jalur tadi kami naik. Tujuan selanjutya adalah Vivo Mall. Bayangkan kami masuk Vivo dengan tas besar-besar. Makan siang di Food Republic dengan menu Yong Tau Fu yang hanya 3$ namun bisa dapat 7 jenis bakso atau sayur yang halal dan gratis mie pula. Usai makan kami berkeliling Vivo dan ke bagian atas menuju Daisoo, saya tak ikut belanja, duduk di luar sambil membuka sepatu.










Dari Vivo kami naik MRT menuju stasiun Aljunied, kami menginap di Geylang, hotel Bright Star di lorong 17. Dari stasiun Aljunied hanya menyebrang dan berjalan lurus. Hotelnya cukup bersih dan murah. Istirahat dan mandi kemudian kami keluar pukul 6 sore yang masih terang benderang.



Merlion, Jubilee Bridge and Helix Bridge
Menggunakan MRT kami turun di stasiun Rafles Place, lalu berjalan keluar menuju Battery Road. Di pinggir sungai banyak sekali yang berolahraga dan jogging. Senja yang turun di sepanjang jalan menuju Fullerton Hotel sangat cantik. Baru kali ini saya menikmati eksotika senja Singapore.



Menyusuri jalan sepanjang Fullerton untuk kemudian menyebrang ke patung Merlion. Suasana malam dengan gemerlap lampu sangatlah mempesona. Tak lupa kami mampir-mapir ke Starbucks Boat House untuk rehat sejenak karena rencana selanjutnya kami akan berjalan menuju Helix Bridge yang penampakannya seperti anatomi DNA manusia. Jalur menuju ke sana cukup jauh jika ditempuh jalan kaki.









Kami melintasi Jubilee Bridge menuju Esplanade (gedung Durian). Perjalanan menuju Helix Bridge masih cukup panjang dari Esplanade. Hampir setengah jam lebih berjalan akhirnya kami tiba di bagian depan jembatan.

Seorang penjual es krim khas Singapura berjualan tepat di pintu masuk Helix Bridge yang tentu saja diserbu banyak pembeli. Kini harganya 1,2 $, malam itu saya membeli es krim jagung yang ternyata enak juga.





Melintasi Helix Bridge yang cahayanya bernuansa ungu membuat kami terkagum-kagum. Di ujung jembatan kami masuk ke sabuah pusat perbelanjaan. Kami meluruskan kaki sambil menikmati makan malam. Tepat pukul sepuluh malam kami kembali ke hotel menggunakan MRT. Memang saya sangat mengagumi kecanggihan transportasi di Singapura ini terutama MRT nya, berharap proyek MRT di Indonesia dapat segera rampung. Kami menutup malam ini dengan mengistirahatkan kaki yang sudah bertugas begitu berat hari ini, dari mendaki bukit hingga berjalan dengan rute yang cukup jauh. Sebelum tidur, aroma balsam menguar di seantero kamar kami. Khas Indonesia sekali bukan?

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images