Opera Ikan Asin - Teater Koma

21.53


Teater koma pentas lagi, saya dapat pemberitahuan lewat sms, whatsapp hingga e-mail mungkin karena nama saya ada di database mereka. Tak seperti sebelumnya, kali ini Teater Koma akan berpentas di Ciputra Artpreuner. Wah mahal nih tiketnya pikir saya. Akhirnya kami memesan tiket early bird kelas satu.


Di hari pementasan, kami sudah siap di Lotte Avenue dari sore hari supaya tidak kena macet dan susah dapat parkir untuk si “Neng Mira”, Mitsubishi Mirage merah kesayangan Henny yang selama ini jadi kendaraan operasional kami. Supaya tampil “Indonesia” sekali kami pun sepakat memakai dress batik.

Sebelum pementasan dimulai, seperti biasa kami berfoto di Hall of Fame terlebih dahulu. Puluhan anak tangga dinaiki untuk mencapai tempat duduk kami di Ciputra Artpreuneur ini.



Opera Ikan Asin yang merupakan saduran dari The Threpenny Opera merupakan drama yang serius berdurasi cukup panjang. Temanya merupakan kritik pada penguasa (Komisaris Polisi) yang bersekongkol dengan penjahat kelas kakap. Sebuah lakon yang tak jauh berbeda dengan kenyataan.

Pentas 'Opera Ikan Asin' bercerita tentang Raja Bandit Batavia, Mekhit alias Mat Piso yang berkehendak menikahi Poli Picum, putri Natasasmita Picum, seorang juragan pengemis se-Batavia. Picum tidak bisa menerimanya. Ia lalu menghadap Kartamarma, asisten kepala Polisi Batavia dan mengancam akan melakukan aksi dengan membawa serta para pengemis untuk mengacaukan upacara penobatan Gubernur Jendral yang baru. Kartamarma di sisi lain adalah sahabat Raja Bandit Mekhit. Pada akhirnya, meski Mekhit ditangkap, ia kemudian dilepas berkat surat keputusan Gubernur. 

Sumber: http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20170223172856-241-195736/cinta-raja-bandit-pengemis-di-opera-ikan-asin-teater-koma/


Rangga Riantiarno yang berperan sebagai Mekhi si Mat Piso berakting begitu apik. Seperti biasa, ia adalah aktor favorit saya. Meski naskah ini begitu serius, ada beberapa adegan yang cukup menggelitik penonton. Pementasan garapan teater Koma selalu didukunng oleh artistik yang luar biasa dan tata musik yang memukau. Meski pementasan berdurasi lebih dari dua jam namun karena begitu memukau, semua teraasa begitu mengalir.

dengan Amalia Picum 
Nyonya Picum

Lusi Kartamarma, prajurit dan pendeta

Yaaay ... Rangga Riantiarno

Usai pementasan, para penonton diperbolehkan berfoto dengan para aktor. Tak menyia-nyiakan kesempatan, kami bertiga pun berfoto. Saya masih percaya bahwa ke depannya teater di Indonesia masih punya tempat di hati penggemarnya. Menunggu karya-karya Teater Koma selanjutnya yang pasti selalu memukau

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images