The Other Side Of Singapore

23.27


Selama ini Singapura hanya dikenal sebagai kota metropolitan lengkap dengan gedung tinggi yang canggih. Singapura juga dikenal sebagai tempat belanja termahsyur. Namun trip saya di awal Januari 2017 ini membidik sisi lain dari Singapura. Ternyata kegiatan naik gunung, atau naik bukit tepatnya bisa dilakukan di kota semodern Singapura.


Persiapan Backpacker


Berangkat
  
Night in airport

Waiting Room at Soekarno Hatta Airport
Off We Go
Kami berempat berangkat menuju Singapura pukul sembilan malam dengan maskapai Jetstar. Ini pertama kalinya saya naik Jetstar dan cukup baik juga palayanan maskapai asal Australia ini. Urusan imigrasi selesai saat waktu menunjukan pukul setengah satu dini hari. Malam itu kami memang sudah berniat tidur di Bandara Changi.

Free Internet in Changi
Kami mengantongi berbagai informasi dari internet tentang beberapa spot di Bandara Changi yang biasa digunakan oleh backpacker untuk bermalam. Namun kondisi sungguh berbeda, renovasi di Changi Airport melenyapkan spot-spot tersebut. Kami segera naik menuju counter check in di sana banyak backpacker yang tidur dengan posisi duduk. Hampir seluruh kursi terisi. Kami berjalan ke area paling ujung yang sepi, kemudian menggelar kain Bali serta perlengkapan tidur. Sulit sekali memejamkan mata, padahal posisi kamu cukup aman dan tidak banyak dilewati orang lain. Lokasi kami dekat toilet serta tangga menuju kantin karyawan Changi Airport yang terkenal murah.


tidur beralaskan kain Bali


deretan counter Check in
Pagi harinya, kami mandi saat kondisi counter-counter check in belum begitu ramai, saat akan berfoto di depan rain droplet yang digerakkan secara mekanik dengan konfigurasi yang atraktif, kami baru sadar bahwa di depan droplet itu ada semacam karbet tebal yang dibentangkan dan banyak sekali backpacker mancanegara yang masih tertidur pulas di atasnya. Ya sudahlah belum rezeki kami, setidaknya kalau trip dan harus tidur di Bandara lagi kami sudah tahu harus kemana.

Raindroplets
area tidur backpacker tepat di berhadapan dengan raindroplet




Marang Trail
Dengan MRT paling pagi kami menuju Harbor front dan keluar di stasiun  Marang Trail. Suasana sangat sejuk saat kami keluar dari pintu stasiun. Ini pertama kalinya saya melihat perbukitan di Singapura. Kami duduk menikmati biskuit sebelum berjalan menuju pintu pendakian.

Lets Start
Jalur pendakian
mari mendaki bukit
Segarnya hembusan angin, kicauan burung-burung, teduhnya dedaunan dan pohon rimbun menyajikan sisi lain dari Singapura. Ratusan anak tangga harus ditempuh untuk mencapai puncak. Dari tangga batu, tangga kayu hingga tangga besi menuju akhir jalur pendakian.

satu demi satu anak tangga


tangga terakhir menuju puncak bukit


Puncaknya Mount Faber


menatap modernnya Singapura dari atas bukit




Lelah peluh seolah terbayarkan ketika kami berempat sampai puncak jalur pendakian Marang Trail. Pemandangan kota Singapura sangat jelas terlihat, sementara kabut dan sisa embun pun masih ada di sela-sela bebungaan. Betul-betul pengalaman baru dari Singapura yang patut dicoba.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images