Itukah Warisan Kita? Korupsi dan Hutang?

22.19


Warisan
Teater koma produksi 149









Itukah warisan kita? Korupsi dan hutang?

Tagline yang sangat provokatif ini tentu saja menjadi pemicu saya untuk segera memesan tiket pementasan Teater Koma dan betul saja, saat mengakses website pembelian tiket ternyata nyaris Sold Out.

Bertahun-tahun saya jadi fans berat teater Koma dan selalu berusaha untuk menyaksikan akting piawai yang mereka pentaskan. Kadang saya beruntung dapat tiket, kadang betul-betul tidak beruntung.

Produksi ke 149 ini dipentaskan dari tanggal 10-20 Agustus 2017 di Gedung Kesenian Jakarta, setelah beberapa bulan sebelumnya naskah Opera Ikan Asin dipentaskan di Ciputra Artpreuneur. Mengantongi tiket kelas 3, saya dan kawan duduk di balkon yang posisinya tepat menghadap panggung.




Seperti biasa, selalu hadir di gedung minimal setengah jam sebelum waktu pertunjukan. Namun karena hari sabtu ini cukup lengang, pukul 18.30 saya sudah tiba, sementara pertunjukan akan dimulai pukul 19.30. Kami berfoto di red carpet dan menulis pesan-pesan.






Tepat pukul 19.30 pentas dimulai, pentas dibuka dengan jajaran aktor yang sedang bersenam Tai Chi berlatarkan suasana Panti Jompo yang mewah. Lakon garapan Dramawan ternama, N. Riantiarno ini berdurasi dua jam lebih.




Lakon Warisan bercerita tentang sebuah Panti Jompo yang awal berdirinya untuk tujuan sosial. Manula yang datang dengan berbagai latar belakang diterima, ditampung dan dirawat dengan baik. Namun bertahun-tahun kemudian, Panti Jompo mulai menampung orang kaya yang mau membayar mahal saja. Kemudian dibangunlah tembok yang memisahkan sekaligus menjadi jurang sosial antara si kaya dan si miskin.

Layaknya pementasan teater Koma yang sebelumnya, satire serta kritik sosial sering hadir dalam dialog tokoh-tokohnya. Lewat tokoh Munan (diperankan oleh Budi Ros) sering berteriak “Jangan diterima itu uang Korupsi. Jangan Korupsi.” Karena kekecewaannya pada putra sulungnya yang ternyata melakukan tindak pidana korupsi.





Kritik sosial lainnya hadir dalam dialog dua sahabat Sakiro (diperankan oleh Sir Ilham Jambak) dan Subrat (diperankan oleh Bayu Dharmawan). Dua sahabat ini suka sekali membicarakan partai politik, korupsi dan hutang di Negara Hindanisasa (yang kondisinya persis Negara kita).

Sebagai penikmat pementasan Teater Koma, saya merasa ada satu bumbu yang hilang dalam pertunjukan kali ini. Biasanya setiap pentas selalu disisipi lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para aktor, tetapi tidak kali ini. Hingga pentas berakhir tak satupun lagu terdengar dinyanyikan. Walau bagaimanapun tetap pentas ini juara. Tata pentas dan artistiknya tetap yang terbaik.






Satu hal lagi yang mencuri perhatian saya adalah cerita dibalik proses pementasan yang tertera di dalam booklet. Eksplorasi karakter dibahas dengan begitu menarik, bagaimana Daisy Lantang menghidupkan tokoh Dahlia Soenarjo, yang saat pementasan hobi sekali bermain mahjong bertiga. Di tulisan tersebut, penokohan Dahlia begitu kuat disertai dengan sejarah keluarga dan pendidikan serta  bagaimana interaksinya di rumah jompo itu. Penguatan karakter seperti ini, meski terdengar cenderung seperti mengarang sebetulnya membantu aktor memahami peran dan bisa hadir sebagai tokoh dalam peran itu (bukan lagi dirinya sendiri) di atas panggung. Tero seperti ini pernah saya pelajari semasa aktif di UKM Lakon teater UPI Bandung serta ada dalam serial komik Topeng Kaca.


Sebagai penutup saya mengucapkan selamat untuk Teater Koma yang konsisten menghidupkan dunia drama di Indonesia. Maju terus Teater Indonesia. Salam Budaya!!!

You Might Also Like

3 comments

  1. Jenangnya mana mba??
    Kl jenang sm dodol apa bedanya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Slah link komen wkwkw..
      ajak2 mba kl nonton drama

      Hapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images