Manisnya Kenangan di Kota Jenang

22.43


Apa yang tergambar dalam benak kita jika mendengar kota Kudus? Mungkin jenang, rokok, serta menara masjid Kudus adalah tiga kata yang mendeksripsikan kota kecil di Jawa Tengah ini. Terdorong rasa penasaran, ketika informasi trip Eksplore Kudus dari Backpacker Jakarta saya terima maka tanpa pikir panjang saya segera mendaftar.


Lentog, Welcoming Food ala Kudus
Pukul sembilan pagi, bus yang mengangkut rombongan kami telah memasuki pintu gerbang Kota Kudus. Lelah perjalanan selama 12 jam dari semalam seolah terbayarkan saat bus merapat di area parkir kompleks rumah makan Tanjung Karang yang menjual lentog. Terdapat belasan toko kecil yang semuanya menjajakan lentog.




Lentog merupakan sajian lontong yang diguyur kuah gudeg serta opor tahu tempe, jika suka pedas bisa menambahkan bebrapa sendok sambal. Sebagai pelengkap ada sate telur puyuh dan kerupuk kulit. Seporsi lentog lengkap dihargai sebesar empat ribu rupiah, murah dan mengenyangkan.

River Tubbing Menjelma Menjadi Tracking
Kekeringan panjang terlebih selama dua bulan terakhir membuat pemilik river tubbing tak mampu memfasilitasi rombongan kami. Akhirnya tujuan berpindah menuju Curug Petung.


Pendaki lawas yang was-was bahagia naik bukit

Dengan tekad mandi ala tujuh Bidadari, rombongan kami yang dipimpin oleh Kakoi berjalan menembus jalan setapak turun naik perbukitan menuju air terjun. Bagi pendaki lawas macam saya yang sudah lama sekali “gantung carrierl” kondisi jalur mendekati air terjun yang merupakan bebatuan, cukup bikin grogi.

berjalan selama hampir 45 menit membawa langkah kami di depan air terjun yang airnya benar-benar sedikit. Kolam kecil di bawah air terjun pun hanya berair sedikit. Kecewa tak jadi mandi di bawah guyuran air terjun akhirnya diobati dengan minum air terjun langsung. Rasanya segar dan ada manis sedikit, the real Le Minerale pikir saya.




Akhirnya acara mandi -yang memang sudah harus segera dilakukan karena badan kami yang semalaman hingga sore ini belum tersentuh air harus segera dibasuh- berpindah menuju pemandian komersil yang punya spot foto love.

Indahnya Sunset di Bukit Lawangan
Usai mandi, kami lanjut menuju destinasi berikutnya yaitu Bukit Lawangan. Tiga angkot yang dicharter untuk mengantar kami keliling Kudus nampak mengerahkan tenaganya melewati jalan berliku menuju Bukit Lawangan.

Menuju puncak Bukit Lawangan kami harus berjalan mendaki, kalaupun ingin santai maka Ojeg adalah pilihan yang tepat. Dengan tarif lima belas ribu rupiah, Mas Ojeg akan mengantar hingga Menara Awan di puncaknya Bukit Lawangan.

Saat itu sudah pukul lima sore, dua puluh enam orang berjalan bersama menyusuri jalan setapak mendaki menuju puncak Bukit. Seperti biasa, dekatnya orang Jawa selalu bikin kecele. Perjalanan yang menurut mereka sekitar 15 menit itu berubah menjadi 45 menit di langkah kaki saya.

Lelah, dan rasa senut-senut di kaki seolah terbayar saat sunset menyapa di puncak Bukit Lawangan. Angin begitu kencang bertiup, suasana haru yang susah saya jelaskan. Di usia saat ini yang sudah 30 sekian, jarang olahraga namun tekad baja mampu mengantarkan saya dua kali tracking yang katanya jadi inspirasi peserta rombongan yang masih muda dan lebih singset dari saya untuk tetap melanjutkan pendakian.





sunset bukit Lawangan

There’s nothing comfort me more than words that someone feel inspired by my existence




Museum Jenang Mubarok
Kalau selama ini kesan museum sunyi, sepi, dingin, dan kelam tiba-tiba terbantahka di Kudus. Konsep museum yang dihadirkan oleh produsen Jenang, Mubarok sungguh berbeda. Museum bisa hadir kekinian, bertempat di lantai dua sebuah toko oleh-oleh terbesar di Kota Kudus.



Museum yang mengisahkan tentang generasi penerus usaha jenang ini ditata begitu apik dengan menambahkan miniatur menara Kudus. Yang menarik perhatian adalah foto keluarga pemilik brand Jenang Mubarok ini dengan busana tradisional Kudus, saya pribadi baru melihat keunikan busana tradisional Kudus yang memasang hiasan di atas kepala wanita dengan bentuk seperti tampah. Unik dan sangat khas.

Kuliner Malam di Taman Bojana
Area kuliner yang terkenal di Kota Kudus adalah Taman Bojana. Letaknya persis di seberang alun-alun dan supermarket terbesar di Kudus. Saat tiba di sana, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Taman Bojana serupa pasar tradisional dengan banyak los-los penjaja makanan, hampir sebagian besar menjajakan soto Kudus yang terkenal dengan porsi imutnya. Tak banyak pilihan karena memang sebagian besar los sudah tutup.




Malam itu saya menikmati soto kerbau di kedai soto Ibu Noor’in. Soto hangat dengan limpahan daging kerbau berhias taburan bawang putih goreng menghilangkan keletihan hari ini. Usai makan, saya menghampiri Julia dan Miftah yang makan di Kedai Soto sebelah, sambil ngobrol kami mencicipi sate jeroan ayam yang seperti dijual di tukang bubur ayam. Saat membayar betapa terkejutnya kami bahwa sate jeroan ayam yang di Jakarta dijual paling mahal tiga ribu rupiah, di Kudus ini setusuk sepuluh ribu rupiah. Saya melihat Julia dengan berat hati melepaskan 3 lembar uang ungu untuk sate yang sama sekali tak mengenyangkan itu. Kami berdua kapok seketika hahhahaa …

saat di luar, teman-teman sudah menunggu kami untuk menuju destinasi selanjutnya dan meninggalkan Taman Bojana.

Doa di Masjid Kudus
Ada rasa haru nan mistis menyelinap di hati saya saat langkah merapat di Menara Kudus. Temaram lampu di depan Menara dan masjid makin memberi kesan dalam. Setelah berfoto di depan Menara, saya dan beberapa teman menunaikan sholat Isya di Masjid Kudus. Bagian dalam masjid yang dikunci membuat kami harus sholat di selasar luar. Uniknya, di selasar luar masjid terdapat gapura kuno yang terbuat dari bata merah dilengkapi pintu yang kuno pula.



Usai sholat, kami segera keluar berniat ziarah di makam Sunan. Tak banyak teman yang mau ikut berziarah, kami hanya berempat memasuki pelataran makam Sunan Kudus. Bulu kuduk saya meremang, saat itu sudah menjelang pukul 11 malam. Menuju makam Sunan, kami harus melewati makam keluarga kerajaan.

Hati saya semakin dag dig dug antara khawatir, takut juga semangat. Langkah terhenti, tenggorokan tercekat saat di hadapan saya tersaji sebuah makam besar diselimuti tudung putih, ada beberapa orang yang sedang berdoa di pusara itu. Kami berempat hanya membaca Alfatihah dan segera meninggalkan kompleks pemakaman. 





Menginap di Rumah Simbah
Namanya saja backpacker, dari jauh-jauh hari kami diingatkan untuk membawa sleeping bag karena kami tak akan bermalam di penginapan cantik. Pukul 12 malam, kami tiba di sebuah desa yang sangat asri. Setelah berjalan sejauh 200 meter dari parkir bus, rumah tempat menginap terlihat. Kami semua menginap di rumah Mbahnya Melissa. Saya suka sekali dengan konsep trip ini, walau bagaimanapun menginap di rumah penduduk asli jauh lebih menyenangkan daripada di hotel mewah. Kami semua yang kelelahan segera menggelar sleeping bag bahkan 3 orang hammocking di luar menikmati langit malam penuh bintang di kota Kudus.

Saya memejamkan mata, lelah seharian ini mendadak tracking namun bangga dan bahagia. Tak sabar menunggu acara esok pagi.

You Might Also Like

37 comments

  1. Julia yg dimaksud itu Julia dari RT 1 bukan ya? Kalo iya, dia emang jago nanjak.

    BalasHapus
  2. Catatan perjalanannya seru bangeeet... sayang fotonya kurang banyak nih kak. Sama penjelasan Jenangnya juga ga ada. Aku kan ga tau Jenang itu apa. Hehe...
    Sate jeroan 10ribu???? Mahal amaaaat...

    BalasHapus
    Balasan
    1. tp tertarik dg pembahasan lentognya sepertinya enaaak

      Hapus
  3. Wah, mantap mbak. Sukses dgn travellingnya. Tanya-tanya harga dulu kalo mau makan hahaha...

    BalasHapus
  4. Saya belum pernah ke kudus.. cukup membantu informasi dengan kudusnya mbaa.. informatif banget mba...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga belum pernah mbak. Thanks for the info...

      Hapus
  5. Duh jadi pengen nyoba lentog nya, seru banget perjalanannya mba yunita

    BalasHapus
  6. Jenangnya mana mba??
    Kl jenang sm dodol apa bedanya?

    BalasHapus
  7. Lentog, baru dengar nama makanan ini, hehe
    tapi dari dedkripsinya kayak enak banget, disiram kuah gudeg, opor, tahu, tempe, dan cuma 4 ribu! Wow!

    BalasHapus
  8. Ternyata kudus itu kota jenang.. baru tau ni

    BalasHapus
  9. Serunya kak jalan² di Kudus. Lentognya bikin pengen hehe

    BalasHapus
  10. Wahhh. Soto kudus wenakk. Kapan lg bpj buka trip ke kudus nih

    BalasHapus
  11. wah belum pernah ke Kudus
    seru banget kak cerita perjalanannya!

    BalasHapus
  12. Wah seru,
    aku harus mencoba sendiri sepertinya.

    BalasHapus
  13. Jenang itu agak mirip sama dodol. Hanya dari bahan-bahan dan pembuatannya yanh beda-beda sedikit. Suka banget sama Jenang alias dodol merek Mubarok yang sudah banyak varian rasa.
    Mantappp!
    Oleh-oleh dari Kudus yang udah ngehitz! ������

    BalasHapus
  14. Wah ternyata banyak sekali yang bisa dieksplorasi di Kudus. Sayangnya, hanya pernah singgah dinas kerja ke sana.

    BalasHapus
  15. Yeaiii..nemu satu rekomendasi lagi buat hunting sunset. Thank you, Mbak! Keep writing and inspiring yah :D

    BalasHapus
  16. Waaah aku baru tau jenang ada museumnya.. makasii infonya, ka ��

    BalasHapus
  17. sate jeroannya bikin salah fokus kak... giling mahal warbiasaaak ..

    BalasHapus
  18. Duuh, gw kepikiran Lentog, kayaknya enak banget, murah banget itu.. *salfok

    BalasHapus
  19. Cukup lama aq mondar mandir di kudus, tapi yang aq makan cuma soto kudus 😁😁😁 jadi penasaran sama lentog

    BalasHapus
  20. Dari awal baca udah ngiler sama lentognya.. apadah suka salah fokus aku nya

    BalasHapus
  21. Akhirnya ada informasi ttg Kudus selain terkenal dengan Kreteknya itu, jd kalo kmn2 tau tempat. Hahaha maacii kak!

    BalasHapus
  22. duh... makasih banyak sama info tentang Letognya.. kuliner memang salah satu tujuan utama saya mbak.. hehehehehe

    BalasHapus
  23. Belum pernah ke Kudus. Setelah baca ini jadi pengen ke Kudus suatu saat nanti. Nice kak :)

    BalasHapus
  24. Beneran baru denger itu Lentog...kl kiranya dijakarta ada yg jual, disamperin deh itu nyicipin....

    BalasHapus
  25. Gue pernah di bawain oleh oleh jeΓ±ang kudus yg rasa susu, rasanya lembut banget, ampe sekarang gue masih kebayang terus rasanya hehe

    BalasHapus
  26. Informatif banget kak tulisannya.. thanks ya!

    BalasHapus
  27. Lentog, saya coba ngebayangin makanan murah yg enak dan mengencangkan itu.
    Oh no.. air liur saya serasa menari-nari.

    BalasHapus
  28. Masjidnya keren ya ka. Suasana mistis mistis gmna gitu

    BalasHapus
  29. Situs makam kerajaannya bikin merinding ya mbak?? Soto kudusnya itu pasti enakkk bgt deh...

    BalasHapus
  30. gak berkunung ke klub bulutangkis djarum kudus?

    BalasHapus
  31. wow keren. jalan2 ke kudus ke tempat si mbah. foto mbahnya mana wkwkw.
    www.belajaronlineshop.com

    BalasHapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images