Nuansa Ramadhan di Bandung

21.17


Kembang-kembang di Kota Kembang


Kelopak Dua
Pergi berwisata di bulan puasa memang punya kelebihan serta kekurangan juga. Kelebihannya, tempat wisata tersebut pasti tidak begitu ramai hingga bisa berfoto dengan leluasa, sementara kekurangannya ya lapar dan haus tentu saja.


Hari kedua Ramadhan di Bandung, tujuan kami adalah Wisata Grafika Cikole. Kehadiran transportasi online di Bandung cukup memudahkan menuju tempat wisata yang terletak di Lembang ini. Tak bisa membayangkan kalau harus naik turun angkot menuju Lembang dari Braga

Suasana sejuk serta kesiur angin di antara dedaunan pinus menyambut langkah kami memasuki Grafika Cikole. Dengan membayar tiket masuk sebesar lima belas ribu rupiah kami sudah bisa menikmati taman wisata yang cukup luas ditambah welcome drink serta Photo sayangnya kedua fasilitas tersebut sedang tak bisa dinikmati.


rumah Hobbit


Pintu kemana saja

Jalan Masa Depan ... bersamanya



Taman yang dikenal dengan rumah Hobbit ini memiliki banyak spot foto yang menarik. Juga pemberian nama di papan jalan yang lucu-lucu dan unik. Mau menginap juga bisa di lokasi wisata ini. Ada villa yang lucu dan mungil untuk keluarga, kalaupun ingin lebih dekat dengan alam, wana wisata ini pun menyediakan tenda.




Wisata selanjutnya adalah Taman Begonia Lembang yang sedang ngehits. Hanya sepuluh menit dari Grafika menggunakan angkot Kuning. Dalam perjalanan menuju Pasar Lembang, saya sempat turun dan berfoto sebentar di Kafe I Love You. Kafe yang pernah populer semasa kuliah dulu. Teman saya dengan logat sunda yang lekoh menyebutnya “Kape Aylopyu”


Kafe I Love U

Suasana agak mendung ketika kami turun dari andong persis di depan taman Begonia. Yup benar-benar naik andong dari depan terminal Lembang. Kami naik berdua saja karena kasihan dengan kudanya dan membayar Rp 25.000.




Taman Begonia benar-benar dipenuhi bunga-bunga cantik bermekaran. Inilah wujud nyata dari lagu Kebunku yang sering kita nyanyikan semasa kecil. Harga tiket masuk yang hanya sebesar sepuluh ribu rupiah pun cukup pantas dengan taman secantik ini. Saat memasuki kebun bunga, pengunjung diberi fasilitas topi lebar ala petani bunga yang dapat mengamankan dari sengatan terik matahari.



topi ala Petani bunga

Aneka bunga dapat kita temui di kebun ini. Juga patung-patung serta tempat berfoto yang super duper instagramable. Hari semakin sore akhirnya membuat kami harus keluar area Taman Begonia untuk menuju Bandung bersiap untuk berbuka puasa bersama.

Mawar ...


Krisan




Rooftop Bar Takigawa
Senja merona begitu cantik di bukit Dago. Dari ketinggian lantai lima sebuah restoran, pemandangan kota Bandung tersaji begitu indah, hingga rasanya sayang sekali untuk sekedar mengerjapkan mata.





Saat adzan maghrib berkumandang, kami sedang merenung di antara pendar-pendar cahaya kota yang baru saja menyala bersamaan. Sudah lama sekali saya ingin sekedar mencicip rasanya makan di ketinggian Dago, pilihan kami jatuh ke Takigawa. Satu porsi sukiyaki kami nikmati bertiga, cukup menghangatkan suasana.


Langit Dago senja hari



Udara dingin makin lama makin menggigit, bergelas-gelas teh hangat yang free refill pun begitu cepat mejadi dingin. Usai makan, pukul tujuh malam kami segera turun menuju pusat kota. Saat itu beberapa distro asli Bandung yang toko-tokonya menyebar di jalan Dago sedang sale besar-besaran hingga jalan Dago begitu macet.

Untuk persiapan sahur malam ini, kami membeli gorengan ayam di salah satu warung tenda di Simpang Dago. Ingat dahulu saya suka sekali beli pepes nasi atau nasi bakar di tenda-tenda sepanjang simpang Dago. Ya sama siapa lagi kalau bukan sama dia … (tiba-tiba terdiam)

Malam ini menjadi malam terakhir kami menikmati Ramadhan tahun ini di Bandung. Esok kami akan kembali ke Jakarta. Suasana Bandung seperti ini yang akan selalu kami rindukan, sebagian dari masa muda pernah kami habiskan di kota kembang.





Keesokan harinya, kami keluar dari Braga jam sebelas siang. check in  di Stasiun kemudian berjalan keluar menuju toko kue sekitaran stasiun. Tas kami yang beranak pinak pun dititipkan di sebuah penitipan tas di dekat mushola Stasiun. cukup membantu bagi yang ingin membeli oleh-oleh khas Bandung tapi malas membawa tas. Pukul 12 siang kami sudah berada di dalam kereta Argo Parahyangan yang bergerak meninggalkan Bandung. Goodbye Bandung, Love you as always

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images