Ramadhan 2017 di Bandung

22.10


Kembang-kembang di Kota Kembang

Kelopak Pertama
Saya dan Dinda memang selalu teringat dan terpikat pada kota kembang, Bandung, kota sejuta kenangan. Tahun 2014, kami pernah menikmati suasana bulan puasa di Bandung. Makin syahdu lagi karena kami menginap di area Daarut Tauhid.



Tahun 2017 ini, kami berniat untuk sekali lagi merasakan suasana Ramadhan di Bandung. Braga menjadi tempat kami menginap Ramadhan ini, Kebetulan saya melihat di FB Bandoeng Tempo Doeloe akan ada perayaan 135 tahun jalan Braga. Seperti biasa, setiap jalan-jalan kami pasti punya tema, kali ini temanya “Kembang-kembang di Kota Kembang”. Seluruh barang bawaan kami harus bertema kembang

Stasiun Gambir, 18 Juni 2017 (seminggu menjelang lebaran) pagi hari. Penumpukan penumpang yang akan mudik sudah jelas terlihat. Antrian di mesin cetak tiket pun begitu panjang. Begitu tiket tercetak, kami segera antri masuk ke dalam area keberangkatan, sepuluh menit lagi kereta kami tiba.



di gerbang stasiun




Sesampainya di kursi tunggu, kami pun tak duduk manis melainkan berfoto di area ujung Stasiun Gambir. Persis seperti yang kami lakukan 3 tahun lalu, bedanya kami kini telah berhijab. Aneka macam foto kami abadikan, dari gaya benar sampai aneh bin ajaib hingga akhirnya sesi foto pun harus berakhir karena kereta menuju Bandung akan segera tiba.






Kereta berangkat tepat waktu. Gerbong ekonomi dengan tempat duduk baru yang nyaman. Ada televisi yang digantung di tengah gerbong membuat para penumpang bisa menyaksikan televisi. Lebih canggih lagi ketika kru kereta api berkeliling memeriksa tiket, mereka membawa tablet yang sudah berisi data penumpang untuk kemudian dicocokkan dengan yang duduk di kursinya masing-masing. Makin cinta dengan kereta api Indonesia jadinya.


interior kereta

Matahari sedang terik-teriknya saat kereta api yang kami tumpangi merapat di Stasiun Bandung. Stasiun ini makin rapi, bersih dan cantik. Setelah berfoto-foto sebentar kami pun keluar area Stasiun Menuju Braga.


Stasiun Bandung

Udara Ramadhan di Bandung yang terik tak mampu menghalangi niatan kami berfoto sepanjang jalan menuju Braga yang memang memiliki banyak spot foto unik. Hingga akhirnya langkah kami pun sampai ke dalam gedung Braga Citywalk. Setelah urusan check in beres, kami segera masuk kamar dan menjatuhkan tubuh (betul-betul menjatuhkan, untung kasurnya ga rusak) ke atas kasur.





Pukul empat sore, kawan kami Tia datang ke kamar. Ia yang memang penduduk Bandung sengaja ingin ikut bersama menghabiskan senja di Braga. Setelah sholat dan mandi, bertiga kami melangkahkan kaki menuju Braga Permai.

Di restoran klasik itulah acara ulang tahun jalan Braga sedang dirayakan. Sayangnya acara tersebut tidak terbuka untuk umum, dan dengan berat hati kami melangkah pergi. Braga senja hari memang cantik dan ciamik. Seluruh sudutnya seolah menjadikan kami layaknya foto model professional.









Dari Kawasan Braga kami menuju jalan Asia Afrika dan sesekali berhenti untuk berfoto. Lalu di kawasan Taman Cikapundung sedang digelar bazaar, ada busana muslim hingga aneka kuliner unik. Saat asyik menikmati bazaar, tiba-tiba pesan masuk ke ponsel saya dari senior teater di UPI dahulu. Gusjur Mahesa teryata melihat saya memasuki restoran Braga Permai lalu keluar lagi, dia pun mengajak saya masuk dan ikut acara syukuran perayaan Ulang tahun jalan Braga.

senior saya Mas Gusjur Mahesa

Kami masuk ke Restoran Braga Permai saat waktu Magrib segera menjelang. Tak hanya bernostalgia dengan mas Gusjur serta membeli buku puisinya, tapi kami juga ikut berbuka puasa di gratis di restoran terosohor itu. Pukul tujuh malam, saya berpamitan pada Mas gusjur dan lanjut menuju area Alun-alun dan Kepatihan. Yogya Kepatihan bagaikan lautan manusia, tak sanggup kami berlama-lama di sana hingga perjalanan pun kembali menuju Cikapundung lagi.


Menyusuri aneka stand makanan membuat kami sibuk jajan dan belanja kemudian menghabiskan sisa malam dengan duduk-duduk di area teater terbuka Cikapundung River Spot sambil menikmati musik yang tengah disajikan di atas pentas. Memang Bandung masih juara di hati saya.

Kami kembali ke jalan Braga setelah sebelumnya membeli makanan untuk sahur nanti. Menikmati nuansa malam Ramadhan di Bandung memberikan saya kenangan dahulu kala.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images