RSU Firdaus dan Klub Buku & Blogger Jakarta menggelar Diskusi Santai

13.56

RSU FIRDAUS JAKARTA MENGEDUKASI PENGGIAT ALAM

sumber: RSU Firdaus 

Rumah Sakit Umum Firdaus Jakarta Utara
Sejarah RSU Firdaus bermula dari pembangunan Klinik Firdaus yang awalnya merupakan praktek dokter umum  pada tahun 1995 yang bertempat di jalan Siak No.14  Sukapura, Jakarta Utara.
Praktek dokter umum atas nama dr.Bahtiar Husain disambut dengan sangat baik oleh masyarakat sekitar karena merupakan satu-satunya praktek dokter umum di kelurahan Sukapura.  Pada mulanya pasien yang datang berobat masyarakat sekitar yang kemudian makin lama makin dikenal sampai pasien datang berobat dari daerah yang lebih jauh di luar kompleks.

Karena kebutuhan pasien akan pelayanan kesehatan yang makin berkembang maka pada tanggal 7 April tahun 1998 beliau mengajak teman-teman dokter umum lain untuk membuka praktek dokter bersama dan pada akhirnya dibukalah ”KLINIK FIRDAUS” dengan pelayanan  Praktek Dokter Bersama 24 Jam. Dalam perjalanan dan perkembangan Klinik Firdaus, setelah diamati dan dilakukan evaluasi tentang kebutuhan dasar pelayanan kesehatan masyarakat dan atas dasar data medik yang dievaluasi, maka diperoleh kesimpulan bahwa pasien terbanyak yang datang berobat adalah pasien PARU dimana didalamnya termasuk penyakit yang mendominasi masyarakat lapisan bawah adalah Infeksi saluran napas atas, TBC paru, Pneumonia, Penyakit Paru Obstruksi Khronik, asma dan Kanker Paru.

Berdasarkan fakta dan tuntutan masyarakat akan kebutuhan pelayanan kesehatan khususnya dibidang paru, maka arah pengembangan pelayanan kesehatan di Klinik Firdaus lebih diarahkan ke pelayanan paru dan menjadikan paru sebagai layanan utama dan unggulan.

Seiring dengan niat dan arah pengembangan pelayanan di bidang paru serta memberi pelayanan yang bermutu kepada masyarakat maka Klinik Firdaus menugaskan dr. Bahtiar Husain melanjutkan pendidikan spesialisasinya di bidang paru di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Pada tahun 2004 dan bersamaan dengan rampungnya pendidikan spesialisasi dr. Bahtiar Husain sebagai ahli paru maka Klinik Firdaus berubah menjadi “ Praktek Dokter Spesialis Berkelompok” dimana layanan paru tetap menjadi layanan utama. Atas dasar pelayanan kekeluargaan dengan tidak mengesampingkan profesionalisme, Klinik Spesialis Firdaus semakin ramai dikunjungi karena satu-satunya ciri klinik paru di Jakarta Utara yang mengdepankan pelayanan kekeluargaan.

Bukan hanya inisiatif pasien sendiri namun pasien paru yang juga dari rujukan dari teman sejawat praktek dokter di Jakarta, Bekasi dan Bogor dengan tingkat kegawatan yang bervariasi. Kondisi pasien yang datang/ dirujuk teman sejawat ke Klinik Firdaus sebagian ada yang bisa dirawat jalan, sebagian membutuhkan observasi sebelum dipulangkan.

Mencermati kondisi tersebut dan dalam rangka menjawab tuntutan masyarakat khususnya masyarakat berpenghasilan rendah   akan  ketersediaan  layanan  kesehatan  paru, serta dalam rangka  mendampingi  pemerintah mewujudkan “Indonesia Sehat” maka Klinik Firdaus bertekad mewujudkan Rumah Sakit dengan unggulan paru, yang segmen pasarnya lebih kepada masyarakat lapisan bawah dengan tetap mengedepankan “ Profesionalisme yang berjiwa pengabdian”

Tekad mulia para dokter beserta jajaran pengurus Klinik Firdaus pun terwujud pada tanggal 28 Mei 2011.Rumah Sakit Firdaus pun resmi berdiri siap melayani sepenuh hati. Pelayanan RSU Firdaus cukup lengkap serta ditangani para ahli di bidangnya antara lain dokter Spesialis Anak, Spesialis Bedah, Spesialis Gigi & Mulut, Spesialis Kebidanan & Kandungan, Spesialis Mata, Spesialis Penyakit Dalam, Spesialis Paru & Pernafasan, Spesialis Syaraf, dan Spesialis THT
Sumber (dengan penyesuaian): www.rsfirdaus.wordpress.com

sumber: RS Firdaus

Misi RSU Firdaus: Mengedukasi Masyarakat
Sejalan dengan salah satu misi RSU Firdaus yaitu mengedukasi masyarakat, Program edukasi kali ini menyasar generasi muda penggiat alam agar tetap sehat dalam aktivitas kepencintaalaman. Bekerja sama dengan Klub Buku dan Blogger Backpacker Jakarta, RSU Firdaus menggelar acara Diskusi santai dengan mengangkat tema "Membongkar Fakta dan Mitos Pendakian Gunung" berdasarkan pengalaman dan sudut pandang medis.

Acara yang diselenggarakan pada Minggu 20 Agustus 2017 bertempat di Casapat's Song Kitchen Cikini menghadirkan para pakar di bidangnya baik dari medis maupun para penggiat alam dan pemerhati lingkungan hidup.

Diskusi Santai "Membongkar Fakta dan Mitos Pendakian Gunung Berdasarkan Pengalaman dan Medis”

Diskusi santai yang dimoderatori langsung oleh dr. Annisa selaku Manajer Marketing RSU Firdaus menghadirkan nara sumber yang ahli di bidang masing-masing. Harley B Sastha (Penggiat Alam, Penulis dan Pemerhati Konservasi Alam dari E-Magazine Mountmag) tampil sebagai nara sumber pertama. Sesi dibuka dengan tayangan tentang konservasi orang utan di Tanjung Puting yang begitu menggugah. Satu pesan dari narasumber yang sebaiknya ditaati oleh para pendaki gunung agar tetap menghormati aturan serta budaya yang berlaku di tempat yang dikunjungi.


Moderator dr. Annisa dan Harley B Sastha


Harley B Sastha


Salah satu mitos yang diangkat adalah ular takut pada garam. Benarkah ular takut garam? Narasumber yang mengungkapkan fakta di balik mitos selanjutnya adalah Tyo Survival (Ex Host Survival, Jejak Petualang, dan Co-host Berburu di Trans7)

Hadir dengan membawa seekor ular yang disebutnya jinak dan betul-betul membuat peserta diskusi tertarik menyaksikan lebih dekat. Tyo survival menyampaikan bahwa dahulu garam dipakai sebagai mediasi doa, salah satunya mengusir ular (yang pada jaman dahulu dipercaya sebagai roh jahat)

Tyo Survival

Tyo Survival

Fakta ini yang kemudian disadur oleh orang kebanyakan dan beranggapan ular takut dengan garam, bukan doanya. Inilah yang kini menjadi anggapan saat ini bahwa ular takut garam.

Eddi M Yamin dan SIti Maryam


Eddi M Yamin selaku founder komunitas Backpacker Jakarta hadir sebagai narasumber  ketiga. Eddi menceritakan pengalaman pendakian gunung serta mitos yang ia ketahui sekaligus mendampingi The True Survivor, Siti Maryam yang sempat dinyatakan hilang di gunung Rinjani selama 4 hari 3 malam. Siti Maryam mampu bertahan hidup dengan berbekal madu serta permen di kantung celana menghadapi badai Rinjani. Keyakinan untuk mampu bertahan hidup dan kembali dengan selamat membuatnya survive. Ketenangan adalah modal utama untuk bertahan.

Setelah para pakar penggiat alam membagikan pengalaman mereka masing-masing, dari sudut medis hadirlah dr. Ridho Adriansyah yang mengupas tuntas segala gangguan kesehatan yang dapat mendera para pendaki gunung. Ada tiga gangguan  utama yang sering menyerang yaitu Acute Mountain Sickness (AMS), High Altitude Cerebral Edema (HACE) dan High Altitude Pulmonary Edema (HAPE). Ketiga masalah ini bisa. saja mengakibatkan kematian. Sebenarnya tubuh manusia memiliki kemampuan beradaptasi tinggi dengan situasi alam, jika tubuh gagal beradaptasi maka ketiga gangguan tersebut dapat menyerang. Oleh karena itu pendaki gunung haruslah benar-benar menyiapkan kondisi fisiknya serta perlengkapan mountaineering yang tepat.
dr. Ridho Adriansyah


Diskusi Santai berakhir dengan penutupan sesi tanya jawab yang berlangsung selama tiga puluh menit dan mas Harley membacakan puisi tentang keberagaman dan persatuan kita sebagai satu bangsa Indonesia.

Senangnya Menjadi Peserta Diskusi
Penulis yang memang bergabung dengan komunitas buku dan Blogger sangat bersemangat dengan adanya diskusi ini. Selain mendapatkan ilmu pengetahuan, peserta diskusi juga memperoleh fasilitas cek gula darah secara gratis dari RSU Firdaus.

Tak hanya fasilitas medis, peserta diskusi yang beruntung mendapat doorprize dari Dhaulagiri berupa alat-alat outdoor. Dhaulagiri merupakan sponsor resmi acara diskusi santai kali ini. Produk-produk outdoor Dhaulagiri dapat dilihat di akun Instagram @dhaulagiri_outdoor atau Official website www.dhaulagiri.id. Dengan harga terjangkau, produk outdoor Dhaulagiri membantu para pendaki gunung menciptakan suasana nyaman dan aman dalam tiap pendakiannya.



Penulis cukup beruntung memperoleh hadiah berupa jerigen lipat berukuran 10 liter dari Dhaulagiri. Setelah acara resmi diakhiri, para peserta, panitia dan anarasumber pun berfoto bersama.




Semoga acara diskusi santai yang sarat akan pengetahuan ini akan lebih sering digelar sehingga para penggiat alam dapat lebih meningkatkan wawasannya.

You Might Also Like

5 comments

  1. Seru banget ya acaranya. Ilmunya terpakai untuk nanti mendaki gunung.

    BalasHapus
  2. iya mba, apalagi menang hadiah juga dari spinsor hehhee

    BalasHapus
  3. Informasi nya langkahku, aq yang ga bisa ikutan acaranya berasa ngikutin langsung

    BalasHapus
  4. Keren ya acaranya, hiks... nyesel berat kemarin gak bisa ikut....

    BalasHapus
  5. ada yang kurang.. kurang kue putri ayu

    BalasHapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images