Menelusuri Jejak Purba di Patiayam

23.14


Suara dua ekor ayam jantan bersahutan membuka pagi di Kudus. Kabut tipis membias seiring kesibukan kami dengan segala rutinitas pagi, dari mandi, hingga packing kembali. Kesibukan pun terhenti ketika harum nasi yang ditanak di atas tungku kayu bakar menyeruak ke penjuru ruangan. Sepuluh menit kemudian, seperiuk nasi, ikan asap balado, tahu dan tempe terhidang di hadapan kami. tak perlu menunggu lama semua hidangan tersebut ludes tak bersisa.


Pukul delapan pagi rombongan kami bertolak meninggalkan rumah Simbah tempat kami bermalam. Beragam foto kami abadikan sebagai kenangan serta terima kasih atas kebaikan Mbah menampung kami yang heboh ini.

Tujuan kami adalah Museum Patiayam di, Dukuh Kancilan.

Situs purba Patiayam memiliki persamaan dengan situs purba Sangiran, Trinil, Mojokerto, dan Nganjuk. Keunggulan komparatif situs Patiayam adalah fosilnya yang utuh dikarenakan peimbunan adalah abu vulkanik halus dan pembentukan fosil berlangsung baik. Di sekitarannya tidak terdapat sungai besar sehingga fosil ini tidak pindah lokasi karena erosi. Keadaan ini berbeda dengan situs purbakala lainnya dimana fosil ditemukan pada endapan sungai.
Situs Patiayam merupakan salah satu situs terlengkap. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya manusia purba (Homo erectus), fauna vertebrata dan fauna invertabrata. Ada juga alat-alat batu manusia dari hasil budaya manusia purba yang ditemukan dalam satu aeri pelapisan tanah yang tidak terputus sejak minimal satu juta tahun yang lalu.
Secara morfologi situs Patiayam merupakan sebuah kubah (dome) dengan ketinggian puncak tertingginya (Bukit Patiayam) 350 meter di atas muka laut. Di daerah Patiayam ini terdapat batuan dari zaman Plestosen yang mengandung fosil vertebrata dan manusia purba yang terendap dalam lingkungan sungai dan rawa-rawa.
Sejak 22 September 2005 situs Patiayam ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah. Sebelumnya situs ini sudah lama dikenal sebagai salah satu situs manusia purba (hominid) di Indonesia. Sejumlah fosil binatang purba ditemukan penduduk setempat seperti kerbau, gajah, dan tulang lain. Fosil gading gajah purba Stegodon trigonocephalus merupakan primadona Patiayam.
Rangkaian penelitian telah dilakukan di situs ini, mulai dari tahun 1931 saat peneliti asal Belanda Van Es menemukan sembilan jenis fosil hewan vertebrata. Berikutnya hingga tahun 2007 berbagai penelitian dilakukan dan ditemukan 17 spesies hewan vertebrata dan tulang belulang binatang purba. Temuan fosil-fosil di Patiayam memiliki keistimewaan daripada fosil temuan di daerah lain karenakan sebagian situs yang ditemukan bersifat utuh.
Dari waktu ke waktu, makin banyak fosil purba ditemukan di situs ini, sehingga perlu dibangun museum khusus sebagai tempat penampungan fosil-fosil temuan. Museum Fosil Patiayam masih sangat sederhana, lokasinya di Desa Terban, Jekulo, Kudus, tidak jauh dari Dome Patiayam.
sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Situs_Purbakala_Patiayam


Museum mungil ini cukup menggambarkan perjalanan pra sejarah serta artefak yang ditemukan di Kudus. Satu ciri khas Museum ini adalah pilar-pilar besar di halaman depan yang bergaya Yunani seolah-olah punya filosofi tersendiri.







Susu Moeria
konsep minum susu segar yang selama ini saya kenal adalah Farm House di Lembang Bandung ataupun Cimory di Bogor di mana peternakan sapi digabung dengan toko susu segar sekaligus restoran ditambah udara dingin pegunungan Jawa Barat.

Di Kudus ini semua teori ala peternakan di gunung itu terbantahkan. Susu Moeria hadir di tengah perkotaan, di jantun kota Kudus jalur arteri. Tentu saja hal ini memudahkan akses pengunjung yang ingin merasakan segarnya minum susu.




Istimewanya lagi, kandang sapi terletak tak jauh dari outlet susu. Sapi yang dipelihara pun jenis unggulan. Saya sampai takjub melihat sapi-sapi yang berukuran luar biasa besar sedang tergeletak santai menunggu diperah.

Variasi rasa susu sapi yang dijual pun cukup banyak ada rasa coklat, strawberry, moka dan lainya. Pengunjung menikmati segarnya susu sapi ditemani beberapa makanan ringan yang juga dijual di outlet susu.

Museum Kretek
Matahari bersinar terik saat bus yang membawa kami memasuki kawasan Museum Kretek. Museum yang memamerkan perjalanan industri terbesar di kota Kudus, yaitu rokok Kretek ini sangatlah luas. Di area luar terdapat area bermain anak, rumah tradisional Kudus, Taman Iptek, Bioskop 4D dan Mushola serta bangunan inti Museum Kretek.


Museum kretek hadir sebagai biografi jatuh bangunnya Nitisemito membangun usaha kretek dan mendirikan pabrik erktek. Aneka jenis tembakau menjadi salah satu benda yang dipamerkan. Yang paling menarik adalah kemasan rokok kretek skala industri kecil dan industri nasional juga bagaimana pemasarannya.

Museum ini didirikan atas prakarsa dan diresmikan oleh Soepardjo Roestam, Gubernur Jawa Tengah, pada 3 Oktober 1986. Gagasan ini bermula sewaktu Beliau berkunjung ke Kudus dan menyaksikan potensi kontribusi usaha rokok kretek dalam menggerakkan perekonomian daerah. Museum Kretek didirikan di atas lahan seluas 2,5 ha, dengan pembiayaan dari Persatuan Pengusaha Rokok Kudus (PPRK).

sumber: http://asosiasimuseumindonesia.org/anggota/9-profil-museum/145-museum-kretek.html

Museum ini memang penuh kesan tak hanya koleksinya yang istimewa namun kehadiran wisata lainnya di komplek museum ini memberi ciri khas tersendiri. Tak salah bahwa museum kretek Kudus ini adalah satu-satunya museum rokok di Indonesia.


Back to Jakarta
Kenyataan bahwa perjalan Kudus menuju Jakarta akan menghabiskan waktu selama 8 jam membuat kami harus tepat waktu meninggalkan kota Kudus. Perjalanan yang terbilang cukup lancar saya habiskan dengan tidur dan tidur terus. Kami hanya sesekali berhenti di beberapa tempat untuk sholat dan makan.

Pukul 12 malam, bus tiba di Jakarta, kami saling berpamitan dengan membawa segenggam kenangan manis di kota jenang dalam sanubari masing-masing. Satu pengalaman baru saya di Kudus, ternyata city tour yang berubah jadi tracking menuju air terjun cukup menyenangkan. Can’t hardly wait for another trip.

You Might Also Like

2 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images