Dari Tertidur Hingga Bergoyang Dangdut dalam Buaian Orkestra

18.31


Semasa kuliah dahulu saya pernah beberapa kali menyaksikan pagelaran orkestra yang ditampilkan oleh kawan-kawan dari Jurusan Pendidikan Seni Musik, FPBS UPI Bandung. Dalam bayangan saya, menyaksikan pagelaran musik orkestra itu rasanya bagai keluarga kerajaan dengan gaun menjuntai di balcony atau ballroom Gedung Kesenian seperti dalam komik-komik yang saya baca.

Kerinduan menyaksikan orkestra itu seolah mendapatkan gayung bersambut. Saya menerima informasi adanya pertunjukan orkestra di Gedung Kesenian Jakarta dan segera mendaftar untuk menjadi penonton. Mengingat acara ini tidak dikenakan bea tiket masuk pasti peminatnya banyak sekali.

Beberapa hari kemudian saya menerima e-mail balasan dari Jakarta City Philharmonic Orchestra bahwa saya dinyatakan sebagai salah seorang yang beruntung dapat menyaksikan pertunjukan musik tersebut.

Selasa sore 19 September, saya dan Bernica langsung menuju Gedung Kesenian Jakarta seusai kerja. Benar saja, ketika kami tiba antrian penukaran tiket telah mengular. Karena kami telah daftar secara online sehingga kami tak perlu masuk antrian panjang tersebut (itu pun kami telat menyadarinya).








Setelah tiket di tangan, kami jalan mencari makan di area Pasar Baru. karena tak kunjung menemukan tempat makan, sedangkan kami sudah cukup jauh berjalan ke dalam area Pasar Baru akhirnya kami memilih makan di KFC itupun setelah sempat mampir di penjaja kue ape.


4 tiket di tangan





Pukul setengah tujuh kami kembali ke Gedung Kesenian Jakarta dan menyempatkan foto sebelum masuk gedung pertunjukkan. Area panggung GKJ yang selama ini saya saksikan menjadi pentas teater, kini begitu penuh dengan instrumen orkestra. Satu persatu personel Jakarta City Philharmonic Orchestra masuk dan menempati posisinya masing-masing.


Acara dibuka oleh Eric Awuy, ia menceritakan sejarah singkat musik klasik serta para penampil yang akan menunjukkan kemahirannya. Tema yang diusung pada pagelaran malam itu adalah Prancis  & Prix de Rome. Sepanjang hari saya dan Bernica menyenandungkan Champ Ellyses karena itulah lagu Perancis satu-satunya yang kami tahu (selain La La La serta La Vien Rose :. akibat menonton Running Man) dan berharap lagu itu akan ditampilkan mala mini sehingga kami bisa ikut menyanyikan.







Indonesia Raya berkumandang memenuhi seantero Gedung kesenian Jakarta, pengunjung yang diminta berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan menjadi penanda pembuka acara. Pengaba musik, Budi Utomo Prabowo dengan semangat memimpin.

Sebagai penampilan pembuka Karnaval Roma dari Hector Berlioz ditampilkan dengan begitu apik. Lagi-lagi pikiran saya menerawang seperti dalam setting keluarga kerajaan akibat merdunya alunan musik yang diperdengarkan oleh Jakarta City Philharmonic Orchestra. Ya … ya saya memang pengkhayal.

Selanjutnya seorang gadis cantik dengan langkah elegan memasuki panggung. Dengan angunnya ia duduk di kursi di hadapan sbeuah piano hitam klasik.  Yosephine Maadju, pianis yang tampil mala mini akan memainkan piano dengan tangan kirnya saja. Konserto Piano Untuk Tangan Kiri dalam D Mayor dari Maurice Ravel ditampilkan oleh Yosephine dengan elegan, terampil, indah namun penuh kekuatan. Berdasarkan catatan sejarah, karya ini merupakan pesanan dari pianis Austria Paul Wittgenstein yang kehilangan tangan kanannya saat perang dunia pertama. Beberapa kali saya lihat sang pianis hanyut dalam emosi sehingga power bermain piano dari tubuh kecilnya begitu terlihat. Saya begitu terpana dan terpesona dibuatnya.

Penonton diberi waktu istirahat menuju babak kedua pertunjukan. Lima belas menit kemudian, saat seluruh penonton sudah menempati kembali
sang pengaba mulai memimpin penampilan selanjutnya. Karya Claude Debussy Preludium bertajuk Sore Hari Seorang Faunus ditampilkan. Setelah memainkan karya tersebut pengaba kembali memaikan karya dari Debussy dan Suita Pojok Anak-anak.


Suita Pojok Anak-anak ini adalah karya kolaborasi Debussy dan Andre Caplet.  Lagu-lagu bernuansa riang mengetengahkan dunia anak-anak yang penuh fantasi. Karena begitu terhanyut, pelan-pelan saya pun tertidur. Perasaan saya menjadi begitu tenang, rileks dan perlahan mata terpejam dan terbangun begitu musik berakhir. Ternyata menurut kawan yang duduk di sebelah saya (lewat tulisan di blognya) aransemen yang dibawakan adalah Nina Bobo Jimbo Si Gajah yang membuat saya terlelap. Saya jadi tertawa terbahak-bahak mengetahui fakta tersebut.

Tibalah penampilan penutup yang saya tunggu-tunggu. Dari judulnya di booklet acara pun sudah membuat penasaran. Komposer Dadang Saputra yang sempat diperkenalkan di awal pertunjukan mengemas pertunjukan orkestra bertajuk Potret Dangdut. Sepengetahuan saya yang awam ini, ciri khas dangdut adalah instrumen gendang dan seruling, sedang dua instrumen itu tidak ada dalam orkestra. Lagipula orkestra dikenal dengan musik klasiknya, is it oke bawa-bawa dangdut?

Rasa penasaran penonton terjawab dengan penampilan luar biasa para pemusik. Alunan flute mampu hadir bagai alunan seruling dalam lagu dangdut. Rasanya tak ada yang tak memberikan standing applause ketika Potret Dangdut rampung ditampilkan. Potret Dangdut besutan sang komposer muda, Dadang Saputra mampu tampil merakyat bagai dangdut pinggiran sekaligus elegan dalam balutan orkestra. Tak henti-henti penonton bertepuk tangan pada penampilan penutup tersebut.

Sebagai rangkaian penutup, Anto Hoed selaku perwakilan dari Dewan Kesenian Jakarta maju ke atas pentas dan memberikan rangkaian bunga pengaba, komposer dan pianis.

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images