Jumpa Penulis

21.31


Suasana Teater besar Taman Ismail Marzuki begitu padat pengunjung. Hari ini Komunitas Menulis Online menggelar acara Jumpa penulis sekaligus peluncuran buku Bidadari Untuk Dewa karya penulis kenamaan Bunda Asma Nadia.



salah satu spanduk di gerbang masuk TIM

With Mba Agita
Saya bertemu dengan kakak sekaligus sahabat saya sesama fighter 30 Days Writing Challenge angkatan 5. Kami sama-sama di Squad 1, Squad yang pernah saya pimpin.

Tere Liye


Tere Liye

Sesi 1 dibuka oleh Tere Liye. Penulis yang akhir-akhir ini jadi buah bibir akibat keputusannya menolak pajak bagi penulis. Beliau tampil sderhana di atas sebuah kursi plastik di panggung semegah itu. Saya suka bagaimana Tere Liye mengakrabkan diri dengan peserta Jumpa penulis. Ia berkali-kali memanggil kami dengan “dek” seolah seorang kakak yang begitu memperhatikan. Ada beberapa kalimat-kalimat Tere Liye yang saya catat karena begitu memotivasi.

Menulis itu dedikasi habis-habisan, ada luka dan air mata

Luruskan niat, sesukar masalah apapun pasti bisa dihadapi

Tanggung jawab penulis adalah menghadirkan tulisan dengan genre baru

Cara menaklukan penerbit besar adalah konsistensi serta ketangguhan diri sendiri tambah dengan memperbaiki diri

Ahmad Rifai Rifan


Sesi yang kedua menghadirkan Ahmad Rifai Rifan yang sudah banyak sekali menghasil buku. Memang saya yang kurang begitu kenal buku lain selain roman sehingga tidak begitu mengenal beliau. Sekali lagi motivasi menulis saya peroleh dari beliau

Kunci menulis: motivasi, eksekusi, konsistensi

Sebuah ide bisa dimiliki oleh ribuan orang di duni namun hanya yang tercepat yang mengeksekusi yang akan memperoleh hasilnya


Ipho Sentosa


Ipho Sentosa
Hadir sebagai pembicara di sesi ketiga sang motivator handal, Ipho Sentosa yang buku karyanya selalu menjadi bestseller nasional. Ipho hadir dengan gaya begitu resmi, ia pun membagi-bagikan bukunya untuk para peserta secara gratis.
Sebagai motivator yang juga membuka kelas kepenulisan, Ipho turut memberikan motivasi bagi para peserta yang memadati teater besar TIM hari itu.

Orang yang menulis biasanya sudah berdamai dengan dirinya sendiri

Paksa, bisa, terbiasa

Sesi dengan Ipho Sentosa pun harus diakhiri saat adzan dzuhur terdengar. Saya dan mba Agita pun mencari makan siang di sekitar TIM.

Helvy Tiana Rosa


Bunda Helvy Tiana Rosa

Saat saya dan Mba Agita berhasil duduk di tribun karena kursi kami yang semula sudah diduduki oleh orang lain, bunda Helvy tengah berbicara tentang kiprah awalnya memasuki dunia kepenulisan. Bagaimana sabarnya beliau yang kala itu masih menjadi penulis pemula yang harus menunggu begitu sabar di kantor penerbit besar dan menghadapi kejudesan sang resepsionis.

Sebagai penulis handal, seorang muslimah yang sedang berjuang di kalur perfilman islami, Bunda memberikan banyak sekali wejangan.

Menulis puisi bisa mengeratkan hubungan

Tuliskan judul yang menarik, eyecatching bahkan jika berani tuliskan controversial

Menulis adalah jalan saya, lentera saya menuju akhirat. Saya akan tetap menulis hingga titik pena terakhir

Tekad kuat, latihan, bergabung dengan komunitas serta disiplin merupakan suatu keharusan bagi penulis


Dewa Eka Prayoga




Tampil sebagai pembicara sesi kelima. Dewa yang tampil casual hari itu membagikan pengalaman menulisnya. pria berambut sedikit gondrong ini menyampaikan pendapatnya tentang menulis


Dewa Eka Prayoga

Jadi penulis ga boleh baperan, orang mau bilang apa ga usah peduliin, orang boleh ngomong toh kita yang menikmati hasil

saat Dewa tampil di depan panggung, banyak sekali peserta yang tiba-tiba menyampaikan testimoni mereka tentang pengaruh positif yang mereka dapatkan seusai membaca buku karya Dewa.



Asma Nadia
Menulis itu berjuang, menulis itu melambungkan mimpi. Menulis itu menginspirasi, Menulis itu doa.

Menulis merupakan tantangan, biarkan imajinasi menuntun

Bunda Asma Nadia menjadi pembicara juru kunci dalam pertemuan penulis-penulis hebat hari ini. Acara jumpa penulis sekaligus launching novel karya Asma Nadia yang bertajuk "Bidadari Untuk Dewa". 

Novel tertebal yang pernah ditulis Asma Nadia sekaligus novel pertama mencetak rekor yang telah terjual ribuan eksemplar secara pre-order sebelum dicetak. Novel fenomenal ini sejatinya tentang kisah hidup Dewa Eka Prayoga dengan segala permasalahan yang membelitnya. masalah harta, tahta juga wanita.

Hadir sebagai bintang tamu di sesi tersebut, teh Wiwin yang merupakan istri Dewa. saya salut bagaimana teh Wiwin mampu tetap bertahan di sisi Dewa Eka Prayoga yang pernah menjadi milyarder muda, namun bangkrut tak bersisa berakhir dikejar 40 debt collector. Bagaimana teh Wiwin mendampingi Dewa melewati masa-masa terpuruk hingga mampu bangkit dan sukses kembali.

Satu kalimat teh Wiwin yang saya yakini membuat seluruh perempuan di dalam Teater Besar TIM mengamini ialah "saya bersumpah di hadapan Allah untuk menerima suami saya baik dalam keadaan buruk atau baik, satu paket komplit". semoga saya mampu mencinta seperti itu.

Sesi terakhir pun ditutup oleh Bunda Asma nadia dengan wejangan tentang cinta

Jika kau tak temukan cinta, maka biarkan cinta menemukanmu

You Might Also Like

4 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images