Finding Nemo in Gili Ketapang

13.59

Matahari bersinar begitu terik saat kapal yang kami tumpangi merapat ke Dermaga pulau Gili Ketapang. Lelah perjalanan yang ditempuh sesuai dari air terjun Madakaripura serta perjalanan menyeberangi lautan selama tiga puluh menit seolah terbayar lunas saat melihat hamparan pasir putih dan birunya lautan.



Pengelolaan wisata di pulau Gili Ketapang ini sudah sangat baik dan dikemas modern. Banyak rest area yang dibuat kekinian, dengan bentuk rumah panggung beratap rumbia serta sudut-sudut berfoto yang dijamin instagramable.
Cuaca begitu cerah, spot pertama snorkeling disambut meriah peserta trip. Satu persatu kami melompat bebas menuju lautan. Menikmati birunya laut, karang-karang yang cantik. Berkali-kali ikan badut yang terkenal dalam film Finding Nemo serta temannya si ikan biru berekor kuning, Dory melintas. Berenang-renang hilir mudik cantik sekali. Kami pun mengabadikan foto-foto di dalam laut bersama ikan-ikan yang terkenal itu.




Spot kedua snorkeling yang letaknya lebih dekat ke daratan ternyata memiliki sebuah lempengan batu bertuliskan “Finding Nemo Gili Ketapang”. Kami bergantian berpose di spot tersebut, di balik poto yang keren dan kekinian tersimpan ketakutan dan gelagapan di kedalaman air laut serta badan yang ditekan oleh guide snorkeling agar tak cepat naik ke permukaan.




Usai snorkeling, rombongan kami disambut oleh sajian berupa sedapnya ikan bakar dan sambal khas di cowet kecil-kecil yang pedasnya luar biasa. Angin laut berhembus perlahan menikmati santap sore kami. Hampir semua orang menghabiskan lebih dari 2 ekor ikan bakar yang lezat itu.








Menjelang pukul 5.30 sore rombongan kami bersiap meninggalkan Gili Ketapang. Angin berhembus begitu kencangnya saat kami naik ke perahu. Matahari tergelincir di ufuk barat tepat saat sauh diangkat dan perahu kami mulai mengarungi laut. Ombak luar biasa ganas ditambah angin yang makin kencang. Saya duduk di depan bersama dua orang CP dan dua orang teman yang satu klub yaitu KUBBU BPJ.
Berkali-kali kami basah kuyup diterpa ombak yang sesekali menghempas ke atas perahu. Perjalanan di laut yang semestinya hanya tiga puluh menit menjadi dua kali lamanya. Semua orang di perahu terpaku dan terdiam, dalam hati rasanya semua doa sudah kami rapalkan kecuali doa makan. Saya sendiri pun hanya bisa memeluk erat-erat tas yang saya bawa, sekaligus sebagi perisai dari terjangan air laut yang menyirami tubuh.  Meski ombak demikian tinggi dan keras, namun langit begitu cerah, ratusan bintang bercahaya menemani petualangan kami.
Saat kapal merapat di dermaga, tak henti kami mengucapkan syukur. Sesekali kami menertawakan pengalaman masing-masing selama terdiam di kapal tadi. Ada yang ingat belum bayar hutang, ada yang ingat orang tua dan keluarganya, ada yang sedih belum sempat menyatakan cinta pada gebetannya dan aneka rupa pemikiran kocak selama ketakutan tadi. Kalau saya … hmm saya memikirkan dia sih tadi selama di kapal (lah curhat). selama di Perjalanan dilanjutkan kembali menuju Bromo.
Pukul 10 malam kami tiba di Sukapura dan bermalam di rumah penduduk sekitar. Kami harus segera tidur karena akan dibangunkan dini hari untuk menyaksikan sunrise di Bromo


You Might Also Like

4 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images