Jatuh Cinta di Love Hills Bromo

08.49


Pemandangan Pos 1

Pukul dua dinihari kami semua sudah bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan menuju Bromo. Rombongan kami dibagi menjadi 6 orang per satu Jeep. Perjalanan menuju Bromo memakan waktu hampir 1 jam. 

Suasana masih begitu gelap saat jeep yang kami tumpangi merapat untuk parkir. Kami masih harus jalan mendaki untuk melihat sunrise. Berkali-kali aneka pengemudi ojek menawarkan jasanya. Langkah-langkah kaki kami cukup menghangatkan udara yang luar biasa dingin.

Sampai pos pertama, akhirnya saya, Yulia dan Kak Eva memilih naik ojek untuk menuju Bukit cinta setelah tawar menawar dengan Mas Ojek. Saat itu matahari mulai terbit perlahan. Rapatnya parkiran jeep membuat ojek kami memarkirkan motornya kemudian kami diajak jalan kaki sejauh 100 meter dan lanjut naik motor lainnya menuju Bukit Cinta.



Saat tiba di Bukit Cinta, lautan manusia sudah memadatinya. Susah payah kami bertiga merangsek masuk untuk bisa memperoleh spot foto yang bagus, instagramable menurut istilah jaman sekarang. Saya menyaksikan sendiri indahnya matahari yang merangkak naik membawa semburat merah di langit.

Bukit Cinta, Kisah Rara Anteng dan Joko Seger



Bromo, Savana dan Bukit Teletubbies
Usai menikmati keindahan matahari terbit di Bukit Cinta, kami melanjutkan perjalanan ke Bromo. Jeep yang kami tumpangi berjalan menyusuri perbukitan kemudian turun ke bawah melewati hamparan pasir luas dengan pegunungan Bromo sebagai latar belakangnya, kami berpose untuk mengabadikan kenangan ini. Perjalanan lanjut kembali menuju area Bromo yang memiliki Pura.



Parkiran jeep yang begitu luas, aneka warung penjaja makanan menjadi pemandangan di lautan pasir serta perbukitan Bromo yang betul-betul di hadapan mata. Aneka penunggang kuda lalu lalang di hadapan saya layaknya ksatria Padang Pasir. Selama satu jam kami mengeksplorasi dan tentu saja berfoto-foto.

Perjalanan lanjut kembali menuju Savana dan Bukit Teletubies. Jeep yang kami tumpangi melaju kencang di jalan berpasir, sesekali menerabas ilalang tinggi yang semakin membuat mata dimanja pemandangan memukau. Saat tiba di bukit Teletubies, saya terpana.

Hijaunya perbukitan seolah permadani lembut tergelar. Awan berarak melewatinya memberi kesan sejuk dan damai meski matahari pukul sepuluh pagi telah bersinar begitu terik. Aneka pose foto kami abadikan di sana hingga akhirnya saya tertidur kelelahan di dalam jeep sementara kawan-kawan serombongan masih sibuk berfoto ria. Menjelang pukul sebelas kami kembali ke Sukapura untuk bersiap kembali ke Jakarta.

Goodbye Probolinggo, Till We Meet Again …

Setelah semua anggota rombongan bersih-bersih dan makan siang, kami bersiap meninggalkan Sukapura. Perjalanan yang cukup lancar dan keriangan di dalam Elf yang kami tumpangi membuat perjalanan pulang tidak begitu terasa. Kami sempat mampir di toko oleh-oleh Kepala Singa di Sidoarjo.


Usai membeli oleh-oleh perjalanan lanjut menuju Taman Bungkul Surabaya untuk makan malam sebelum berpisah karena rombongan kami ada yang naik kereta dan pesawat. Bebek goreng Surabaya yang terkenal lezat menjadi santapan terakhir kami di Surabaya malam itu. Pukul tujuh malam kami berpisah sesuai tujuan masing-masing dengan membawa sekeranjang kenangan serta serunya teman-teman baru. 

You Might Also Like

5 comments

  1. Seru ya bu guru...berapa x pun kesana, selalu ada sensasi baru...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini pertama kali ke sana dan seneng banget

      Hapus
  2. Balasan
    1. Main ke sana Antin ... pemandangannya luar biasa

      Hapus
  3. Salah satu bucket list ini. Terimakasih infonya.

    BalasHapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images