Puisi Karya Sang Maestro di Dua Film Nasional

11.21

Sapardi Djoko Damono Sang Maestro puisi, Guru besar Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia yang begitu terkenal dengan sajak cintanya yang berjudul “Aku Ingin” kini sajak-sajaknya tengah naik daun kembali.

Dua film yang baru-baru ini diputar di bioskop nasional yaitu Negeri Dongeng dan Hujan Bulan Juni menampilkan puisi-puisi karya sang Maestro.

Negeri Dongeng



Film dokumenter yang mengisahkan ekspedisi mengibarkan bendera merah putih di tujuh puncak tertinggi di Indonesia. Meskipun hadir dengan genre dokumenter namun kesan drama pun digarap dengan apik. Bagaimana persahabatan, cinta platonik, kegigihan, kebersamaan hingga tangis rasa syukur menjadi polesan yang memperindah film yang memang luar biasa pengambilan gambarnya.

Saya tidak membahas tentang sinopsis ataupun resensi film, lewat tulisan ini saya memotret sudut kecil dari film Negeri Dongeng ini, yaitu munculnya musikalisasi puisi sebagai soundtrack film. Puisi “Sajak Kecil Tentang Cinta” dan “Pada Suatu Hari Nanti” karya Sapardi Djoko Damono turut menjadi pemanis. Apakah puisi akan memasuki babak baru yaitu filmisasi? Selama ini apresiasi puisi baru muncul dalam dua bentuk yaitu dramatisasi puisi dan musikalisasi puisi. Hal baik ini tentu saja membawa angin segar bagi dunia sastra Indonesia.

Bersama teman-teman dari komunitas Backpacker Jakarta, saya menonton film Negeri Dongeng di hari perdana pemutarannya. Hari Perdana penayangan Negeri Dongeng hanya di satu bioskop di Jakarta yaitu Blok M Square.



Sahabat-sahabat BPJ RT 29

Sepanjang film, Anggi Frisca sang Sutradara memanjakan mata penonton dengan indahnya panorama pegunungan Indonesia berhias hutan tropis yang tiada bandingannya. Aksa 7 Team pendaki sekaligus sinematografer film ini, patut diacungi jempol atas karya dan kerja keras yang luar biasa.

Saat adegan perjalanan di atas kapal, menuju gunung selanjutnya. Tiba-tiba musik mengalun dan kalimat lagunya begitu familiar.


Bagaimana mungkin sajak klasik yang ditulis Pak Sapardi tahun 1970-an ini bisa hadir begitu pas dengan suasana di Film Dokumenter tentang ekspedisi pendakian tujuh gunung tertinggi di Indonesia.

Adegan selanjutnya adalah ketika Darius Sinatrhya hadir sebagai guest expeditor bersama team aksa 7 dalam ekspedisi ke gunung Binaiya Ambon. Di tengah-tengah ekspedisi, Darius mendapat kabar dari Jakarta bahwa Ibunda Dona Agnesia meninggal dunia yang membuat Darius terpaksa tak melanjutkan ekspedisi. Langkah Darius meninggalkan perkampungan di Ambon berteman gerimis dan musikalisasi puisi yang sangat pas. Puisi Pada Suatu Hari Nanti dimusikalisasikan dengan petikan gitar membawa suasana haru yang menyesakkan dada. Hampir seisi bioskop menitikkan air mata saat adegan ini.

Sebagai penikmat sastra tentu saya merasa gembira bahwa ternyata puisi mampu tampil sempurna dalam film. Mungkin ke depannya para sineas Indonesia dapat menggarap film-film yang bisa dimasukkan unsur puisi di dalamnya sehingga sastra Indonesia dapat dikenal luas terutama pada generasi muda tetap berjaya di negerinya sendiri.

Hujan Bulan Juni



Hujan Bulan Juni adalah antologi puisi karya Sapardi Djoko Damono yang begitu dikenal. Khusus untuk puisi Hujan Bulan Juni, terdapat versi komik serta novelnya.




Membaca novel Hujan Bulan Juni yang terbit tahun 2000-an tetap tak bisa lepas dari puisinya yang ditulis tahun 1970-an. Nyata adanya bahwa cinta adalah bahasa universal. Begitu pula kisah cinta Pingkan dan Sarwono, tokoh utama dalam novel ini. Kisah cinta sederhana dua dosen muda yang sedianya memiliki banyak perbedaan dan melewati banyak cobaan namun tetap bertahan.

Film Hujan Bulan Juni yang memang ditunggu-tunggu kehadirannya di bioskop menjadi jawaban pertanyaan penggemar sastra bahwa puisi yang diangkat menjadi novel bisa tampil memikat ketika diubah menjadi film. saya menyaksikan film ini dengan sahabat semasa kuliah dahulu, serasa membangkitkan romansa kesusasteraan kami sewaktu aktif sebagai mahasiswi sastra.






Sama halnya dengan film Negeri Dongeng, Puisi Pada Suatu Hari Nanti pun turut menghias film ini. Jika dalam film Negeri Dongeng, puisi tersebut begitu kuat meninggalkan kesan, dengan adegan yang bercerita kepergian Darius meninggalkan team ekspedisi karena mertuanya meninggal duni sehingga kekuatan larik-larik puisi “Pada suatu hari nanti jasadku tak akan ada lagi” begitu terasa. Sementara dalam film Hujan Bulan Juni, puisi yang sama dihadirkan dalam adegan Sarwono menuliskan pesan singkat untuk Pingkan. Sarwono yang sedang sakit duduk di dalam mobil, mengirim kalimat “pada suatu hari nanti jasadku tak akan ada lagi” pada Pingkan yang sedang mampir membeli keperluan di Warung sehabis mereka berkeliling pantai di Gorontalo.

Menarik sekali bagaimana larik “pada suatu hari nanti jasadku tak akan ada lagi” menimbulkan apresiasi dan persepsi yang berbeda kemudian hadir dalam bentuk adegan filmis yang pastinya berbeda. Secara subyektif, saya lebih memilih adegan yang ada di Film Negeri Dongeng, kekuatan larik itu lebih terasa.

Ari-Reda


Dari film Negeri Dongeng saya jadi mengenal duet Ari (gitar) dan Reda (vocal) yang sering menampilkan musikalisasi puisi-puisi Sapardi. Petikan gitar Ari yang begitu lembut diperkuat dengan jernihya kualitas vokal Reda begitu membuai telinga. Saya rasa penikmat sastra atau penikmat musik setuju bahwa duet ini juara, kedalaman puisi khususnya puisi Pada Suatu Hari Nanti yang hadir di dua film di atas menjadi sebuah suguhan seni yang tiada bandingnya

You Might Also Like

0 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images