Menyusuri Jejak Sumpah Pemuda -Catatan Trip BOB KUBBU BPJ-

09.53

Pagi hari pukul enam, saya sudah bergegas meninggalkan rumah dengan tergopoh-gopoh membawa toa di pundak menemui driver ojek online yang sudah saya pesan. Hari ini saya dan teman-teman Klub Buku dan Blogger  Backpacker Jakarta (KUBBU BPJ) akan mengadakan trip based on book/blog dengan tema Menguak Rahasia Sumpah Pemuda.


Setelah mampir sebentar di toko kue basah untuk membeli kue putri ayu yang betul-betul masih hangat dari dandang kukusannya, perjalanan menuju UI saya lanjutkan. Entah sejak kapan saya jadi punya kebiasaan membawa kue putri ayu yang satunya dijual seharga seribuan ke pertemuan-pertemuan yang saya datangi.

Di bawah halte busway UI Salemba, para peserta trip sudah berkumpul. Saya segera mengabsen peserta yang sudah datang. Trip kali ini berasa lebih spesial karena dua sahabat kental saya, Nana dan Henny mau ikut bergabung di detik-detik terakhir. Welcome to the Club Ladies. Mereka berdua memang suporter sejati saya dan mereka mau mengenal kesibukan saya selama dua bulan terakhir di Kubbu BPJ.

Pukul setengah delapan trip dimulai di tempat tujuan pertama yaitu Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Adi, selaku humas yang juga merupakan anggota KUBBU BPJ menjelaskan sejarah berdirinya fakultas kedokteran UI. Peserta dibawa berkeliling gedung bersejarah yang menjadi saksi pergerakan pemuda Indonesia. Lorong-lorong yang pernah dilewati oleh para cerdik cendekia itu masih sama seperti dahulu, terpelihara dan terjaga.




Di bagian belakang gedung klasik FKUI, berdiri gedung megah yang difungsikan sebagai museum kedokteran. Para peserta tour BOB diajak bersantai duduk di selasar belakang gedung Indonesian Medical Education & Research Institute dan diberikan kuis. Mba Dewi menjadi salah satu peserta yang menerima hadiah kuis pagi itu.







Museum Mohammad Husni Thamrin
Wahyu Prabowo dan Yoga Prakoso yang bertindak sebagai pemandu mengajak rombongan berjalan meninggalkan gedung penuh sejarah FKUI menuju destinasi selanjutnya yaitu Museum M. Husni Thamrin.

Kami berjalan menyusuri trotoar melewati pasar Kenari.



Saya tidak pernah menyangka ada Museum di dalam sebuah jalan kecil di Kenari. Patung M Husni Thamrin yang melangkah maju dan berwarna keemasan menjadi simbol pergerakan pemuda menyambut kami di pelataran museum. Terik matahari membuat museum M. Husni Thamrin yang dilengkapi dengan pendingin udara seolah berubah menjadi oase nan menyejukkan bagi peserta trip.

Lewat keterangan pemandu, saya baru mengetahui bahwa tokoh bangsa M. Husni Thamrin ternyata keturunan Inggris yang memang datang dari keluarga berada, namun kecintaannya pada Indonesia tak perlu diragukan lagi.

Museum ini juga memiliki ruang audio visual yang mempertontonkan film dokumenter pada peserta. Usai mengelilingi museum, peserta pun diberikan sebuah DVD secara cuma-cuma.

Tak hanya mengelilingi museum, pemandu juga megajak kami menelusuri sisa stasiun Salemba yang kini sudah menjadi rumah penduduk. Meski sudah bersalin rupa, namun pilar-pilar khas arsitektur Belanda masih terlihat jelas.


Panti Vincentius Putra
Perjalan berlanjut menuju bangunan kompleks gereja Vincentius. Teduhnya halaman yang dipenuhi pohon-pohon besar juga bangunan panti asuhan Vincentius yang masih terjaga keasliannya menjadi tempat tujuan kami.

Prasasti dengan tulisan Belanda yang terpahat di dinding  menjadi bukti sejarah pergerakan pemuda yang pernah berkumpul di tempat ini. Gedung yang masih aktif digunakan sebagai panti asuhan putra ini masih sangat terjaga keasliannya.




Museum Sumpah Pemuda
Tujuan terakhir kami adalah Museum Sumpah Pemuda. Kami tiba di museum ini setelah berjalan menyusuri trotoar selama kurang lebih lima menit dari panti asuhan Vincentius Putra.

Patung para pemuda di bagian depan museum seolah perlambang semangat pemuda Indonesia untuk terus bersatu. Rasa Lelah kami seolah hilang mendengarkan penjelasan pemandu tentang bersatunya para pemuda, atmosfer kebangsaan semakin kuat dikarenakan lagu-lagu nasional yang diputar di seantero museum.

Replika WR. Supratman dengan biola dan teks lagu Indonesia raya menjadi pelengkap museum. Rasa-rasanya saya bangga sekali melihat semangat pemuda Indonesia yang terpatri di sana.




Trip BOB KUBBU BPJ berakhir di museum ini. Kami semua berkumpul di halaman belakang untuk mendengar kesan peserta. Kuis dengan hadiah buku-buku bermanfaat dari KUBBU yang dimenangkan oleh beberapa orang. Kemudian menutup kegiatan dengan doa.




My Own Reflection

Benar kiranya pendapat Bung Karno bahwa Pemuda mampu menguasai dunia. Trip di keempat tempat  bersejarah ini membuat saya harus sering menularkan semangat kebangsaan pada siswa-siswa saya di sekolah. Sejatinya di tangan mereka nanti masa depan Bangsa terletak. sebagai saya juga harus lebih rajin mengenalkan museum-museum kepada siswa. Ternyata saya sendiri pun masih kurang pengetahuan sejarah dan museumnya.

You Might Also Like

2 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images