Hijrah Menuju Mekkah

10.51

Berpisah dengan Masjid Nabawi
Hari terakhir di Madinah membuat kami cukup sibuk packing dari malam. Pasar murah di depan masjid Nabawi ditengarai menjadi penyebab membengkaknya koper kami. Maklum banyak sekali benda-benda khas Saudi Arabia yang ingin kami belikan untuk sanak saudara serta teman-teman tersayang di Jakarta


Subuh itu kami berempat berjalan menuju masjid Nabawi untuk sholat berjamaah terakhir kalinya di Desember 2017 karena siang nanti kami akan menuju Mekkah.

Saya betul-betul menikmati menit-menit perpisahan dengan masjid Nabawi ditemani Mba Icha, Mba Nevy dan Maryati. Berfoto dengan di pelataran masjid hingga bermain dengan merpati putih yang ada dilapangan parkir di depan hotel menjadi kenangan manis sebelum meninggalkan Madinah.





Miqot di Masjid Bir Ali
Usai makan siang dan sholat dzuhur di kamar masing-masing, jamaah diminta bersiap menuju bus masing-masing. Jamaah pria sudah mengenakan ihrom. Sepanjang jalan kami terus membaca doa dan mengucapkan talbiyah.

Berangkat menuju Mekkah

Kami menunaikan sholat ashar di masjid Bir Ali kemudian mengucapkan niat umrah. Perjalanan dari Madinah menuju Mekkah akan ditempuh selama 6 jam. Saya memillih untuk terus tidur karena setibanya kami di Mekkah nanti, ibadah umroh akan langsung dilaksanakan.



Selepas ashar dan Miqot di Bir Ali

Zamzam Tower
Pukul sepuluh malam, bus yang membawa rombongan kami merapat di gedung Zamzam Tower. Gedung yang terkenal dengan Menara jamnya. Lagi-lagi rezeki saya, dengan biaya sehemat itu saya menginap di hotel Pullman Zamzam Tower.

Setelah pembagian kamar, kami meletakkan seluruh koper kemudian makan malam di area foodcourt mall di gedung Zamzam Tower.

Mekkah Al Mukaromah
Jamaah rombongan kami berkumpul di lobby hotel Pullman untuk bersiap melakukan ibadah umrah tepat pukul sebelas malam. Pak Zain, pembimbing rombongan kami membagikan alat pendengar yang bentuknya seperti Bluetooth untuk dipasang di telinga yang fungsinya untuk mendengar doa-doa dan mengikutinya.

Lobby Pullman Hotel
Akhirnya saat mendebarkan itu tiba. Rombongan kami turun menuju Kabah seraya mengucapkan talbiyah. Pertama kaki saya melangkah masuk ke dalam Gate 1 King Abdul Aziz, saya merasakan gemetar, antusias dan takut. Semakin langkah menuruni anak tangga, semakin menciut nyali saya.

Kaki mulai terasa dingin, kalimat-kalimat suci terus mengalun dari bibir saya sesuai bimbingan yang saya dengar dari muthawif Pak Zain melalui alat bantu di telinga. Lutut pun lemas dan gemetar saat bangunan hitam yang suci itu terpampang nyata di depan mata. Pelan-pelan air mata mengalir, tenggorokan tercekat. Bukannya berlebihan, namun saya rasa ini yang dirasakan semua orang ketika melihat Kabah secara langsung.

Sekecil ini namun sangat membantu
Rombongan kami berdoa dan bersiap memasuki jalur tawaf. Kami merapatkan barisan untuk memulai ibadah umrah yang pertama yaitu tawaf, mengelilingi kabah sebanyak tujuh kali. Setiap putaran memiliki doa berbeda yang harus kami rapalkan. 

Dengan alat bantu dengar yang melekat di telinga, saya berusaha mengikuti doa yang diucapkan Pak Zain. Kalau suara pak Zain sudah terdengar putus-putus dan banyak sekali suara kresek ... kresek artinya saya harus segera berlari dan merapatkan posisi sedekat mungkin dengan sang Muthawif Pak Zain.


Menjelang putaran terakhir, rombongan kami makin berjalan menepi menuju pelataran Kabah. Usai tawaf, kami pun sholat sunnah dua rakaat. Pertama kalinya saya sholat berhadapan dengan Kabah. Tak ada satupun anggota rombongan yang tak bergetar dan menangis.

Ibadah umrah selanjutnya adalah Sai. Kalau teman-teman membayangkan sai adalah berlari-larian selama tujuh kali antara dua bukit sebagaimana kisah Siti Hajar dalam Alqur’an, sayangnya tidak seperti itu. Sai dilakukan di dalam gedung yang dipenuhi dengan penyejuk udara dan air zamzam terletak di setiap sudut. Di rombongan saya banyak sekali jamaah sepuh namun mereka tetap bersemangat melakukan Sai.

Tujuh putaran pun telah kami lalu dalam waktu kurang lebih tiga puluh menit. Kami berkumpul untuk berdoa bersama sebagai penutup Sai kemudian berjalan ke arah pelataran Masjidil Harrom untuk melakukan ibadah umrah yang terakhir yaitu tahalul.

Tahalul adalah mencukur rambut, tentu maksudnya bukan mencukur atau menggunting banyak namun beberapa helai rambut pun cukup. Hanya jamaah yang sudah digunting rambutnya yang boleh menggunting rambut jamaah lain. Di rombongan saya dimulai dengan sepasang suami istri saling mengguntingkan rambut kemudian dilanjutkan pada jamaah lain. Karena tahalul hanya boleh dengan muhrimnya kemudian dilanjut akhwat dengan akhwat dan ikhwan dengan ikhwan.




Kabah dan Masjidil Harrom dini hari

Pukul satu dini hari, Muthawif kami Pak Zain membebaskan kami untuk kembali ke hotel atau tetap di Masjidil Harrom. Saya, Maryati, Mba Icha dan Mba Nevy memutuskan tetap tinggal dan mencari minum kemudian berfoto di lantai dua. Dokumentasi malam itu sangat terbatas dan mengandalkan ponsel Mba Icha karena saya memang sengaja tidak membawa ponsel. Saya hanya ingin lebih fokus dan tidak sibuk sendiri dengan foto sana sini, toh besok masih bisa ^_^. Pukul setengah dua kami segera kembali ke hotel untuk beristirahat. 





Zamzam Tower dinihari

Catatan kecil untuk sebuah nama di masa depan:
Suatu hari nanti saya ingin kita saling menggunting rambut saat tahalul selepas Sai dan mungkin saling memijit kaki. 

You Might Also Like

17 comments

  1. Cerita bagus, menginspirasi saya juga agar suatu saat bisa melakukan ziarah sesuai keyakinan saya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. Semoga perjalanan ibadahnya segera terwujud yaa

      Hapus
  2. insyaallah saya akan umroh. masih tetap selalu berdoa dikabulkan

    BalasHapus
  3. Masyaallah.. Perjalanan religi yang menggetarkan hati siapapun yang membaca tulisan mbak yunita...

    BalasHapus
  4. Jadi kepengen Umroh juga dan melihat Kabah. Penasaran sama ritual Sai. Kira-kira berapa meter lari-lari kecilnya, Kak Yun?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sekitar 500m 1 balik kalau ga salah ya

      Hapus
  5. Pas kak yun masuk k Gate 1 King Abdul Aziz aku ikut merinding. Pas kk liat bangunan hitam depan mata aku ikut nangis. Cerita yang benar-benar menginspirasi kak.

    BalasHapus
  6. Catatan kecil di akhir terdengar seperti doa yang teramat tulus. Saya turut mengaminkan dari sini Kak Yun .

    BalasHapus
  7. Mbak Yun, duh saya jadi makin kangen sama Ka'bah... ngerasa kemarin belum maksimal, tapi masih harus nunggu 2 tahun lagi kalau enggak mau kena pajak progesif

    BalasHapus
  8. Foto yang di Zamzam Tower udah kaya di depan jam Big Ben saja mbak Yun

    BalasHapus
  9. Amiiinnn, ikut terharu gitu pas baca yang paling bawah hehe
    Semoga aku pun bisa ke sana bersama dia :D

    BalasHapus
  10. Keren mba tulisannya.Membacanya serasa hanyut ke dalam suasana di Mekkah.

    BalasHapus
  11. mau banget ke makkah... cari tiket murah ahh.. aplagi sama pasangan duh syahduu..

    BalasHapus
  12. Catatan kecilnya :) aamiin mba

    Btw foto2 mba yunita selalu terlihat ceria dg senyuman yg sumringah 😊

    Kartini

    BalasHapus
  13. Subhanallah mbak, aku jd pgn bgt bisa masjid Nabawi.. Selama ini cuma tahu dr buku dan tv, sehat2 ya mbak biar bisa umrah lagi.. Aamiin

    BalasHapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images