Indahnya Senja di Pelabuhan Tanjung Priok

20.50

Cerita ini ditulis saat saya sedang trip ala backpacker menyusuri Vietnam hingga Kamboja. Saya sudah berjanji pada diri sendiri bahwa dalam kondisi apapun saya harus tetap berusaha untuk menulis. Tidak ada laptop, ponsel pun jadi. 


Cerita saya kali ini tentang indahnya senja dengan bias matahari terbenam di Pelabuhan Tanjung Priok. Saat matahari keemasan turun,  melemah sinarnya diantara tiang kapal. Persis seperti sajak Chairil Anwar berjudul Senja di Pelabuhan Kecil. 

Senja di Terminal Penumpang Nusantara

Meski bekerja di kawasan Jakarta Utara,  saya belum pernah sekalipun main ke Pelabuhan Tanjung Priok. Hanya pernah ke terminal dan stasiunnya saja. Hingga suatu hari saya melihat pengumuman di grup whatsapp tentang merapatnya kapal Green Peace di Tanjung Priok. 

Green Peace memberi kesempatan bagi kita untuk mengunjungi kapalnya. Seumur-umur,  saya ini belum pernah naik kapal laut, apalagi melihat isi atau interiornya. Paling hanya naik kapal ke pulau Seribu atau kapal yang membelah Chao Praya Bangkok,  sisanya kapal ketrek-ketrek di Bendungan Jatiluhur.

Untuk bisa masuk dan melihat kapal Green Peace kita harus mengisi form dan menuliskan jadwal kedatangan kita. Saya hanya dapat memilih hari terakhir jam empat sore. Dengan menggunakan transportasi online,  saya dan Bernica berangkat ke pelabuhan tepat saat pulang kerja. 

konfirmasi kedatangan

Ternyata pelabuhan itu luas sekali. Penuh kontainer, dan banyak pintu masuk. Setelah putar-putar sampai juga kami ke tempat tujuan yaitu Terminal Penumpang Nusantara pukul empat lebih. Sebenarnya saat itu jam terakhir dan sudah tidak boleh masuk. Saya tidak mau usaha ke Tanjung Priok berakhir sia-sia di pintu gerbangnya saja. Akhirnya saya mengatakan sudah isi formulir dan saya adalah seorang blogger,  sambil menunjukan web saya ini (ihhiy,  gaya yahh?  Begitulah)  akhirnya saya boleh masuk dengan kategori media bersama beberapa awak media lain yang akan meliput. 

Sesuai namanya,  kapal Green Peace ini bernuansa hijau. Sebelum masuk,  saya dan Bernica berfoto dulu di bagian depan kapal. Kami dibawa oleh seorang panitia ke anjungan depan kapal. Seorang relawan Green Peace menjelaskan sejarah kapal ini dan sebuah lonceng tua yang selalu digantung di depan kapal.



Dari anjungan,  kami masuk ke ruangan kapal dioperasikan. Ruangan nahkoda yang sudah modern dengan banyaknya mesin canggih. Jadi agak kecewa,  karena bayangan saya akan ada sebuah steerwheel besar seperti dalam film Pirates of Carribian. Sorry to make you dissapointed kata petugas Green Peace yang bertubuh gempal bermata biru.


Selanjutnya kami turun ke dek bawah. Ada sekoci,  dan berbagai safety prochedure kapal yang selama ini hanya saya lihat di film-film saja. Di bagian paling bawah ternyata sebuah aula. Saya kaget ada aula dalam kapal. Disebutnya recreation room karena di sana awak kapal bisa nonton,  main musik dan sebagainya.

Di ruang aula itu saya,  Bernica dan seorang pengunjung lain duduk. Kami diputarkan sebuah film dokumenter tentang profil Green Peace dan apa saja yang sudah dilakukan di kawasan Asia Tenggara terutama di Indonesia. Saya salut,  karena selama ini pergerakan Green Peace tidak terlalu diekspos di media namun hasil kerjanya diketahui orang banyak. Dalam video dokumenter tersebut, mereka membangun solar panel di beberapa desa di Jawa Tengah. 

Usai film,  seorang petugas menjelaskan bahwa kegiatan Green Peace selama ini selalu didukung oleh donatur di seluruh dunia,  paling banyak dari Eropa. Jika kami ingin menjadi donatur kami dapat mengisi formulir di bawah. Donasi dapat ditransfer atau auto debet tiap bulan dari rekening tabungan ataupun kartu kredit. 

Setelah mengelilingi dan foto-foto pastinya,  kami pun keluar kapal dan kembali ke tempat ruang tunggu penumpang. Langit sore mulai memerah. Perut mulai keroncongan,  kami pun ke kantin yang letaknya persis di atas ruang tunggu. 

Kalau pertama kali menjejakkan kaki di kantin terminal penumpang nusantara, rasanya agak seram. Suasana sepi,  gelap dan agak kusam tapi insha Allah aman. Setelah pesan makan, kami duduk dekat jendela menghadap luar. Seru juga minum kopi sachet-an dengan pemandangan kapal-kapal yang bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan. Entah kenapa ada rasa sepi menyelinap,  saat orang-orang saling melambaikan tangan menuju kapal ditambah hiasan matahari senja di belakangnya.  Perpisahan yang sangat romantis,  bikin mellow.



Ini pertama kalinya saya menikmati senja di pelabuhan. Tak salah kiranya Chairil Anwar bisa menulis puisi sebagus itu kalau pemandangannya seperti ini.  Kalau puisi Senja di Pelabuhan Kecil karya Chairil ditulis buat Sri Ajati,  maka artikel senja di pelabuhan yang saya tulis ini untuk siapa?  Apakah untuk kamu?





You Might Also Like

38 comments

  1. Senja itu paling asyik memang di pelabuhan/dermaga kok hehehehehe. Selain bisa melihat sunset lebih jelas, kadang kapal-kapal yang tertambat menjadi objek lainnya dan menarik diabadikan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul Bang, matahari terbenam kelihatan jelas diantara kapal-kapal

      Hapus
  2. Saya termasuk penikmat sunrise dan sunset di pelabuhan... Sensasinya luar biasa ya mbak yun....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya teh Tuty, rasanya nyess gimana gitu. Apalagi pas sunset, kapal jalan dan orang-orang saling melambaikan tangan

      Hapus
  3. Saya termasuk penikmat sunrise dan sunset di pelabuhan... Sensasinya luar biasa ya mbak yun....

    BalasHapus
  4. Saya termasuk penikmat sunrise dan sunset di pelabuhan... Sensasinya luar biasa ya mbak yun....

    BalasHapus
  5. menarik banget ceritanya... sempet-sempetin nulis selagi traveling

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehhe iseng Kak, daripada blog sepi pengunjung. Lumayan ngabisin waktu di sleeper bus 12 jam daripada bengong kan

      Hapus
  6. Hebat benar ih, dari ponsel dan dalam bus yang sedang berjalan bisa nulis sebagus ini. Ceritanya juga mengalir lancar.

    Selamat menjelajah Vietnam Mbak Yuni..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Kak Evi, jadi makin semangat dipuji sama travel blogger senior begini mah hehehe

      Hapus
  7. Akhirnya profesi blogger bisa dimanfaatkan juga ya di situasi emergency. Wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahhaa yup, untung web-nya udah yang ini bukan yang alay itu ahahha

      Hapus
  8. Waktu mau lihat kapal Rainbow Warrior ini, saya juga muter-muter nyari Terminal Penumpang Nusantara. Maklum baru pertama kali ke Pelabuhan Tanjung Priok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Luas kan Mas, sampe bingung bolak balik sana sini mana ketemunya truk-truk gede semua kaya Optimus Prime

      Hapus
  9. Blogger sejati nih, masih bisa nulis pas lagi trip dan pake ponsel pula. Keren kak! Btw, oleh2nya jangan lupa kak! Wkwk

    Wah, ceritanya cakep. Gue juga salah satu penikmat senja sih, eh lebih tepatnya pengagum langit. Hehe

    BalasHapus
  10. Wihhhh mantap tuh kak menyempatkan buat nulis, meski gal bawa laptop. Yang penting udah niatnya ya, padahal ya kalau diniatin sih sebenarnya bisa aja sih nulisnya di hp. Pasti bisa ������

    Asik ya backpakeran gitu ihh apalagi sambil menikmati senja. Bahkan, menikmati senja dipelabuhan itu menurut aku sih beda feelnya karena gak ada bangunan tinggi atau apapun. Jadi berasa alami sih wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenernya agak ga puas karena fotonya jadi seadanya yg di ponsel aja, tapi lumayan lah daripada blog sepi. Daripada mati gaya juga 12.5 jam di sleeper bus mendingan say nulis Kak hehehhe

      Hapus
  11. Menikmati senja di Tengah Kota aja udah asik, gimana di Pelabuhan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi kalau sama si dia juga ya Day

      Hapus
  12. Cantik banget senjanya ya. Aku belum pernah lihat senja di pelabuhan. Pernahnya di bandara sama pantai. Itu kapal Greenpeace memang sering merapat ke Jakarta kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada sensasi beda lihat senja di Pelabuhan Mba, mellow gimana gitu. Kapal Green Peace punya jadwal tertentu untuk merapat di Asia Tenggara.

      Hapus
  13. Itu sampingan sama pelabuhan peti kemas juga ya kak? Ah waktu itu pengen ke sana juga tapi udah full gitu, udah nggak bisa pesan lagi. Syedihh saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waktu ke terminal penumpang nusantara lewati banyak peti kemas. Wah sayang yaa melewatkan kesempatan liat kapal Green Peace

      Hapus
  14. Pengen banget ke Tanjung Priok jg kapan2, saat senja, buat hunting foto :D
    TFS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya keren banget pasti foto di sini tapi panasnya luar biasa Kak

      Hapus
  15. Seu sekali traveelingnya mbak..selain seru juga saya jadi terinspirasi dengan semboyannya, harus nulis trada laptop HP pun jadi. :)

    Enak juga emang kalau udah punya web bisa jadi senjata buat bisa masuk, plus bisa ceritain hal hal seru selama bertraveling. Pokoknya nanti setelah anak lahir harus meneruskan hobi lagi, traveling!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalau saya bisa menginspirasi. Ayo Mba nanti si kecil diajak traveling juga

      Hapus
  16. pelabuhan memang selalu menyenangkan untuk menikmati sunset dan sunrise.
    btw, saya sudah lama banget gak main2 ke tanjung priok.
    pengen hunting2 foto dengan latar belakang tumpukan kontainernya dan kapalnya euy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini pasti keren banget Kak, sayang kemarin saya hanya foto segini saja, karena kalau dah malam pasti ga bagus difotonya

      Hapus
  17. Jakarta ternyata juga punya tempat menikmati sunset yang kece.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang beberapa waktu lalu sunset di Jakarta lagi bagus-bagusnya. Teman yg foto dari jembatan Tomang aja bagus banget hasilnya. Ini hasil foto di Pelabuhan sama aslinya jauh beda. Memang kamera terbaik itu ya mata kita sih hehehhe

      Hapus
  18. aku cuma pernah menikmati di Tanjung Perak sih
    cuma kok, ini juga asli keren
    apalagi klo bisa melambaikkan tisu putih

    #tertitanic

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aiih romantis gimana gitu yaa kaya scene film Titanic

      Hapus
  19. Seru banget bisa main ke kapal green peace! :)
    Dapet bonus lihat senja di pelabuhan lagi :D

    Cheers,
    Dee - heydeerahma.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru Mba, apalagi pas lihat film dokumenter kegiatan Green Peace selama ini untuk menjaga lingkungan

      Hapus
  20. Wah senja di pelabuhannya seru sekali. Aku pertama dan terakhir kali naik kapal besar sepertinya waktu kecil ketiak menyebrang dari Kalimantan ke Jawa, itupun aku lupa bagaimana rasanya. Ingin rasanya melihat-lihat lagi bagaimana kapal besar, kalau suatu saat Greenpeace berlabuh lagi kasih tau aku ya mbak, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siaap kalau ada info pasti nanti disebar

      Hapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images