My Son Sanctuary, Candi Hindu tertua di Vietnam yang dipelajari dari Indonesia

21.43




Habis makan cuci piring ya
Pukul enam pagi kami sudah bangun dan bersiap-siap, sebab pukul delapan nanti kami akan ikut trip My Son tour. Trip ini mengunjungi situs peradaban Hindu kuno tertua di Vietnam. My Son Sanctuary Tour ini termasuk wisata unggulan Hoi An yang tak boleh dilewatkan.


My Son tour berakhir pukul dua siang sehingga kami harus check out pagi. Uniknya di Tribee Kinh hostel ini disediakan suvenir bagi para turis yang menginap. Suvenir yang diberikan berupa peluit yang terbuat dari keramik dengan bentuk binatang yang lucu-lucu. Saya tak mengambil suvenir itu, sayang sih sebenarnya tapi carrierl saya kecil dan perjalanan pun masih seminggu lagi, khawatir peluit itu akan pecah.


aneka pilihan peluit sebagai souvenir untuk tamu Tribee Kinh Hostel
Usai urusan check out kami pun sarapan di bagian depan hostel yang biasa digunakan untuk kafe juga. Menu sarapan yang tersedia saat itu adalah telur, muffin, waffle, pancake, roti tawar, pisang dan aneka selai homemade.




Sambil menunggu omelet pesanan saya selesai dibuat, saya melihat sekeliling tak satupun wajah Asia terlihat selain saya dan Bernica. Di meja makan tertempel sebuah sticker bertuliskan “Eat as much as you want, don’t forget to wash your dishes”. Saya menikmati sarapan pagi sambil melihat beberapa bule couple mencuci piring dengan romantis. Ahh masih pagi sepertinya untuk iri hati hahahhaa.

nyuci piring aja bisa sweet gini ya
Maksud hati ingin terus menikmati aneka menu sarapan apalagi pisang bakar dengan tambahan selai kacang dan madu yang asli enak banget, tapi apa daya. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh empat puluh lima, kami harus segera menyeberang ke kantor Sinh tour.

Ruang makan Tribee Kinh hostel
Di dalam kantor Sinh tour terdapat sebuah rak besar tiga susun di mana kita bisa menitipkan carrierl ataupun koper selama mengikuti tour. Setelah kami meletakkan carrierl di rak besar itu, seorang pria lokal Vietnam berpenampilan parlente muncul menjemput rombongan yang akan mengikuti My Son Tour. Peserta rombongan segera menaiki bus yang sudah terparkir di depan kantor Sinh Tour.



Mister Wan dan jokes garingnya
Jika di Da Nang tour guide kami adalah sosok pemuda lembut nan pemalu dengan bahasa Inggris yang dibuat ala British, kali ini di Hoi An guide kami adalah pria usia 40-an yang ceroboh, lucu dan selalu melontarkan jokes garing. Mister Wan, begitu ia ingin dipanggil berdiri di tengah-tengah bus dan bersuara dengan lantang.
I hope that you can listen to my voice because microphone here is broken. It used to be the best microphone in the world since it made in China. Hahahhaa China? The best?”

our guide today
Kocak kan, dia yang ngomong dia juga yang ketawa sendiri. Rupanya Mister Wan ini sedang bangkrut karena semalam habis taruhan judi bola dan ia kalah. Semalam pertandingan bola piala dunia memang penuh kejutan ketika Der panser bisa bertekuk lutut pada Oppa Korea Selatan. Selama perjalanan turis-turis sibuk memfoto pemandangan di luar jendela bus yang menyajikan hamparan sawah membentang luas nan menghijau, sementara saya hanya senyum-senyum saja. Seperti itu sih di Indonesia banyak, cibir saya ehhehehe.

pemandangan sepanjang jalan
Bangganya menjadi orang Indonesia
Udara mencapai tiga puluh delapan derajat celcius saat bus memasuki gerbang My Son Sanctuary. Memang sudah diperingatkan dalam itinerary tour bahwa kawasan My Son ini sangatlah panas. Kami berjalan memasuki gerbang kemudian naik shuttle car menuju lokasi terdekat dari candi.





Perjalanan menembus hutan di bawah terik matahari cukup membuat dehidrasi. Lima menit berjalan rasanya sudah berada di dalam penggorengan. Kawasan My Son Sanctuary ini memiliki lima kawasan, kami sedang menuju kawasan A dengan relik candi terbesar dan paling utuh.

Berdasarkan keterangan Mister Wan, My Son Sanctuary dibangun sekira abad 16 oleh Raja Champa dari kerajaan Champa.
It was Indonesia people, Javanesse that taught local Vietnam how to pray and built temples

Saya dan Bernica langsung merasa bangga sebangga-sebangganya mendengar penjelasan ini. Bayangkan, ternyata pelajaran agama Hindu yang diketahui orang Vietnam itu dari orang Indonesia. Sambil senyum-senyum saya bilang pada beberapa orang turis asing di sekitar saya.

I am Indonesian.” kata saya bangga, padahal mereka tidak bertanya hehhehe.

Candi kawasan A berupa bangunan dari bata merah, sebagian sudah bergelimpangan dan hancur di beberapa sisi. Sisanya mampu bertahan digempur cuaca. Relief candi yang terpahat sangatlah mirip dengan candi-candi Hindu di Indonesia.





ceritanya lagi belajar nge-vlog

Lima belas menit kemudian rombongan kami pun pindah menuju candi kawasan B. Secara fisik kawasan B ini mirip sekali dengan candi Ratu Boko. Kawasan candi B ini sudah direstorasi, sebagian material candi merupakan tambalan dengan batu buatan yang baru hingga perbedaan warnanya begitu terlihat.


Kawasan B ini paling hancur karena saat perang Vietnam, tentara Vietkong bersembunyi di area ini dan US Army terus membombardir kawasan  tempat ibadah ini. beberapa bangunan yang terkena bom dan tanah-tanah yang memiliki ceruk dalam akibat lemparan granat masih dibiarkan seperti kondisi aslinya. Ironi sekali.

sekilas seperti candi Ratu Boko



reruntuhan candi yang pernah dibom tentara Amerika


Hari semakin panas, rombongan kami hanya berjalan melewati candi kawasan C, D dan E karena memang tidak sebesar dan seasli kawasan A dan B. Tak lama berjalan kami sampai sudah ke tempat parkir shuttle car. Beberapa turis yang  tak kuat panas membasuh tubuh mereka dengan air mineral dingin.

Makan siang di atas perahu
Rombongan kami kembali ke Hai Ba Thrung, kantor Sinh Tour. Bagi peserta yang mengambil tour perahu diturunkan di sebuah dermaga. Saat itu hanya ada kima belas turis termasuk kami yang mengambil paket perahu.

Di dalam itinerary disebutkan bahwa tersedia makan siang di perahu. Saat kami ditinggal Mister Wan ia pun berkata, “Today is vegetarian day in our country so please enjoy your lunch.” Wah ini kode apa ya dari dia?


Perahu yang kami naiki pun membelah sungai Hoi An. Dengan model perahu tradisional, saya merasa sedang ada di di kawasan Eretan Indramayu. Saat makan siang dibagikan saya terpana. Memang tertera bahwa disediakan light lunch di kapal tapi benar-benar light. Sang nahkoda membagikan piring-piring plastik yang berisi nasi, tumis sayur (kol, kacang panjang, wortel serta sedikit potongan tahu) dan sedikit saus cabai. Arrgghhh jam satu siang dan sudah dalam kondisi lapar seperti ini saya tak punya pilihan lain selain memakan light lunch yang ada.

bule yang doyan menu light lunch

ya seperti ini menu light lunch

Tepat pukul dua siang perahu merapat di dermaga pasar malam sungai Hoi An. Beberapa stand sudah buka walau belum seramai suasana pasar malam. Karena masih lapar, saya pun membeli gorengan yang seperti peyek udang berukuran besar seharga 30.000 VND (setara Rp 21.000).





Hoi An Coffee Roastery
Perjalanan kami ke kota selanjutnya  akan diberangkatkan pukul lima nanti sore, sehingga kami punya banyak waktu luang mengeksplorasi kawasan sungai Hoi An yang semalam begitu gelap karena festival lentera.



Tujuan kami adalah ngopi cantik di kafe yang kami lihat tadi malam. Kafe Hoi An Roastery. Kafe ini begitu teduh di tengah teriknya matahari sore di Hoi An. Saat kami tiba, kami disodorkan handuk putih yang sudah dibekukan untuk meneduhkan kulit yang tersengat matahari. Segelas hazelnut coffee membasuh dahaga sore itu. 

Kecantikan kafe Hoi An Roastery juga digunakan para turis berfoto cantik di halamannya bahkan sampai berkostum Ao Dai, gaun khas Vietnam.




Vietnam rasa Pantura
Kami berjalan menyusuri Hai Ba Trung Road menuju Sinh Tour. Sepanjang jalan merupakan toko bahan dan penjahit dengan model pakaian yang cantik-cantik. Memang kota ini terkenal dengan kemampuan penjahitnya, baju yang bisa cepat dibuat. Modis namun harganya tak mencekik. Kalau punya waktu banyak di Hoi An memang disarankan untuk menjahit baju.


Setelah sholat, saya pun Menumpang mandi di kantor Sinh tour. Sambil menunggu waktu berangkat menuju Nha Trang, kami mencari makan yang sesuai budget dan pastinya halal untuk saya. Sore ini kami makan nasi ayam hainam yang murah meriah.


Menjelang maghrib kami pun berangkat dengan sleeper bus menuju Nha Trang yang diperkirakan akan tiba nanti subuh. Ini pertama kalinya saya melihat sleeper bus yang sesuai makna sebenarnya. Bus ini tidak menyediakan bangku namun berupa tempat tidur tingkat sebanyak tiga jajar. Untuk ukuran orang Asia memang cukup, namun turis bule terpaksa harus menekuk kaki.



Perjalanan menuju Nha Trang seperti melalui jalan antar kota antar provinsi serupa jalur pantura yang dipenuhi dengan truk. Lucunya lagi saat bus kami mampir di rest area. Kondisi jalan, kendaraan, bahkan rest area-nya pun persis seperti di daerah Subang. Benar-benar Vietnam rasa pantura. karena begitu nyamannya di dalam bus, saya pun bisa tertidur dengan nyenyak. Tak sabar menanti tiba di kota selanjutnya dan kejutan apa yang menanti di sana.






Baca juga:
Kisah nostalgia di Indramayu


You Might Also Like

39 comments

  1. Wah luar biasa perjalanannya, btw Miss Yun apakah diinfokan juga yang mengajarkan agama Hindu ke Vietnam? Ato maksudnya raja Champa itu dr Indonesia?

    BalasHapus
  2. Pengalaman yang luar biasa. Menyaksikan maha karya yang asal muasalnya bersentuhan dengan Indonesia. Jadi ingin kesana.

    BalasHapus
  3. Kak Yun , seru banget My Son trip nya. Anw , jadi pengen tau, Kak yun pesen trip2 Vietnam di Sinh Tour sejak masih di Indonesia atau pas sudah sampai di Hoi An ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sejak di Indonesia Kak, aku terbiasa ngatur semuanya sebelum berangkat jadi tinggal lenggang kangkung di negara tujuan

      Hapus
  4. Di Indonesia ada sleeper bus juga nggak sih? Kok kayanya enak kalo ke luar kota busnya kaya gitu hehe
    Ikut bangga juga ternyata yang mengajarkan agama Hindu ke Vietnam salah satunya Indonesia

    BalasHapus
  5. Selalu suka baca tulisan Mbak Yun. Antusias dan positive nya itu terasa sampai ke pembaca. Saya ikut bangga waktu dikatakan mereka mengenal hindu dari Indonesia, bahkan candi hindu nya mirip2dengan candi hindu kita di jawa. Saat mbak mengatakan vietnam rasa pantura atau seperti di eretan indramayu, apakah mbak sedang rindu (seseorang...hehehe) di Indonesia?
    Ups.. Yang pasti bangga ya,mbak menjadi orang Indonesia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm teh Tuti memang pandai mrmbaca suasana. Iya saya sedang merindu dan terus merindu dia #ehh

      Hapus
  6. Salutlah saya dengan negeri kita tercinta yang sarat budaya. Semoga ke depannya bangsa kita bisa lebih menghargai warisan nenek moyang yang sungguh kaya makna ini. Bahkan negara luar pun mengakuinya.

    BalasHapus
  7. Ah.. Jadi kangen ngetrip ke Vietnam.. Bangga jadi orang Indonesia.. Apalagi di Vietnam nilai Rupiah kita lebih kuat dibandingkan VND.. Hehe..

    BalasHapus
  8. Ah.. Jadi kangen ngetrip ke Vietnam.. Bangga jadi orang Indonesia.. Apalagi di Vietnam nilai Rupiah kita lebih kuat dibandingkan VND.. Hehe..

    BalasHapus
  9. Wah jalan-jalannya seru, banyak detail nya yang mirip di Indonesia ternyata, tetap semangata kak, jalan-jalan terus, biar bisa terus update cerita nya

    BalasHapus
  10. Bangga deh jadi warga Indonesia hehe, btw seru bgt perjalanannya ka dan kayany enak tuh naik sleeper bus jadi pengen coba tapi di indo mah ga ada, ada juga kereta sleeper itupun bejibun harganya 🤣 haha

    BalasHapus
  11. Sleeper bus, unik yaa... Jadi ingin coba , kl gini man gak perlu nekuk kaki lama2 ��

    BalasHapus
  12. Serasa jalan-jalan ke Vietnam baca tulisan lu Mba, itu yang mirip Pantura keren juga yah hahahha.

    BalasHapus
  13. Unik ya namanya My Son Sanctuary. Ikutan bangga jadi orang Indonesia karena bisa mengajarkan kebudayaan di negara lain. Perjalanannya seru ya, Miss.

    BalasHapus
  14. Kalau dilihat sepintas, vietnam itu gak jauh beda sama Indonesia ya, mulai dari booth kaki lima, warung, keadaan jalan raya, hampir sama plek ketiplek
    -Galuh-

    BalasHapus
  15. Candi sama suasana rest areanya koq mirip banget ya ama candi jawa dan jalur pantura.. 🤣🤣
    Sayang gk ada foto turis pake ao dai, padahal mau liat kaya gmn.. 😁

    BalasHapus
  16. Sleeper bus baru beberapa waktu lalu namanya mulai naik daun di Indonesia, kalo tidak salah pioneernya adalah sleeper bus dengan trayek Jakarta ke Wonosobo.

    BalasHapus
  17. Rasa ingin mengunjungi vietnam semakin bertambah setelah membaca tulisan kak yun. Makasih kak yun, bisa jadi itinerary selama disana nih artikelnya.

    BalasHapus
  18. Kalau diluar negeri,aku merasa rasa kebangsaan ku kok jadi 2kali lebih besar. Dengar lagu kebangsaan kita saja bisa bikin aku terisak isak.Sama seperti waktu kamu merasa bangga pada trip ini.
    Ulasannya lengkap benar begitu juga dengan foto fotonya.

    BalasHapus
  19. pria vietnam berpenampilan perlente tuh yang kaya apa kak? aku terjebak penasaran. Kok aku ngakak ngebayangin kak yun g ditanya bilanh Im Indonesian. hhe

    BalasHapus
  20. Candi-candinya mirip tapi sepertinya tetap punya kekhasan tersendiri ya, Kak. Menyenangkan banget itu jalan-jalannya sama tour guide yang kocak, hahaha...

    BalasHapus
  21. wah antik juga ya cuci piring sendiri, baru dengar ada yang begini hehe

    BalasHapus
  22. Sarapannya bukan aku banget ya mbak hehe, terbiasa nasi uduk/lonsay.
    Hahahaha i'm indonesian. Aku jadi ngebayangin mbak yun ngomong gitu sambil bisik2 ��.
    Sekilas bentuknya mirip gua sunyaragi yg di cirebon ya hehehe.
    Tp itu panas banget yaa cuma langitnya jadi terlihat bagus banget. So blue..... Yg penting perasaannya tidak blue. Hahaha. Mencoba ngejokes garing seperti mr wan

    BalasHapus
  23. Wahhh lucu juga ya hotelnya membolehkan para penghuni hotel makan sepuasnya tapi setelah itu diminta cuci piring. Hahaa. Di Indonesia harusnya ada nih hotel begitu. Hehe. Eh, apa jangan2 udah ada ya hotel yg punya sistem kayak gitu di Indonesia? Hehe

    BalasHapus
  24. Ke sana berdua aja mba, Yun?
    Selain ke Vietnam kemana aja?

    Aku liatnya kayak lagi liburan di jawa ya hehe..

    BalasHapus
  25. mbak bagaimana kondisi di Vietnam mirip di jawa? suasana pedesaanya kok sama? mereka disana bisa pakai bahasa Indonesia kah?

    BalasHapus
  26. Tipe tipe candinya hampir mirip dengan candi-candi yang ada di Indonesia, mungkin karena sama-sama candi hindu kali ya

    BalasHapus
  27. Baca artikel ini cape...bawaannya pingin selonjoran di kasuur, berasa banget abis dibawa jalan-jalan sama mba yun....bener bener menikmati banget sajiaannya loh

    BalasHapus
  28. Kaaak, seru banget ceritanya. Btw, aku jadi ngebayangin wajah bule-bule itu saat Kak Yun ngaku, "I'm Indonesian" padahal enggak ditanya. Lucu pasti rautnya ya. Hehehe.

    BalasHapus
  29. Aku kira yang pertama itu kue eh ternyata pluit.. hindu ya sama kaya di arjuna donk

    BalasHapus
  30. Berapa lama Jeng di Vietnam? Banyak ya tempat yang dikunjungi dan ulasannya cukup detail. Aku baru tahu tentang candi Hindu yang dibangun Raja Champa. Bangga deh :)

    BalasHapus
  31. kapan ya aku kesana. Semoga bisa jalan-jalan kaya kak yun segera deh. Keliling vietnam asik!

    BalasHapus
  32. Seru banget jalan2 nya Mis Yun. Mulai wisata dicandi, menyeberang sungai, ngopi sampai tidur di BUS. Btw, Candi-candinya sama aja ya kayak di Indonesia. Hehe

    BalasHapus
  33. Mantap kakak. Salam from Bali. Kapan ya aku bisa trip ke luar negeri

    BalasHapus
  34. keren nih jalan-jalan ke sana, mampir balik ke blogku ya kak :)

    BalasHapus
  35. baca ini jadi kepingin liburan kesana :)

    BalasHapus
  36. Waduuuh 38 dercel? ? Aku lgs pusing bayanginnya hahahaha.. Penyakitku banget, ga bisa kena panas. Pasti lgs sakit. Aku pas ke vietnam, tp cm HCMC nya aja, pas desember. Jd cuaca sejuk mba. Pgn banget ke vietnam , datangin kota2 lainnya, sampe ke Sapa pengennya.

    Itu sayang ya candi banyak yg ancur.. Belum lg yg kena bom pas perang :(. Dan aku jd tau loh ajaran Hindu di sana berasal dr Indonesia :)

    BalasHapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images