Menjemput Senja di Jalan Braga

16.35


“Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi" - Pidi Baiq -



Tak salah kiranya Pidi Baiq mengguratkan kecintaan pada Bandung dengan kata-kata seperti di atas, sebab demikian pula perasaan saya pada kota kembang ini. Bicara tentang Bandung maka pikiran akan mengudara pada kota yang kaya akan kuliner dan juga penuh dengan gedung-gedung kuno peninggalan Belanda.

Braga punya cerita

Ada dua Kawasan Bandung yang sangat saya sukai yaitu jalan Setiabudi dan jalan Braga. Alasannya sederhana, saya pernah menuntut ilmu di sebuah Universitas di jalan Setiabudi dan saya suka gedung serta atmosfer zaman dulu yang bisa dijumpai di jalan Braga.

Jalan Braga terkenal sejak zaman baheula bahkan di awal tahun 2000-an penyanyi pop remaja asal Jerman, Gill Ofarim pernah membuat video clip single-nya yang berjudul Live Your Dreams di jalan Braga Bandung. Menikmati kesyahduan jalan Braga seolah membawa kita ke masa lalu sambil menikmati secangkir kopi. Tiada senja di sebuah kota yang lebih syahdu daripada senja di jalan Braga. Di pertengahan Agustus, saya mengajak dua sahabat saya menikmati eksotika jalan Braga sambil ngopi cantik.


Sore itu saya bertiga dengan Henny dan Nana berniat menikmati senja di Braga. Saya sudah meyakinkan kedua sahabat ini bahwa menikmati kopi di Kawasan Braga itu rasanya sungguh berbeda. Kami rela menempuh perjalanan dari Jakarta.

Off we go ...

Sore itu langit cerah menyambut kami memasuki kota kembang. Setelah mendapat tempat parkir yang nyaman, kami berjalan melewati Cikapundung kemudian menyeberang memasuki jalan Braga.

Menara jam di Cikapundung

Salah satu kopi lucu di Cikapundung River Side

Lucunya kedatangan kami seolah dibarengi oleh mobil wisata Banros milik pemkot Bandung. Mobil Banros yang secara fisik persis seperti mobil zaman dulu nampak serasi melintasi jalan Braga yang berhiaskan gedung-gedung klasik. Selain menikmati Gedung klasik, pejalan kaki juga bisa menikmati aneka lukisan yang dipajang sepanjang jalan. Benar-benar Kawasan yang bercita rasa seni.

Mobil Banros

Gedung depan saya pernah jadi lokasi shooting fiilm Madre
yang diangkat dari buku karya Dee Lestari

banyak penjual lukisan di jalan Braga


Sebuah kafe kopi terletak di jantung jalan Braga. Dahulu kafe kopi itu adalah sebuah toko buku kuno. Toko kopi Djawa menjadi incaran kami untuk duduk santai sore ini. Antrian di toko kopi Djawa sudah mengular saat kami masuk. Saya mengantri, sementara kedua sahabat saya mencari tempat duduk. Selain kopi susu special yang memakai gula jawa, aneka kue dan roti disusun di dalam rak yang bernuansa vintage. Beruntung, saat kopi pesanan selesai, kami pun mendapat tempat duduk.

Kopi Toko Djawa dahulunya Toko Buku Djawa

aneka kue di etalase vintage

Akang barrista




Toko kopi Djawa masih mempertahankan bangunan asli, bahkan lantainya masih berupa ubin berwarna kuning. Di bagian dalam terdapat sebuah ruang kecil yang menjual pernak pernik jadul. Saya menemukan buku agenda, kertas surat bahkan roll film (benda ini tak dikenal oleh anak zaman sekarang ehheheh) di dalam toko kecil ini.

sofa vintage di dalam toko kopi Djawa
Interior ruangan Toko Kopi Djawa
woow roll film, asa berapa itu? ahahhahaa

Kopi pun telah habis dinikmati, kami masih ingin melanjutkan wisata dengan nuansa nostalgia. Berjalan hingga ujung jalan Braga menyaksikan matahari yang perlahan tenggelam di balik atap gedung kuno.

Karena perut sudah lapar, kami kembali ke parkir mobil dan segera menuju Kawasan Cihampelas untuk makan iga bakar si Jangkung. Duh, Iga bakar yang empuk dan lembut ditambah kecap dan sambal disajikan di atas piring tembikar. Versi Indonesia dari hotplate, rasanya tak usah ditanya karena bagi saya makanan Indonesia itu hanya punya dua rasa, enak dan sangat enak. Hidup kuliner Indonesia!!!

iga bakar yang lembut


You Might Also Like

12 comments

  1. Tos kita, kak yun. ke Bandung belum lengkap kalau belum ke Jl Braga. Sengaja cari hotel yg dekat Braga, agar bisa bolak balik menyusuri jl tersebut. Hanya seperti itu, karena saya sangat menikmatinya daripada wisata kilometernya.


    BalasHapus
  2. Tos kita, kak yun. ke Bandung belum lengkap kalau belum ke Jl Braga. Sengaja cari hotel yg dekat Braga, agar bisa bolak balik menyusuri jl tersebut. Hanya seperti itu, karena saya sangat menikmatinya daripada wisata kilometernya.


    BalasHapus
  3. Apa kabar ya, Gill Ofarim dan The Moffats? #ketahuanUmur

    BalasHapus
  4. kenapa pilih makan malam nya di iga bakar si Jangkung, miss Yun? :D

    BalasHapus
  5. Jalan Braga ini salah satu tempat yang spesial buat saya, punya kenangan tersendiri hehehehehe. Baca tulisan ini jadi inget dan pingin jalan-jalan ke Bandung lagi.

    BalasHapus
  6. wah.. makasi sharenya mba. Saya baru sekali ke Bandung tahun 2012, pengen kesana lagi. Dulu ga sempet berlama-lama main di jalan Braga juga, cuma sebentar bangeet hehe

    BalasHapus
  7. dulu sebelum banyak pertokoan, bragalah pusat keramaiannya

    BalasHapus
  8. Bandung, kota kecil penuh cerita. Melupakannya adalah sebuah kemustahilan. Siapa yang tidak betah dengan kebudayaan, pendidikan, keindahannya.

    BalasHapus
  9. Bandung memang selalu di hati <3

    BalasHapus
  10. Tempatnya bagus mba. CUma saya terakhir saya ke saja pas ujan jadi gak terlalu puas main-main di sana

    BalasHapus
  11. Sesekali cobain juice gitu mbak, buat minuman. Lebih menyehatkan wkwkwk...

    BalasHapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images