Nonton, Reuni dan Nostalgia di Film Si Doel The Movie

21.48

Siapa tak kenal sinetron yang digagas, disutradarai bahkan dibintangi sendiri oleh aktor kawakan Rano Karno.  Generasi 90-an pasti hapal benar betapa sinetron kala itu sangat bermutu baik dari isi, dan pesan moralnya.  


Si Doel Anak Sekolahan dengan kisah cinta segitiga antara Doel,  Sarah dan Zaenab mampu menyedot perhatian penonton. Sinetron yang begitu dekat dengan realita keseharian masyarakat terutama Betawi ini sangat ditunggu tiap jadwal tayang dan masih ditunggu hingga kini. 

Saat kabar Sinetron Si Doel Anak Sekolahan akan diangkat ke layar lebar terdengar, kabar itu menjadi obrolan hits grup-grup nostalgia angkatan 90-an.  Kebetulan saya sendiri memang aktif di grup nostalgia 80's-90's. Kami pun bernostalgia membahas kisah-kisah lama,  kadang menonton kembali beberapa episodenya yang ada di Youtube. 

Reuni Ikan Sarden

Salah satu grup nostalgia 90-an yang saya ikuti adalah Ikan Sarden. Bukan,  ini bukan ikan yang dikemas dalam kaleng dengan tambahan saus itu,  tapi ini adalah grup Ikatan Anak  Sayang Pak Raden. 

Grup Ikatan Anak Sayang Pak Raden terbentuk karena adanya acara Tribute to Pak Raden. Pak Raden adalah sosok di balik tayangan favorit anak-anak 90-an yaitu film seri boneka Si Unyil. Di masa tuanya beliau masih berkarya untuk anak Indonesia. Tak sampai setahun dari acara Tribute to Pak Raden,  beliau pun meninggal dunia. 


Meski acara sudah berlalu hampir empat tahun lalu,  namun komunikasi di grup panitia Ikan Sarden masih cukup baik. Kami pun janjian untuk nonton Si Doel Anak Sekolahan. Kebetulan Bang Sandec Sahetapy pun mengajak nobar di beberapa komunitas. 

Salah Informasi Berujung Quality Time

Informasi yang kami terima,  grup Ikan Sarden kebagian jatah menonton SDAS The Movie hari minggu 5 Agustus jam 1 siang di Senayan City.
Saya janjian dengan Mbak Veda untuk berangkat bersama. Hari itu geng Ikan Sarden akan kumpul bernostalgia. 

Di Senayan City, kami  menunggu waktu menonton sambil ngopi dan ngemil. Saya,  Mbak Veda,  Bunda Reni,  Faiz mengenang masa-masa repotnya jadi panitia acara Tribute to Pak Raden. 

Waktu menonton pun tiba,  kami memasuki area XXI  dan bertemu dengan Junita yang memang ditugaskan Bang Sandec untuk mengatur acara nobar ini. Mengejutkan,  karena kami tak menyimak informasi terbaru bahwa ternyata sesi nobar kedua ditiadakan. Semua digabung jadi satu sesi dan sudah selesai. Lemas,  kami pun melangkah gontai keluar dari XXI menuju foodcourt di hadapannya. 

Bergaya ala Zaenab dan Sarah dengan Bunda Renny

Junita yang memang saya kenal semasa kami aktif di Hitters Jaktim pun berjanji mengabari lagi untuk acara meet and greet Si Doel The Movie selanjutnya. 


Kali ini kami yang memang lapar dan sedang menertawakan kesalahan sendiri pun lanjut makan siang.  Tak lama datang satu personel Ikan Sarden lagi yaitu Moe. Kami lanjut ngobrol ngalor ngidul. 

Makan sambil menertawakan kejadian tadi

Setelah sedikit galau dan maju mundur akhirnya kami memutuskan untuk tetap menonton Si Doel The Movie meski sebenarnya sayang juga mengingat tiket XXI Senayan City hari minggu agak mahal. Tapi tak apalah demi nostalgia. 


Sarah,  Doel dan Zaenab versi Ikan Sarden


Review Si Doel The Movie

Film dibuka dengan suara-suara Benyamin. S yang sarat nasehat. Kemudian berlanjut pada setting rumah keluarga Doel lengkap dengan opletnya. Suasana rumah tak berbeda dari sinetronnya belasan tahun lalu. 

Cerita berawal dari persiapan Doel dan Mandra ke Belanda mengantar barang-barang pesanan Hans, yang dahulunya teman kuliah Doel. Jika pada sinetronnya kisah Doel berakhir dengan menikahi Sarah,  gadis kaya raya yang pernah menjadikannya sebagai bahan penelitian skripsi,  namun di film ternyata Zaenab kini menjadi istri Doel. 

Bagi penonton yang tidak membaca sinopsisnya dari awal pasti akan kebingungan kenapa Zaenab menjadi istri Doel. Ternyata di cerita yang sekarang ini,  Sarah meninggalkan Doel ke Belanda selama 14 tahun. Tanpa adanya kabar dari Sarah selama 14 tahun membuat Doel menikah dengan Zaenab.

Dengan berbagai adegan lucu ala Mandra,  sampailah mereka berdua di Amsterdam. Penonton pun dibawa menikmati indahnya negeri kincir angin. Konflik pun dimulai dari kalimat-kalimat sindiran Hans pada Doel. 

Hans yang merupakan sepupu Sarah menyampaikan bahwa Doel sebenarnya punya seorang anak dari pernikahannya dengan Sarah. Saat Sarah kabur dari rumah Doel 14 tahun lalu,  kondisi Sarah sedang hamil tanpa diketahui Doel. 

Yang membuat saya gregetan adalah kisah pertemuan kembali Sarah dan Doel di museum. Saling bertemu di depan koleksi museum dan langsung ngopi. Ya ampun masa iya ketemu istri sendiri yang "hilang" selama 14 tahun bisa begitu santai dan tenangnya?  

Sarah dan Doel
Sumber: google

Doel pun mengetahui kenyataan bahwa ia memiliki seorang anak lelaki yang diberi nama Doel juga oleh Sarah. Saat Doel junior bertemu ayahnya,  ia menampakkan sikap sinis. 

Malam itu Doel menginap di rumah Sarah,  untuk mengenal anak laki-lakinya. Di sini saya lagi-lagi merasa gemas,  sebagai ayah yang baru mengetahui bahwa ia punya seorang anak harusnya ia berusaha mendekati anaknya. Malam itu Doel yang menginap di rumah Sarah hanya diam merenung tanpa berusaha mengakrabkan diri dengan anaknya.

Cerita pun berakhir dengan kembalinya Doel dan Mandra ke Indonesia. Tepat saat mereka akan masuk ke bandara,  terdengar suara anak kecil memanggil "Papa Doel".  Ternyata Doel junior dan Sarah datang ke bandara. Sambil mengucap selamat tinggal,  Sarah berbisik "Ceraikan aku,  Doel".

Gemas kan jadinya? Akhir yang serba tanggung dan kisah kerinduan seorang bapak sekaligus suami sama sekali tak terlihat. Katanya sih nanti akan ada lanjutan dari film ini,  semoga saja menjadi jawab atas semua kegemasan saya saat menonton. 

Menurut saya, ini sih opini dari reviewer ala-ala, Film ini selamat dari "kegaringan" dan tidak realis (sebagaimana sinetronnya yang sangat realis)  karena kelucuan Mandra dan Atun. Selain itu dedikasi Aminah Cendrakasih pada dunia seni peran juga terlihat di film ini. Dengan kondisinya yang lumpuh, ia tetap berakting sebagai Emak dengan sempurna. Memang kualitas artis zaman dulu itu berbeda sekali. 

Hans,  Sarah,  Doel kecil,  Mandra
Sumber: google

Sekian review ala-ala saya. Nantikan review film lainnya ya. 

You Might Also Like

14 comments

  1. Filmny kentang banget, kan Miss Yun? Lalu kritik sosial yg begitu dekat dengan versi sinetronnya ga ada sama sekali. Imbas pilkada ke komunitas betawi gak diungkit sedikit pun... aneh....Gemes2 pgn lempat popcorn tapi sayang popcornnya. ��

    BalasHapus
  2. Saya sudah berasa nonton filmnya hanya dengan membaca review film Si Doel dari Mbak Yun.. Makasih :)

    BalasHapus
  3. Jadi...kita tunggu aja ya mba kelanjutan Si Doel the Movie, part two, semoga menjawab beberapa hal yg terasa menggantung di film tsb.

    BalasHapus
  4. Wah belum sempat nonton film si doel nya jadi lumayan terhibur baca artikelnya miss yun

    BalasHapus
  5. Mba Yun review nya keren. Serasa menikmati alur filmnya.

    BalasHapus
  6. thanks buat review-nya..
    jadi penasaran mau nonton, karena dulu sinetronnya termasuk favorit di keluarga saya..

    nice post :)

    BalasHapus
  7. Waktu itu aku nggak sempet nonton film si doel, tapi sayang banget ya serba nanggung gitu padahal sinetronnya legendaris banget sampe sekarang.

    BalasHapus
  8. Kalau laki-laki umumnya pasti tetap memilih istri yang seperti Zaenab. Istilahnya yang sekufu (setara) dalam banyak hal.

    BalasHapus
  9. telat membawa nikmat inisih namanya

    BalasHapus
  10. Saya belum nonton filmnya hahaha. Teman2 saya yg udah nonton emang bilang sih katanya film ini kurang nendang hehhe. Pas baca tulisan Mba Yunita, setidaknya jadi tahu dikitlah gimana ceritanya hehe

    BalasHapus
  11. Kebetulan saya gak nonton jadi tahu dikit2 sama review kak yun.. ternyata bang doel kewong lagi? Duh duh.. terus gatahu kalo punya anak dari istri sebelumnya. Ckck. *jadi kesel abis baca review. Hahah. Btw keren kak yun review nya

    BalasHapus
  12. Reviewnya detail banget Mba, kemarin2 gak kesempetan nonton film ini, dengan baca review Mba, rasanya gak perlu nonton lagi :)

    BalasHapus
  13. Th 90 aku masi bayi kak
    Wkwkwk.
    Si doel ini tontonan kesukaan aku. Episode yg aku inget si atun kejepit di terompet.

    BalasHapus
  14. wahh, baca tulisan ini, jadi kerasa kalo ternyada dah tuwir, hehehe. generasi 90-an rasanya memang masih mendapat banyak tayangan yang positif. termasuk serial si Doel ini

    BalasHapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images