Dari Ho Chi Minh Menuju Phnom Penh

22.31

Pagi terakhir di Ho Chi Minh


Setelah menghabiskan sarapan kami berdua berjalan ke La Sensa yang berada tepat di seberang hotel dan berjalan-jalan di sekitaran kawasan La Sensa. Kami berniat menghabiskan Vietnam Dong yang masih tersisa sebab siang nanti kami akan menuju Phnom Penh.

Departemen Pariwisata Ho Chi Minh City

Jam sebelas kami sudah berjalan menuju kantor Shinh Tourists untuk menunggu bus yang akan membawa kami menuju Phnom Penh. Dengan sisa Vietnam Dong yang tinggal remah-remah kami membeli makan siang di minimarket samping kantor Shinh Tourist. Saat asyik memilih-milih onigiri yang terlihat enak dan paling murah, ponsel Bernica terus-terusan ditelpon. Ternyata dari Shinh Tourist yang mengabarkan bahwa bus sudah ada dan kami harus segera naik.

Accros Vietnam Border
Perjalanan menuju Phnom Penh akan berlangsung selama enam jam. Bus yang kami naiki terbilang cukup nyaman dengan kursi besar. Satu jam kemudian bus memasuki kantor imigrasi Vietnam. Suasana kaku dan dingin terasa sekali di kantor imigrasi perbatasan luar Vietnam membuat saya sedikit ngeri-ngeri sedap. Ternyata memang perbatasan Vietnam-Kamboja ini sangat tegas, beberapa turis asing tidak diizinkan keluar dan terpaksa mereka harus ditinggal.


Imigrasi Vietnam

kartu imigrasi Kamboja

Akhirnya paspor saya mendapat stempel negara Kamboja dan saya bisa masuk ke negara dengan bendera berlambang candi Angkor Watt itu. Pemandangan pertama memasuki Kamboja sedikit mengejutkan, jajaran bangunan kasino dan arena perjudian. suasana panas di daerah perbatasan yang kering dan berdebu pun segera berlalu seiring laju bus menuju Phnom Penh.


imigrasi Kamboja

The bus

Lost in The City
Kami berdua tak lagi memiliki koneksi internet saat memasuki Kamboja dan hanya tahu kalau hotel kami dekat dengan Grand Palace dan Chaktomuk Secondary School. Bus pun akan menurunkan kami di dekat Grand Palace. Beruntungnya, ternyata bus menurunkan kami tepat di depan Chaktomuk School. Hasil bertanya pada pemuda rupawan yang sedang jajan kebab, ternyata kami tak harus berjalan jauh menuju hotel G-11. Kami berjalan memanggul ransel dengan langkah tersuruk-suruk. Tak sampai 10 menit kami tiba di hotel.

Kamar yang luas dan koneksi internet di hotel membuat kami seolah hidup lagi. kami akan jalan-jalan di pinggiran sungai Ton Le Sap di depan Istana Raja Kamboja. Ajaibnya kami menemukan restoran bernama Warung Bali dan tentu saja berencana untuk makan malam di sana.

Rinduku Pada Tumis Kangkung dan Goreng Tempe
Mengikuti gmaps yang sudah kami screenshot, kami pun tiba di Warung Bali. Kami disambut langsung oleh Kang Firdaus pemilik Warung Bali yang sudah menetap hampir dua puluh tahun di Phnom Penh. menu yang disajikan malam itu adalah tumis kangkung, tempe goreng tepung dan sayur asam ikan atau amok fish. Ya ampun, saking lebaynya saya makan kangkung sambil menitikkan air mata. Perjalanan selama tujuh hari di Vietnam membuat saya rindu masakan Indonesia.


Warung Bali di Phnom Penh


makan kangkung aja bahagia hahahahha

Makanan kami yang sebanyak itu hanya dibandrol seharga 8 $. kami memang cukup kaget mengetahui bahwa di Kamboja ini mata uang yang berlaku adalah US $ dan Riel Kamboja, satu riel Kamboja setara dengan empat ribu rupiah. Sementara saat memasuki Phnom Penh uang kami tersisa hanya 50 US $. Kami pun harus mengirit.

Tenangnya Sungai Ton Le Sap

bersantai di pinggiran sungai Ton Le Sap

Usai makan malam yang super puas dengan tumis kangkung kami lanjut berjalan menuju sungai Ton Le Sap. Cuaca cerah dan berangin membuat banyak muda mudi bersantai di pinggiran sungai. Sesekali perahu wisata melintas di atas sungai. Ketenangannya membuat kami bisa bersantai selepas perjalanan berjam-jam dari Ho Chi Minh City. kami menutup malam dengan perasaan senang dan siap untuk petualangan esok  




Baca juga:

Jembatan Takdir di Da Nang
Cantiknya Kepulauan Nha Trang

You Might Also Like

2 comments

  1. Jadi pengen. Next ke Kamboja ah...

    BalasHapus
  2. kangen kamboja deh :). trakhir kesana aku jg lwt darat, tp dari bangkok. bangkok siamrep, baru kmudian siam rep-pnom penh. dan nyeselnya barubdi hari terakhir aku dan suami nemu makanan lokal yg jual seafood dan byr pake riel plus enaaakkk bgtttt. aghhhh nyesel. sebelumnya makan di tempat makan yg bayarannya usd wkwkwkwk... ga terlalu enak pula

    BalasHapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images