Maukah Kamu Ngopi Denganku

09.50


Blogpost ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com



Maukah Kamu Ngopi Denganku?

Kerinduan memang hanya kerinduan. Mungkin pahit sekecap lidah. Memang luka harus kubasuh sendiri. Sekuat apapun kusangkal, Ada jejak yang ia tinggal …

Baru saja selesai kutuliskan huruf terakhir puisiku, bunyi pintu kedai kopi terbuka dan kulihat sosok Dian sahabatku di sana.

“Sudah lama nunggu Nay?” sapa Dian seraya menghampiriku.

“Baru setengah jam lah, mau pesan kopi?” tawarku.

“Masih seperti biasa dari jaman kuliah dulu ya Nay, pergi ke suatu tempat, ngopi, nulis puisi terus difoto deh. Hmm .. gue pesan kopi apa ya?” Jawab Dian sambil meraih daftar menu.


Setelah kopi habis, kami segera keluar dari Baraja Coffeeshop. Avanza putih milik Dian melaju kencang meninggalkan Cirebon. Selain mengunjungi Dian, perjalananku kali ini adalah perjalanan pelipur kecewa. Ya, aku baru saja patah hati. Pahit benar, serupa espresso yang baru saja kutandaskan tadi.

Sepanjang perjalanan, aku dan Dian bertukar banyak cerita. Sampai akhirnya Dian bertanya.

“Sekarang lagi dekat sama siapa, Nay?”

Kisah patah hatiku pun kuungkap sepanjang perjalanan Cirebon menuju Majalengka. Masih seperti dahulu, Dian tetap menjadi seorang pendengar yang baik.

Sebulan yang lalu …
Aku sedang menikmati kopi di waktu istirahat di sela-sela jam mengajar, tiba-tiba kudengar bunyi bbm ponselku

Tasha, 09:32 AM
“Nay, mau gue kenalin sama temen gue ga? Dia juga jomblo loh. Iiihh kok gue baru kepikiran ya buat ngenalin kalian.”

Kanaya, 09:33 AM
“Boleh.”

Tasha, 09:35 AM
“Beneran ya? Ini orangnya juga udah gue kasih tau. Dia semangat juga tuh, dia minta pin bbm elu, gue kasih ya.”

Tak sampai lima menit kemudian kulihat ada notifikasi bbm invite masuk. Kubuka profilenya, gambar Hommer Simpson dengan nama “Satria” langung saja kusentuh tombol accept.

Satria, 09:38 AM
“Halo … Kanaya ya? Temennya Tasha kan? Salam kenal ya aku Satria.”

Kanaya, 09:39 AM
“Yup, salam kenal juga ya Satria. Katanya teman SMA nya Tasha ya?”

Berawal dari sapaan sederhana, tanpa disadari bbm dengan Satria pun berlanjut sampai malam hari. Ternyata aku dan Satria punya banyak sekali kesamaan. Pantas saja Tasha semangat betul mengenalkan Satria padaku. Malam itu aku ngobrol dengan Tasha lewat bbm.

Kanaya, 07.40 PM
“Ya ampun Tasha, seharian ini gue bbm an sama Satria, kaya ngobrol sama temen udah lama kenal, kaya temen lama aja.”

Tasha, 07.42 PM
“Duh hebatlah si Satria. Gue seneng banget Nay kalau elu sama Satria cocok. Semoga emang Satria ini ya jawaban dari doa-doa elu.”

Kanaya, 07:44 PM
“Aamiin. Tash, ternyata dulu Satria sama gue pernah tinggal di komplek perumahan yang sama. Selera musik, buku bacaan kita sama. Yang lebih hebat lagi Tash, masa Satria punya impian yang sama kaya gue. Dia mau bikin kedai kopi. Kedai kopi kaya gue. Bedanya gue kan konsennya ke kedai kopi sama toko buku sastra, fokus gue ke toko bukunya kalau Satria fokus ke kopinya, dia sampai les barrista segala.

Pembicaraanku dengan Tasha malam itu berakhir dengan tawa dan emoticon yang Tasha kirim berkali-kali karena antusiasme kami berdua tentang Satria. Malam itu pun aku tertidur dengan iringan ucapan “Have a nice dream” dari Satria.

Sudah hampir 10 hari aku berinteraksi dengan Satria, dari mulai bangun tidur hingga akan tidur lagi malam hari. Komunikasi kami berdua perlahan memberikan rasa ketergantungan yang unik. Perasaan yang sudah lama tak pernah kurasakan. Gelisah yang tak tertahan jika sebentar saja tak berkomunikasi. Tasha pun jadi semakin gembira karena kemajuan ini. Namun Tasha heran mengapa Satria belum juga mengajak aku bertemu.

Akhirnya Satria pun mengajak bertemu. Dengan bbm sederhana di hari sabtu, di hari ke-12 kami saling mengenal.

Satria, 08.15 AM
“Nay, siang nanti ngopi yuk. Aku tau kedai kopi kecil yang kopinya enak banget.”

Kanaya, 08.17 AM
“Boleh, tapi aku ada rapat di sekolah sampai jam 10an lah.”

Satria, 08.18 AM
No problem. Nanti aku jemput ke sekolah ya.”

Aku membacanya berkali-kali dengan rasa tak percaya sebelum akhirnya aku membalas bbm Satria dan mengiyakan ajakannya. Segera kukirimkan screenshot pembicaraanku dengan Satria pada Tasha. Bisa ditebak, Tasha pun ikut antusias.

Siang itu, sebuah Honda CBR hitam merapat di depan gerbang sekolah tempatku mengajar. Seorang pria tinggi besar duduk di atasnya, saat kuhampiri ia melepas helm dan tersenyum seraya mengulurkan tangan menjabat tanganku. Honda CBR membelah jalan Jakarta dan kueratkan peganganku di pundaknya. Kami menghabiskan sepenggal hari itu dalam aroma secangkir lemonade coffee untukku dan secangkir  frappe untuknya.

Ada saja pembicaraan yang kami bincangkan terutama tentang kopi, aku sungguh terpana akan pengetahuannya tentang kopi. Satria dan aku juga bercerita tentang impian kami yang kebetulan sama yaitu membangun kedai kopi. Dan malam itupun Satria mengantarku pulang, ia bahkan bertemu dengan kedua orang tuaku.

Semenjak bertemu komunikasi kami makin intens. Hari-hariku damai semenjak ia hadir. Perlahan perasaan sayang mulai tumbuh di hatiku. Aku tak sabar ingin bertemu Tasha dan berbagi cerita.

Rabu sore aku dan Tasha janji bertemu di Gramedia, kami pun duduk di dalam Dunkin Donut. Sambil menyeruput coklat hangat, dengan antusias kuceritakan pertemuanku dengan Satria hari sabtu lalu. Anehnya wajah Tasha terlihat muram.

“Nay, sebelumnya gue minta maaf banget ya. Hari senin malam gue ngobrol sama beberapa teman SMA di grup whatsapp khusus perempuannya aja. Tiba-tiba satu persatu, ada lima orang lah cerita kalau mereka ngenalin teman-teman mereka ke Satria. Jadi Nay, ada 4 orang lagi selain elu yang lagi deket sama Satria. Gue kaget Nay, kalau gue tau, ga akan gue kenalin Satria ke elu. Elu sahabat gue Nay, gue mau elu dapet orang yang baik, bukan yang gombal sana sini. gue merasa bersalah banget sama elu, Nay.” Tasha menutup kalimat panjangnya seraya mengambil tisu.

Kata-kata Tasha bagai sambaran petir di siang hari. Betapa bodohnya aku, di saat aku terpesona dan terhanyut kata-kata manis dari Satria, di saat yang sama mungkin kata-kata itu ia kirimkan pada 4 orang perempuan lain. Aku tak bisa berkata apa-apa, rasa kecewa memenuhi ruang hatiku.

“Saran gue Nay, sudahlah dilupakan aja Satria, mumpung belum jauh. Mumpung juga belum ada perasaan yang dalam. Gue ga mau elu kecewa, gue ga mau elu sakit hati lagi. Ini kesalahan gue Nay, ga crosscheck dulu sebelum kenalin. Gue terlalu antusias” Tasha mulai terisak.

Aku hanya menarik nafas dalam-dalam dan menenangkan isakan tangis Tasha. Aku paham, Tasha mungkin kecewa pada Satria ditambah pula merasa bersalah padaku. Sejak itu kukurangi komunikasi dengan Satria. Berat memang, sebab aku mulai menikmati kehadirannya di hidupku. Sehari, dua hari akhirnya aku mulai bisa membuang rasa ketergantunganku pada Satria. Semua berjalan normal seperti dulu saat aku belum mengenalnya. Namun sepertinya Satria masih belum ikhlas ditinggalkan penggemar. Tak berhasil menghubungiku lewat bbm ia pun mengirim pesan whatsapp.

“Nay, kamu kecewa ya sama aku?”

Aku tak membalasnya, ia semakin nekad. Ia kirimkan hampir 10 pesan panjang-panjang yang intinya ia merasa bersalah, ia tidak berniat jahat, ia mau menambah teman dengan mendekati semua perempuan yang dikenalkan padanya. Bahkan ia bilang bahwa akulah perempuan yang terakhir dikenalkan dari 5 orang yang ada dan baru aku yang ia temui. Banggakah aku? Tentu tidak! Apakah Satria berpikir bahwa kami ini kontestan yang sedang berlaga, bertanding memenangkan hatinya. Aku muak dibuatnya, Satria tahu benar mengapa teman-temannya mengenalkan ia pada kami, perempuan-perempuan yang ia sebut “The Candidates”. Satria sendiri yang selalu curhat sana sini bahwa di usianya yang sudah 34 tahun ia masih saja sendiri, sehingga teman-temannya tergerak mengenalkannya, termasuk Tasha yang juga mengenalkan Satria padaku. Karena kesal dengan pesan whatsapp yang terus menerus ia kirim, aku pun menjawab.

“Ya mungkin aku kecewa sama kamu. Karena kamu tahu benar mengapa kita dikenalkan. Kamu tidak perlu memilih aku, aku bukan pilihan.”

* * * * *
Kututup ceritaku patah hatiku persis saat Avanza putih Dian melintasi gerbang selamat datang di Majalengka. Dian tak berkata apa-apa, ia sesekali mengusap pundakku seolah ikut merasakan kecewaku pada Satria.

“Ya sudah Nay, masih banyak orang yang lebih baik. Sabar saja, semua akan indah pada waktunya. Eh iya Nay, di Majalengka ini ada loh kedai kopi yang oke, deket rumah lokasinya. Nanti kita ke sana ya.”

“Oh Kopi Apik ya, gue liat tuh di instagram.” Jawabku

“Ah iya coffee queen sudah survey ya tiap mau ke kota apa harus ngopi dimana. Hahahhaha …” Dian terbahak-bahak.

Setelah mandi dan beristirahat sebentar di rumah Dian, kami pun lanjut jalan-jalan malam di Majalengka dengan tujuan akhir ngopi di kedai Kopi Apik.

“Nay, kenal sama Doni Erlangga? Dia senior di kantor, satu divisi sama gue. Ternyata dia sekampus dulu sama kita. Dia anak Ekonomi, dia juga aktif di BEM FE. Dia kenal elu Nay.” Terang Dian.

“Engga kenal. Beneran engga inget juga. Eh BEM FE kan letaknya di seberang sekretariat Paduan Suara kita ya?”

“Nah itu Nay, dia tau kita anak sastra, tau juga kita dulu aktif di paduan suara kampus. Tadi sebelum jemput elu di Cirebon, gue kondangan dulu, terus ketemu dia. Dia nanya kenapa gue buru-buru banget. Gue bilang mau jemput elu ke Cirebon. Eh masa dia bilang dia kenal elu. Ini, gue bilang kita mau ke Kopi Apik, dia mau ikutan.”

Avanza putih Dian memasuki sebuah komplek perumahan, ada sebuah rumah klasik yang nampak ramai dipenuhi sekumpulan anak muda. Dian pun memarkirkan mobilnya tidak jauh dari rumah klasik tersebut.

Welcome to Kopi Apik Majalengka. Mari Bung, reguk kembali. Gue kaya marketing kedai kopi ini ya.” Seloroh Dian.

Di kursi paling ujung kedai kopi ini, persis di depan graffiti bertuliskan “Mari Bung, reguk kembali” duduklah seorang pria, ia melambaikan tangannya ke arah kami.
“Itu yang namanya Doni Erlangga.” Bisik Dian di telingaku.

Aku dan Dian pun duduk di kursi yang sudah ia sediakan. Kupesan secangkir cappuccino untuk menghangatkan diri dari dinginnya kabut malam di Majalengka.

“Wah, pesanan kita sama nih Kanaya” celoteh Doni memecah keheningan.


Aku hanya menjawab dengan tersenyum. Doni adalah pria humoris yang supel, ia dapat mencairkan kebekuan dengan kelakar sederhana. Aku terkejut, ia seolah begitu mengenalku sementara aku berusah keras mengais-ngais kenangan, mencari sejumput cerita tentangnya. Dan tak kudapati apa-apa, padahal aku pengingat yang cukup baik.

“Nay, saya ingat loh kamu dulu kalau latihan paduan suara datangnya pakai celana pendek yang bawahnya berumbai digunting sendiri, terus pakai kaos oblong, pakai tas yang gantungannya ring minuman kaleng. Kocak banget.” Dia pun tertawa terbahak-bahak.

“Kang Doni ingat banget ya, saya aja yang temennya Nay sudah lupa.” Sahut Dian

Lagi-lagi aku terpana, ini aneh sekali. Bagaimana mungkin laki-laki yang baru kutemui 10 menit lalu bisa mendeskripsikan penampilanku 10 tahun lalu dengan rinci. Lagi-lagi aku cuma bisa senyum-senyum.

“Kanaya baru patah hati tuh Kang Doni, makanya minumnya yang pahit-pahit, senyumnya juga pahit-pahit.” Celoteh Dian membocorkan rahasiaku.

“Nay, tahu engga, ada obat patah hati terbaik. Bentuknya cair, cairan itu seperti bisa membasuh segala luka juga kecewa. Cairan itu kopi namanya. Yuk diminum tuh kopinya.” Doni berkata sambil menyodorkan cangkir kopi yang baru saja diantarkan oleh pelayan.

Pembicaraan pun makin menghangat, aku pun ikut terlibat tak lagi jadi penonton obrolan Doni dan Dian. Doni yang menyimak kisah-kisah backpackerku, Dian yang bercerita tentang gegar budaya orang-orang Majalengka yang piknik di jalan tol Cipali, Doni yang membawa kenangan lama semasa kuliah. Malam makin larut, tepat pukul 11 kami pulang, tidak enak pada orang tua Dian kalau kami kembali ke rumah terlalu malam.

Saat aku dan Dian sudah siap-siap tidur. Kudengar bunyi ponselku. Sebuah pesan whatsapp masuk.

Good night and have a nice dream Coffee Queen.”

“Kang Doni yang WA ya Nay? Tadi dia minta nomer hp elu, sorry ya gue kasih ga bilang ke elu dulu.” Kata Dian seolah merasa bersalah.

“Enggak apa-apa Di. Sudah malam nih, tidur yuk.” Aku berkata sambil menarik selimut.

Liburanku selama dua hari di Majalengka sangat menyenangkan. Tak hanya diantar Dian, Doni pun ikut acara jalan-jalan kami yang piknik di kaki gunung Ciremai, jalan-jalan ke air terjun, main di bekas pabrik gula yang konon angker sampai mencoba paralayang di bukit.

Dian memeluk erat saat kami berpisah di Stasiun Cirebon. Kereta yang akan membawaku ke Jakarta segera tiba. Berat sekali rasanya kembali ke Jakarta.

“Sering-sering main ke sini ya Nay. Elu senang kan di sini?”

“Iya. Gue usahain sering main Di. Makasih ya Di, salam buat Doni, terima kasih dia sudah anterin gue jalan-jalan juga”

“Iya Nay, nanti gue salamin. Tadinya dia mau ikut anter elu, tapi ada urusan mendadak. Eh Nay, elu jangan inget-inget Satria lagi ya. Elu terlalu berharga buat orang macam dia. Lagipula Nay, gue rasa Doni …”

Aku tak mendengar kata-kata Dian yang terakhir karena suaranya tertelan bunyi peluit kereta.

Sepanjang hari senin menuju jumat, kujalani hari dengan rutinitas yang sama. Bedanya, sudah tak ada lagi Satria dengan bbm manisnya. Benar kata Dian, tak perlu aku mengingatnya lagi. Cinta akan datang pada waktu yang tepat, aku hanya perlu bersiap.

Hari Jumat sore, saat aku sedang bersiap pulang. Pak Taba, satpam sekolah datang mencariku. Ia bilang ada yang menungguku di bawah. Aku segera berkemas dan turun dari ruang guru di lantai 3. Seorang pria dengan seragam coklat berdiri berdiri di depan gerbang sekolah. Pria itu  berjalan ke arahku, di tangannya terdapat dua toples kecil yang berisi bubuk kopi. 

“Kanaya Puspa, maukah kamu ngopi denganku? Ngopi bersamaku seumur hidup kamu? Kopi aroma dari Bandung di tangan kanan aku kalau kamu jawab iya dan kopi luwak dari Lampung di tangan kiriku kalau kamu jawab tidak. Ayo Nay, airnya mendidih sebentar lagi”

Doni Erlangga, selalu penuh kejutan. Ia tidak pernah berkata apa-apa sepulangku dari Majalengka. Doni yang tak pernah mengirim kata-kata manis ataupun bercerita tentang impiannya. Laki-laki yang kutemui seminggu lalu, kini hadir di depanku dengan toples-toples kopinya. Laki-laki yang mengajakku menemaninya minum kopi seumur hidup. Dengan perlahan aku berjalan ke arahnya.

“98 derajat celcius, 1 setengah sendok teh kopi, 2 sendok teh gula, diamkan 3 menit, diaduk. Sempurna. Oh iya, aku mau kopi aroma Bandung ya.” Jawabku tersenyum.

Dan memang cinta akan datang pada waktunya, dengan cara yang mungkin tidak pernah kita sangka-sangka. Lewat secangkir kopi yang kami reguk sore itu, aku mengetahui bahwa Doni sudah jatuh hati padaku semenjak kuliah dulu, namun ia tak berani mendekati. Aku galak katanya. Kedatanganku ke Majalengka, membuatnya tak pernah menyangka akan bisa bertemu lagi, dan ia merasa inilah saatnya.

Aku tersenyum menikmati kopi racikannya sambil duduk menikmati angin sore di lapangan olahraga. Dan menatap pria yang jauh-jauh dari Majalengka yang membawa kopi, cangkir juga teko listrik yang membuat heboh para satpam sekolah karena memaksa untuk memasak air di pos satpam.

Cinta, inikah rasanya? Sruuuupp … kureguk kopiku sekali lagi.

- Jakarta, 20 Agustus 2016 -

You Might Also Like

1 comments

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images