Cerita dari Tangerang

14.02

Ke Tangerang? Ngapain? Setiap saya ajak teman untuk main ke Tangerang pasti keluar pertanyaan seperti itu.  Akhirnya demi memenuhi ajakan Derus yang kami berikan gelar Duta Wisata Tangerang saya berniat untuk ikut explore Tangerang.



Perjalanan paling mudah menuju Tangerang tentu saja menggunakan Commuter Line. Saya naik dari stasiun Kalibata kemudian transit di Manggarai. Dari Manggarai lanjut kereta menuju stasiun Duri dan sekali lagi transit menuju stasiun terakhir, Tangerang.

Keluar dari pintu stasiun Tangerang, Derus dan Ocit yang jauh-jauh datang dari Serang menjemput kami. Kami berempat berjalan kaki menuju Kawasan pasar lama Tangerang. Di tengah jalan sempat-sempatnya saya melirik mangga brazil yang banyak dijual di Kawasan pasar lama. Mangganya enak, manis tapi mahal huhuhuhu …





Kawasan Pasar Lama Tangerang


Kecap SH
Tujuan kami yang pertama adalah pabrik kecap terkenal seantero Tangerang, yaitu kecap SH. Konon rasa kecap ini seperti rasa ayam goreng. Setelah masuk gapura Kawasan Pasar Lama kemudian belok kiri sampailah kami di depan sebuah rumah kuno peninggalan Belanda. Rumah cantik itulah yang menjadi tempat produksi kecap SH. Sayangnya pabrik sedang tidak buka, jadi kami hanya bisa mendokumetasikan pekarangan luarnya.


Pekarangan depan pabrik kecap SH

Masjid Pintu Seribu
Dari pabrik kecap SH tujuan kami selanjutnya adalah Masjid Seribu Pintu. Kami turun di pinggir jalan kemudian berjalan kaki di sebuah perkampungan. Tak sampai lima menit berjalan kaki sampailah kami di sebuah masjid besar.


Grafiti di gang menuju Masjid Seribu Pintu

Masjid yang dikenal seribu pintu memang memiliki labirin dengan banyak pintu yang menarik para pengunjung untuk menelusurinya. Meski dari luar terlihat seolah tak terawat namun masjid ini begitu bersih dan luas.





Saat menyusuri labirin seribu pintu, kami saling berpegangan pundak. Labirinnya begitu sempit. Saya dan Titi dua perempuan penakut tentu saja tidak mau ada di depan atau di belakang. Lucunya kami berempat sempat tersesat karena dengan yakin dan pede mengikuti jalur kabel untuk menelusuri labirin, yang pada akhirnya malah mengantarkan kami ke pintu masuk semula. Kami pun tertawa geli akibat sotoy luar biasa itu.

Rombongan kami bertambah dengan munculnya Bang Eka. Berlima kami menyusuri labirin yang sempit dan dingin. Tibalah kami di tengah ruangan, yaitu tempat berdoa. Ruangan itu memiliki aroma khas, lembab dan gelap luar biasa. Berkali-kali saya mencoba membesarkan pupil mata mencari seberkas cahaya namun gagal.

Memang dasar saya penakut, nonton film horor saja saya pasti menutup mata sepanjang film berlangsung. Cara saya mengekspresikan rasa takut tidak dengan berteriak namun cenderung “menyiksa” orang yang posisinya di dekat saya. Biasanya saya berpegangan dengan kencang hingga  mencengkram. Tapi kurang tahu deh dia dulu tersiksa tidak ya saat kami berkali-kali nonton film horor di bioskop, ups kok jadi out of topic begini. Jadi, manusia yang tidak beruntung karena disiksa saya hari itu adalah Ocit, hahahaa …

Bagian belakang labirin Masjid Seribu Pintu

Kondisi di ruang doa makin seram tak hanya karena bau lembab yang meruap namun lebih karena juru doanya berdoa dengan nada yang luar biasa sedih, mengingatkan kematian dan betapa sepinya di dalam kubur nanti. Saat kondisi makin mencekam, Alhamdulillah sesi berdoa selesai dan lampu pun dinyalakan. Betapa tenangnya saya melihat empat orang kawan saya ada di sana dan lengkap tidak berubah wujud hahaha.

Kami berlima pun mencari jalan keluar dari labirin, alangkah leganya hati saat melihat cahaya kembali. Kami sempat menyusuri area samping dan belakang Masjid seribu pintu sebelum melanjutkan perjalanan kami.

Bendungan



Dari Masjid seribu pintu kami menggunakan Go-car menuju obyek selanjutnya yaitu Bendungan. Kondisi jalan yang tak bergerak membuat kami turun di tengah jalan kemudian naik ke pagar jembatan dan loncat. Saya jadi teringat zaman SMP dulu berjalan kaki dari SMP 255 menuju Curug dan lompat pagar jembatan. Rindunya masa itu, ketika persoalan hanya susahnya pr matematika dan asyiknya belajar biologi dengan Pak Janus.

Melompati jembatan saja bahagia, apalagi kalau diajak jalan

Bendungan yang dibangun sejak 1827 ini masih berfungsi dengan baik. Kondisinya bersih dan dicat dengan warna biru, merah dan putih. Kami pun diizinkan naik ke atap bendungan. Langit biru dan riak sungai jadi pemandangan yang cukup indah melepas lelah. Angin yang bertiup seolah membantu saya melepas gundah. Ya maklum saja Miss Coffee kan memang sering galau.





view dari atap Bendungan



Bendungan yang membendung perasaan #ehh





Setelah dirasa cukup berfoto kami pun lanjut berjalan kaki untuk naik angkot yang akan membawa kami ke pabrik dodol.

Dodol
Dodol Ny. Lauw ini terkenal sekali di Tangerang. Sayangnya ketika kami tiba di sana proses produksi di pabrik yang terletak di samping rumah pemiliknya telah selesai proses produksinya. Kami hanya bisa melihat dodol yang telah dikemas di rumah pemilik.


Rumah sekaligus tempat produksi dodol Ny. Lauw

Bahan baku dodol

Aneka jenis dan rasa dodol tersedia di rumah. Tak hanya dodol namun ada juga kue keranjang, roti aneka rasa dan lain sebagainya. Saya memilih dodol wijen dan kue roti keju untuk oleh-oleh.

Tumpukan dodol wijen siap dijual

Dodol yang dibaluri wijen

Roti keras, sejenis gambang

Haji Kokom
Kami meninggalkan pabrik dodol Ny. Lauw menjelang pukul satu siang. Perut sudah meronta minta diisi. Meluncurlah kami menuju rumah makan terkenal di Tangerang yaitu RM. Hj Kokom.




Rumah makan ini berhadapan langsung dengan sebuah danau. Setelah menunggu lama, kami pun mendapat tempa persis di depan danau. Saat itu gerimis pun turun. Acara makan siang kami tambah meriah dengan munculnya Caca yang telat bangun karena seharusnya dia ikut dari pagi dan Yudi yang memang orang Tangerang.

Gerimis yang syahdu berteman ikan bakar yang nikmat dan aneka sajian khas sunda lainnya yang memanjakan lidah kami. Usai makan semua tergeletak dengan perut kekenyangan.

Secawan Madu di Karaoke
Hujan yang turun demikian deras di Tangerang membuat kami terpaksa membatalkan kunjungan ke kampung berkelir. Terpaksa trip ini berakhir dengan berkaraoke di Tangerang City Mall.


Memilih lagu Secawan Madu ^_^

Semua asyik bernyanyi menyampaikan suasana hati kecuali Ocit. Ocit ini suaranya mahal sepertinya hhehehe. Saya, Titi dan Caca heboh pilih-pilih lagu. Dari Caca saya jadi tahu lagu Via Vallen yang makjleb banget. Liriknya itu lho gue banget.

Semula kumengagumi sikap dan kesungguhanmu, hingga diriku jatuh terbuai dalam bujuk dan rayumu. Setelah pintu hatiku telah terbuka untukmu ternyata aku engkau jadikan hanya koleksi cintamu. Pedih sungguh pedih bak tertusuk seribu duri.

Kini lagu itu sudah ada di playlist ponsel saya hahahha. Acara karaoke pun berakhir dan kami segera meninggalkan mall menuju stasiun Tangerang.

Sebelum masuk stasiun kami mampir dulu ke toserba Subur untuk membeli kecap SH. Di toserba, saya menemukan kecap SH dalam dua kemasan yang berbeda, yang satu merah dan yang satu lagi jingga. Kata Derus itu karena adanya perbedaan manajemen namun rasa keduanya oke. Sebotol kecap SH dijual seharga Rp. 7.000.


Dari toserba Subur kami menuju stasiun dan berpisah dengan Derus dan Ocit. Beruntung, malam itu kami dapat kereta yang langsung menuju Manggarai sehingga tak perlu transit di stasiun Duri.

Demikianlah jalan-jalan seharian di Tangerang. Masih banyak tempat di Tangerang yang menarik untuk dikunjungi mungkin di lain kesempatan saya ke Tangerang lagi, ada yang mau ikut?


You Might Also Like

10 comments

  1. Ke sana lagi, dooong, aku pengen ikut ke kecap SH sama foto-foto di bendungan. Dulu waktu ke sana nggak sempat turun ke bendungannya:D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuk Mba, cuma naik kereta commuter line. murah meriah menyenangkan

      Hapus
  2. Akhirnya muncul juga cerita Tangerang versi bu guru.. 😆😆

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahahha besok versi Derus dan Ocit terbit juga

      Hapus
  3. Hayuk lah kesana lagi, pernah ke Masjid Pintu 1000 waktu SD. Itupun sekalian tour ke Pantai Anyar wkwkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuuk, sekalian beli mangga brazil, masih penasaran.

      Hapus
  4. waahh... alternatif ODT nih mb yun. seru juga. mau kesana ih ejie :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh, hitchhiking kita ke Tangerang Mba? hehhehehe

      Hapus
  5. tertarik dengan mesjid seribu pintunya

    BalasHapus
  6. nice artikel, blognya keren juga

    BalasHapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images