Menelusuri Kisah Cinta Kakek dan Nenek di Phnom Penh, Kamboja

23.35



Seporsi Banh Xeo dan Nostalgia
Jumat sore di tengah derasnya hujan pertengahan April, saya janji bertemu dengan Nana dan Henny. Namanya saja kumpul pasti agendanya tak jauh dari makan sambil rumpi ini dan itu. Kali ini Nana mengajak makan di restoran yang menyajikan hidangan khas Vietnam.


Di Restoran khas Vietnam ini ia memesan seporsi Banh Xeo. Dengan gaya meyakinkan, sahabat saya ini menceritakan betapa enaknya Banh Xeo. Saat makanan tersebut dihidangkan di depan kami, saya agak terkejut. Ini sih saya kenal sekali, Nenek saya suka masak makanan ini, hanya saja keluarga besar kami menyebut makanan ini dengan nama Banciaw.

Banh Xeo
sumber foto: medallionfoodsinctempura.com

Kenapa keluarga besar saya sering makan Banh Xeo? Karena Nenek saya bukan orang Indonesia. Beliau adalah orang Vietnam. Ketika perang saudara di Vietnam makin berkecamuk, Nenek dan keluarganya menyelamatkan diri ke Kamboja, negara tetangga Vietnam.


Di Kamboja Nenek membantu di dapur Kedutaan Besar Republik Indonesia. Di sanalah beliau bertemu Kakek saya yang pada saat itu mengikuti keluarga dubes RI. Cinta bersemi di dapur Kedubes RI Kamboja. Romantis yaaa, awas dilarang baper baca tulisan ini.

Harapan Nenek
Saya membawa pulang seporsi Banh Xeo untuk Nenek. Ia pun makan sambil bercerita nostalgia. Dulu keluarga besar kami sering makan Banciaw alias Banh Xeo bersama, namun karena kondisi kesehatan Nenek yang makin menurun, kini ia nyaris tak pernah lagi membuat dadar kuning yang terbuat dari tepung beras berisi udang, tauge dan rebung ini lagi.

Saya menemani Nenek yang menikmati Banh Xeo sambil membuka laptop, menulis untuk blogpost sambil browsing mau liburan ke mana bulan Juni nanti.

“Nit, kan sering ke luar negeri, belum pernah ke Kamboja ya?” tanya Nenek tiba-tiba membuat saya menoleh ke arah beliau.

“Belum, Nek.” Jawab saya pendek.

Ucapan Nenek seolah memberi ide, mengapa saya tidak liburan ke Pnompenh, Kamboja saja. Liburan saya kali ini bisa bertema menyusuri jejak romantis Nenek dan almarhum Kakek di Kamboja. Jadi semangat deh rasanya.

Berburu tiket pun dimulai
Liburan panjang terdekat adalah libur setelah lebaran, saya punya waktu lebih dari seminggu untuk explore Kamboja. Saya pun segera membuka website JD.id untuk mencari tiket penerbangan ke Phnom Penh. Beberapa teman traveler menyarankan mencari tiket di JD Flight di JD.id karena mudah digunakan dan aksesnya cepat.

Saya segera mencari tiket ke Phnom Penh untuk tanggal 26 Juni. Mudah pesan tiket pesawat di JD Flight, saya bisa memilih tiket pesawat murah dengan cepat. Jika saya memesan tiket periode 1-30 April 2018 saya bisa mendapat diskon hingga lima ratus ribu rupiah jika menggunakan pembayaran dengan Bank BTN, Bank BNI, DBS Bank dan bank lain yang bekerja sama dengan JD.id


tiket berangkat

tiket pulang

 
promo potongan harga


Tidak hanya bisa memesan penerbangan, JD.id juga memberi fasilitas pemesanan hotel dengan JD Hotel. Bahkan jika memesan hotel lewat JD Hotel, kita bisa dapat diskon sebesar Rp 100.000. Benar-benar membantu rencana liburan, sehingga tidak perlu cemas karena semua sudah terencana dengan baik tinggal menunggu keberangkatan saja.

Menyusuri Kisah Romantis Nenek dan Kakek di Phnom Penh
Setelah urusan tiket pesawat rampung maka saya menyusun itinerary selama di Kamboja nanti. Karena trip ini khusus mengenang kisah cinta Kakek dan Nenek saya maka tujuan pun disesuaikan dengan kenangan Nenek.

Kedubes RI di Phnom Penh, Kamboja
Berada di pusat kota. Di sinilah pertama kali Kakek dan Nenek bertemu. Dari kisah Nenek, saya menyadari bahwa cinta mampu menjembatani segala perbedaan bahkan bahasa dan suku bangsa yang berbeda. Bayangkan Kakek saya yang berasal dari Gunung Kidul bisa berjodoh dengan Nenek yang asli Vietnam. Saya akan mengabadikan tempat ini sebagai kenangan untuk Nenek. 

Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kamboja
sumber foto: https://kantorkedutaan.blogspot.co.id

Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia
Sumber foto: widiamw.blogspot.co.id


Gerbang Kemerdekaan
Selanjutnya dari Kedubes RI saya akan menuju Gerbang Kemerdekaan. Bangunan monumen yang terletak di tengah yang menghubungkan jalan utama yaitu Norodom Boulevard dan Sihanouk Boulevard merupakan lambang kemerdekaan Kamboja dari penjajahan Perancis. Mama saya pernah bilang kalau setiap sore ia dan adik-adiknya main di Gerbang Kemerdekaan, suasana di sana sangat ramai sore hari. Sepanjang jalan di sekitar Gerbang Kemerdekaan dipenuhi bangunan kuno bergaya Perancis, cocok sekali dengan selera traveling saya yang senang melihat bangunan kuno.

Gerbang Kemerdekaan Kamboja
sumber foto: www.svietnamtravel.com

Independent Monument Cambodia at night
sumber foto: www.svietnamtravel.com

Royal Palace
Royal Palace merupakan tempat tinggal Raja Kamboja Norodom Sihamoni beserta keluarganya, Di dalam kompleks ini juga terdapat bangunan utama yang di dalamnya terdapat ruang tahta. Selain itu terdapat Silver Pagoda, yang merupakan tempat resmi keluarga kerajaan mengadakan upacara-upacara keagamaan.

Royal Palace
Sumber foto: beritual.blogspot.co.id/

Tuol Sleng Genocide Museum
Tujuan selanjutnya adalah Tuol Sleng Genocide Museum. Dahulunya museum ini adalah sebuah bangunan sekolah SMA yang pada masa kekuasaan Pol Pot dijadikan sebagai penjara dan tempat penyiksaan. Mama saya yang kala itu masih SD ingat pernah bersekolah di bangunan museum tersebut, mungkin sekolah itu merupakan komplek sekolah yang besar dari SD hingga SMA. Di sekolah tersebut menggunakan bahasa Perancis sebagai bahasa pengantar. Saat kondisi perang makin parah, hari terakhir Mama ke sekolah ia melihat beberapa ranjau yang meledak. Untuk mengenang para korban, maka pengunjung yang datang diminta berdoa di tempat, bersikap serius dan tidak tertawa-tawa selama berada di Museum.

Museum Genosida Tuol Sleng
sumber foto: beritual.blogspot.co.id/
ruang kelas yang disekat menjadi ruang penyiksaan
sumber foto: holeinthedonut.com

Genocide Museum
Sumber foto: www.dreamstime.com

Pasar Thmey
Saat saya menyampaikan bahwa saya sudah punya tiket ke Kamboja dan akan berangkat tanggal 26 Juni yang akan datang, Nenek punya permintaan khusus. Beliau minta dibelikan ikan fermentasi di Pasar Thmey.

Pasar Thmey
sumber foto: yourphnompenh.com

Pasar Thmey
sumber foto: www.mimoa.eu 
Pasar Thmey ini adalah pasar lengkap di Phnom Penh. Ikan fermentasi yang dalam bahasa Kamboja disebut prahok banyak dijual di pasar ini. Selain buah, sayur dan makanan, di pasar ini aneka oleh-oleh khas Kamboja juga bisa kita dapatkan.

Prahok, Ikan yang difermentasi
sumber foto:www.khmer440.com

Sambal Prahok
sumber foto: www.cambodiacuisine.com/
Pantai Sihanoukville
Pantai cantik yang berjarak empat jam dari Phnom Penh ini pernah dikunjungi oleh Kakek, Nenek beserta keenam anak mereka.

Pantai ini begitu bersih dengan bentangan pasir putih yang lembut. Lokasi yang indah untuk rekreasi bersama keluarga. Ternyata kenangan piknik di pantai ini begitu berkesan bagi Nenek, karena kondisi Kamboja yang semakin tidak aman membuat Kakek dan Nenek berpikir untuk segera meninggalkan Phnom Penh menuju Indonesia lewat Myanmar dan Thailand sebelum akhirnya bertolak dari Bangkok menuju Jakarta.

Sihanoukville
sumber foto: www.cambodiatours.co
Shanoukville
sumber foto:cambodiatravel.indochinacharm.com

Saya sendiri sebagai cucunya jika tidak mendengar langsung dari Nenek sepertinya tidak percaya akan romansa masa mudanya dengan almarhum Kakek saya. Cinta dan kasih sayang keluarga yang begitu erat di tengah kondisi perang.

Nenek, Mama beserta Adik dan Kakaknya
Di antara keluarga besar, tak hanya saya yang hobi traveling banyak sepupu juga yang suka jalan-jalan namun belum ada satupun yang menginjakkan kaki di negeri asal orang tua kami lahir. Sebentar lagi, saya akan menapakkan kaki di kota kelahiran Mama dan mengemas kembali kenangan Nenek di Phnom Penh.

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Indonesia Corners dan JD.ID. Artikel ditulis berdasarkan pengalaman dan opini pribadi.



You Might Also Like

8 comments

  1. Keren Kak, pasti seru nih menyelusuri Kamboja, mana ada sejarah keluarga juga yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba, Insya Allah akhir Juni. Mau foto banyak tempat buat Nenek

      Hapus
  2. Wih keren euy Mba Yun ternyata ada garis keturunan luar negeri.

    BalasHapus
  3. wah kerennya , nostalgia buat kakek dan neneknya siplah

    BalasHapus
  4. wah keren nin nostalgia buat kakek dan neneknya siplah

    BalasHapus
  5. Terkandung nostalgia dalam seporsi makanan.melambung ingatan kala mengunyah dan mencernanya.. Terharu

    BalasHapus
  6. Wah. Neneknya dari Vietnam ya.
    Saya jg pengen banget nih bs jalan2 keluar Indonesia dan rencananya ya jelajah Vietnam dan juga kamboja :)

    BalasHapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images