Sepucuk Angpau dari Glodok

23.05

Imlek City Tour with ID Corners

Walking Tour Edisi Imlek bareng ID Corners
Sebagai follow up acara temu asik yang merupakan kerja sama ID Corners dengan Jakarta Good Guide diadakanlah sebuah trip yang bertepatan dengan perayaan imlek. Gelaran Imlek City Tour ini hanya berkapasitas 15 orang. Saya tak mau kalah cepat, segera saya mendaftar. Siapa tahu kan bisa bertemu Mas Farid lagi ^_^

Dewi Fortuna masih memberikan keberuntungan, saya turut menjadi peserta imlek city tour. Di hari pelaksanaan kami berkumpul di hotel Novotel Gajah Mada. Kali ini saya hadir tepat waktu, tahu dong kenapa? Hehehhe. Sambil menunggu semua peserta berkumpul, saya dan Bang Eka sibuk berfoto-foto di pelataran rumah Candranaya.

rasanya mau ngopi di sini




Tepat pukul sepuluh, para peserta duduk di tangga menghadap rumah Candranaya. Lima belas peserta yang hadir diwajibkan memakai kostum bernuansa merah. Saya pun mengenakan t-shirt merah ID Corners yang saya dapat dari acara temu asik sebelumnya.




Mas Indra dari Jakarta Good Guide menjelaskan sejarah kawasan pecinan Glodok. Saya terpana dengan penjelasannya yang lengkap tentang bagaimana Belanda memperlakukan orang-orang Tiongkok dengan kejam lewat pembantaian massal sehingga banyak dari mereka yang melarikan diri. Sulit rasanya membayangkan kehidupan pada masa itu, begitu mencekam.

Setelah penjelasan yang seolah membawa saya ke masa lalu, kami pun berkeliling rumah Kapten Candranaya. Orang terkaya pada masa itu yang memiliki 14 orang istri. Sebagian interior rumah masih asri. Melewati halaman belakang, saya tercekat melihat sebuah hotel megah berdiri di belakang sebuah kolam yang konon merupakan tempat bersantai sang Kapten.


pintu rumah Candranaya
di tengah-tengah rumah Candranaya



Mas Indra guide hari ini
Menurut Mas Indra, memang hanya sebagian kolam yang bisa diselamatkan. Untung saja rumah Candranaya sudah dikategorikan sebagai cagar budaya. Tak rela rasanya jika peninggalan sejarah yang berharga ini harus rata dengan tanah dikalahkan pusat perbelanjaan ataupun hotel mewah.




Pantjoran Tea House
Dari rumah Candranaya, kami berjalan menyusuri trotoar sepanjang jalan Glodok hingga tibalah di sebuah bangunan yang dahulunya dikenal sebagai apotek Chung Hwa. Bangunan kuno yang kini dipercantik berada di pinggir jalan besar dengan bentuk yang khas. Bangunan itu kini digunakan sebagai restoran bernama Pantjoran Tea House.




Di halaman depan Pantjoran Tea House berjajar delapan teko teh. Pakar teh, pakar budaya sekaligus ekonom pak Lin Che Wei sedang menjelaskan tradisi minum teh, beliau berpakaian cheong sam merayakan dan memeriahkan suasana imlek hari itu. Rombongan kami diperbolehkan ikut jamuan minum teh delapan teko. Sesekali orang-orang lewat menyapa pak Lin Che Wei.


Kami juga diajak berkeliling Pantjoran Tea House sambil mendengarkan bagaimana pertama kali tradisi minum teh masuk ke Indonesia. Menurut Mas Indra, Pak Lin Che Wei ini orang yang sibuk sekali bisa dibilang kami beruntung bisa bertemu beliau tanpa membuat janji terlebih dahulu.

Klenteng Kim Tek Le
Dari Pantjoran House kami menyeberang dan masuk ke sebuah gang kecil. Gang itu tersebut rupanya sebuah pasar kecil, banyak penjual sayuran, buah-buahan dan aneka ikan bahkan kodok pun dijual di sini. Ada pula penjual angpau untuk anak-anak.




Di penghabisan pasar, sebuah klenteng besar berdiri megah. Klenteng yang konon merupakan klenteng tertua di Jakarta ini pernah terbakar dan telah diperbaki bahan rencananya akan direnovasi besar-besaran. Ratusan lilin merah menyala melambangkan harapan memenuhi ruangan persembahan. Karena pernah mengalami peristiwa kebakaran, kini pada jam tertentu lilin akan dimatikan untuk kemudian dinyalakan kembali.

suasana imlek di Klenteng

Gereja ST. Maria De Fatima
Matahari makin tinggi, menjelang pukul dua belas siang, kami meninggalkan Klenteng Kim Tek Le menuju Gereja ST. Maria De Fatima, rombongan kami melewati pemukiman penduduk. Ada sebuah jalan kecil yang mencuri perhatian. Di depan jalan tersebut terdapat patung Dewa menghiasi gerbang merah yang di atasnya tertulis “Jl. Kemenangan” saya pun berfoto di bawah gerbang tersebut agar selalu meraih kemenangan (kepinginnya sih begitu hehhehhee).


Jalan Kemenangan

Berjalan maju sedikit, sampailah kami di sebuah gereja katolik yang bentuk fisik bangunannya layaknya rumah Tiongkok. Konon gereja ST Maria de Fatima ini adalah salah satu dari dua gereja di dunia yang memiliki arsitektur Tiongkok.






Bagian dalam gereja sama seperti gereja katolik pada umumnya namun banyaknya ornamen dan tulisan mandarin menjadikan gereja ini punya keistimewaan tersendiri.




bagian dalam gereja


Klenteng Toa Se Bio
Sekitar 10 Meter dari gereja ST Maria terdapat sebuah kelenteng bernama Toa Se Bio. Di pelataran Klenteng terdapat banyak penjaja makanan. Ratusan lilin merah berjajar dan menyala menghiasi jalan masuk menuju bagian dalam Klenteng Toa Se Bio.



Klenteng Toasebio

Peserta yang kelelahan dan kepanasan duduk di sebelah kiri jajaran lilin sambil menikmati es jeruk peras. Kesegaran jeruk mampu menghilangkan dahaga di siang itu.

Saya menghampiri Mas Salman yang sedang asyik memotret jajaran lilin. Saya pun minta difoto dan hasilnya ciamik banget. Kini giliran saya memotret Mas Salman, waktu lihat hasilnya ia pun geleng-geleng, baiklah saya memang tak pandai memotret hahahhaa …

Tetap ciamik difoto meski aslinya sudah keringetan dan habis panas-panasan



Kursus singkat fotografi pun diberikan oleh Mas Salman yang kebetulan shionya sama seperti saya namun kemampuan fotografi kami ini bagai bumi dan langit. Setelah beberapa kali jepret lumayan lah akhirnya. Lega rasanya, macam tekanan mental yang bisa terlepas ahahhaha.

Menikmati kuliner Gang Gloria dan Kalimati
Dari Toa Se Bio kami menyeberang dan masuk ke gang kecil. Di gang kecil ini saya seolah berada di tahun 90-an, bayangkan saja di sini masih ada penjual kaset.


Gang yang kami lewati ini bernama gang Kalimati, menurut Mas Indra sang guide di gang ini ada bakso yang enak sekali. Saya dan Bang Eka juga peserta lain ikut mencoba. Seporsi bakso urat terhidang di depan saya. Kuahnya lezat, baksonya pun lembut dan kenyal. Harga seporsi bakso hanya delapan belas ribu rupiah.


seporsi bakso urat



Usai makan bakso, kami berjalan lagi keluar gang dan melewati seorang penjaja makanan yang unik. Nama makanan itu agak sulit diucapkan, terbuat dari tepung beras yang dipadatkan dalam satu piring kecil. Saat disajikan, penjual akan membelah adonan tepung itu kemudian dibelah dan ditaburi bawang putih goreng dan kuah gula atau kecap asin. Rasanya gurih meski agak kurang akrab di lidah tapi boleh dicoba.





Ujung gang Kalimati adalah sebuah optik dekat Gedung Chandra, kami pun menyeberang menuju gang kuliner paling hits di Glodok yaitu gang Gloria.


Ini adalah kunjungan saya untuk kesekian kalinya ke Gang Gloria namun tak pernah bosan. Kami berjalan menuju bagian ujung gang, di sana terdapat sebuah foodcourt yang semuanya enak. Saya pernah mencoba beberapa makanan di sana.

Kali ini saya dan teman-teman memesan siomay, kari ayam dan cakwe. Sebagai reviewer makanan dengan dua kategori yaitu enak dan enak banget, maka saya bilang tiga makanan itu enak banget.

Harga satu cakwe Rp 3.500. Jangan lupa pesan siomay yang spesialnya dibalut kulit tahu, harga seporsi siomay Rp 20.000. terakhir jagoannya yaitu kari lam, ada kari ayam dan kari sapi seporsi Rp 45.000.
siomay gang Gloria yang enak banget


cakwe Gang Gloria

Kari Lam Gang Gloria
Di Food court ini kami pisah dengan Mas Indra sang guide. Selesai makan semua peserta pisah ke tujuan masing-masing. Seminggu kemudian saya mendapat kartu e-money berwarna merah putih dari ID Corner sebagai souvenir terlah mengikuti Telisik Unik Imlek Indonesia Corners.


Terima kasih ID Corners, acaranya keren banget. Terima kasih Mas Indra kakak guide yang oke dari Jakarta Good Guide.

Dear Mas Farid, sepertinya saya sudah bisa nih jadi guide di Jakarta Good Guide khusus jalur Glodok dan jalur kenangan #ehhh

You Might Also Like

48 comments

  1. Masih ada orang yang jualan kaset. Keren...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, aku mau beli juga bingung mau setel di mana, ga punya radio tape

      Hapus
  2. Makanan yg abis bakso itu namanya Mipan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ohh itu ya Den, enak meski awalnya anehh hehehe

      Hapus
  3. Sepertinya mbak Yun sudah cocoklah jadi duta wisata dan budaya glodok dan sekitarnya. Keren dan lengkap informasinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga aku segera direkrut sama Jakarta Good Guide ya Teh hehehhe

      Hapus
  4. Wih asik bgt kak.. ikut donk klo dan acr kaya gini lagi hehe , seru bgt 😍

    BalasHapus
  5. Dari kemarin kepingin banget ikutan tournya Jakarta Good Guide. Masih cari jadwal yang cucok. Kayaknya sih seru juga yaa. Explore Jakarta lebih dalam lagi~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru banget Mba, kalau guidenya jago kita kaya lagi dibawa ke masa lalh gitu

      Hapus
  6. duh enak yaaa... btw kak yun cek deh htmlnya soalnya ga keluar rincian tulisan saat di share

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enaak doongs. Ehh thank you ya, btw ceknya gimana? #gaptek

      Hapus
  7. Lengkap banget dah kalau kak yun dah mulai cerita. Nice impohh kak..

    BalasHapus
  8. Ini seru banget sih, aku jadi kepengen kesana. Masih ada lagi gak ya programnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang seru banget Mba, untuk info Bisa cek di IGnya.

      Hapus
  9. Hahaha shio boleh sama ya mba tapi harus foto entar dulu. Doi emang jago ih saya juga punya beberapa pose hasil jepretannya. Baca ini ikut larut Glodok pada masa hitnya ya. Pun sampai hari ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahhaha iya, padahal kondisinya itu dah keringetan jalan panas2 tapi koq bisa sekece itu difoto. Emang dahsyat banget itu Mas Salman. Aku ga berani kalau disuruh fotoin dia Mba. Shio boleh sama, kemampuan fotografi?
      ahhh saya mah tiarap dia dah lari

      Hapus
  10. Seru ya bisa kumpul teman-teman IDCorners. Aku malah belum sempat gabung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga segera bisa ikut seru2an bareng ya Bang

      Hapus
  11. Sering kesini cuma belanja peralatan saja. Padahal kalau diperhatikan keren banget tempatnya :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren Bang, serasa lagi di Taiwan kalau jalan2 di Glodok

      Hapus
  12. Aku donk mbak diajakin ke Glodok. Ternyata banyak banget ya peninggalan sejarah dan kuliner di sana :D

    BalasHapus
  13. Lengkap sekali ceritanya Mbak Yun. Serasa ikut menelisik Kota Tua Jakarta bersama Indonesia conners dan Mas Indra. Sampai di Gang kuliner baru ngecas habis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Evi, seru buanget. Nanti kalau ID Corners ada acara lagi aku harus ikut

      Hapus
  14. saya suka juga blusukan di pasar sembilan, ini yang menarik siomay dn cakwenya..ada membuat saya jadi laparr

    BalasHapus
    Balasan
    1. Somaynya unik banget Mba, dibungkus pakai kulit tahu rasanya wah jangan ditanya lagi. Maknyuss

      Hapus
  15. Balasan
    1. Seru banget Bang, apalagi kulinernya mantap semua

      Hapus
  16. Waaahhh seru ya yernyata menjelajah glodok. Aku juga sering ke sekitar sana, tapi cuma ke mangga dua...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Next time cobain kuliner di sana Mba, baksonya wiww mantab bgt loh

      Hapus
  17. nice info untuk ragam cerita di menjelajahi Glodok Mba.. berasa ikut jalan-jalan juga

    BalasHapus
  18. sip, bisa jadi destinasi jalan-jalan selanjutnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jalan2 dan kulineran di Glodok memang ga ada habisnya Kak

      Hapus
  19. Gereja bergaya tiongkok itu menarik sekali kaka...jadi pengen jalan2 ke sana.

    BalasHapus
  20. Lengkap banget kakak infonya, jadi pengen ikutan dirimu jalan-jalan, ajak aku dong kakak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siaap, kapan2 kita ikut tour Jakarta Good Guide bareng yuk Mba

      Hapus
  21. Meriah euy..serba merah pas bgt sama nuansa imlek.

    BalasHapus
  22. Merah merah seru banget jalan-jalannya! Aku kepingin deh ke Pantjoran Tea House soalnya aku suka teh.

    BalasHapus
  23. Nama hotel megahnya yang di dekat kolam apa mbk ?

    BalasHapus
  24. Wow asyik ya bisa jalan2 ke tempat bernuansa imlek. Makanannya sepertinya enak2 nih.

    BalasHapus
  25. Nah aku pernah juga tur ke Candranaya saat menginap di sana. Unik, di samping hotel masih ada bangunan cagar budaya.

    BalasHapus
  26. Aku baru tau ada acara ini. Seru bangett. Semoga next diadain lagi dan bisa ikutan

    BalasHapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images