Pesan Damai Idulfitri: Indonesia Tanpa Hoax

12.07


Assalamualaikum di hari yang fitri ini semoga semua menjadi kembali ke fitrahnya. Belakangan ini kita sering melihat di media sosial sering terjadi “perang komen” hanya karena pilihan politik yang berbeda. Sungguh saya merindukan damainya perbedaan.


Saya teringat beberapa bulan lalu secara tidak sengaja menghadiri  bahkan ikut serta dalam acara kampanye anti Hoax. Hoax singkatnya adalah berita yang tidak benar, jika dibiarkan ini berbahaya. 

Bazaar di Sarinah
“Cikgu, ikut bazaar yuk.”
Ajak teman-teman dari group Hitters Jaktim, komunitas generasi 90-an. Ajakan itu  kemudian saya iyakan. Karena hanya boleh berjualan makanan, saya pun memilih jual kue Putri Ayu langganan itu loh.

Crap! Saya bangun kesiangan di hari bazaar. Dengan terbirit-birit saya ambil kue kemudian meluncur menuju stasiun kereta. Di area parkir Sarinah sudah terpasang tenda besar, aroma masakan  menggelitik penciuman. Saat saya tiba di stand, teman-teman sedang menata kue-kue tradisional yang akan kami jual.

Aneka kue basah


Ternyata kami ini merupakan bagian dari Sarinah Harmoni Indonesia Festival Kuliner. Lah saya baru ngeh hahhaha, maklum deh kesibukan saya kini sudah semacam artis dangdut Pantura hehehe sehingga kadang tidak terlalu detail membaca obrolan di grup Whatsapp.

Stand yang kami tempati berhadapan langsung dengan panggung utama. Di Panggung terdapat sebuah spanduk besar bertuliskan Harmoni Indonesia Tanpa Hoax. Area bazaar kuliner terdiri dari 30 stand makanan Tradisional. Ada kerak telor, dodol, mendoan, pecel dan sebagainya.

Dodol Betawi

Kerak telur

Penunggu stand yang manis-manis

Panggung utama
Kampanye Anti Hoax
Sebuah panggung besar dengan spanduk bertuliskan “Harmoni Indonesia Sholawat Harmoni dan Doa Untuk Negeri Deklarasi Masyarakat Anti Hoax Pentas Budaya Betawi”. Kalau spanduk seperti ini saya yang buat pasti saya sudah diketok dosen dan juga senior di Lakon Teater , mereka akan bertanya “itu spanduk atau cerpen?” hehhehee.

Terlepas kurang tepatnya bahasa pada spanduk, saya memahami esensi acara hari ini. Semua elemen bangsa baik pemerintah hingga komunitas budaya akan bersatu padu untuk melawan HOAX.

Acara yang digelar juga cukup seru. Orkes gambang kromong Betawi menjadi penampil pertama. Penyanyinya lucu dan atraktif, mereka menampilkan lagu-lagu karya Benyamin Sueb, ikon legenda Betawi. Sesi talkshow juga ada dan disiarkan di radio secara langsung, mengahadirkan budayawan dan juga humas POLRI. Setelah talkshow seluruh pendukung acara berkumpul tepat di bawah panggung sambil memegang sebuah spanduk dan mengucapkan “Deklarasi Indonesia Tanpa Hoax”. Saya melihat semua partisipan bersungguh-sungguh mengucapkan deklarasi. setelah selesai deklarasi, acara ditutup dengan pembacaan sholawat.

Talkshow budayawan, Humas Polri  dan elemen masyarakat

Deklarasi Indonesia tanpa Hoax

tokoh masyarakat yang hadir

Sholawat penutup acara
Semakin siang pengunjung bazaar makin sepi. Sesama pedagang bazaar kami pun saling bertukar makanan dan saling icip, padahal kami tidak saling kenal. ini dia yang disebut harmoni yang sesungguhnya.

Cegah HOAX
Menurut saya mencegah hoax bisa dimulai dari diri sendiri. Yuk cegah Hoax mulai dari diri sendiri dengan cara:

· tidak mudah terprovokasi
· membaca informasi dari media kredibel dan bisa dipercaya
· mencari informasi bandingan
· tidak menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya

Semoga kita semua adalah pengguna media sosial dan warganet yang cerdas dan bijak hingga mampu cegah hoax.

Baca Juga:
From Hits 80s 90s
Bazaar yuk 

You Might Also Like

48 comments

  1. Benar mbak jangan sampe kita mengambil kesimpulan sendiri sebelum mencari tau kebenaran www.pejuangtangguh .com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kak, itulah pentingnya check and recheck ya, jangan sampai kita ini menjadi penyebar hoax.

      Hapus
  2. Satu lagi mbak, menyadarkan masyarakat agar tidak menjadi manusia yang terlalu fanatik. Karena orang yang 'TERLALU' fanatik, cenderung menutup diri dari informasi-informasi yang lain...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah iya benar, fanatisme berlebihan kadang membuat tutup mata pada fakta ya Kak

      Hapus
  3. Mantap ternyata acaranya tidak hanya bazaar tetapi edukasi tingkat lanjut untuk memerangi hoax., Saya juga prihatin dengan kabar yang bersliweran di media sosial masa sekarang, kok malah semakin hari semakin banyak berita hoax yang bertebaran, terlebih di tahun politik sekarang. BTW itu deklarasi anti hoax siapa yang menginisiasi mbak? ada instansi khususnya kah yang memprakarsai ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini acara dari Kominfo, tapi saya sendiri awalnya cuma ikut bazaar. Ketika materinya menarik, saya sibuk dengan materi, teman saya yg jaga stand bazaar hehehe

      Hapus
  4. Bener banget! Mencegah hoax itu dimulai dari diri sendiri dulu. Kalo dapet informasi, harusnya tabayyun dulu, jangan langsung menelan mentah2 informasi yang didapat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup Mba, jangan sampai yaa kita ini jadi penyebar hoax juga.

      Hapus
  5. Yang sering digunakan menyebarkan hoax itu adalah FB. Perlu bijak menyikapi artikel yang ada di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas, kadang lelah deh baca timeline FB yang akhir2 ini perang status dan diperkuat informasi dari web yg belum bisa dipastikan kebenaran infonya. Mudah2an kita ini ga termasuk penyebar hoax ya, mending aku mah jadi penyebar galau aja

      Hapus
  6. Bener banget, menghindari berita hoax dari sendiri dulu. Baca secara kemudian verifikasi.

    Salam hangat orang udik
    http://www.kompasiana.com/rakyatjelata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga Kak. Semoga kita semua jadi warganet yang cerdas dan kritis menerima info

      Hapus
  7. wahahahahaa.. iya bener. itu spanduknya panjang banget kalimatnya udah kayak cerpen.

    semoga efektif nya acara nya untuk memerangi hoax.

    zaman now kalau bukan kita yang memerangi hoax, siapa lagi.
    kalau bukan sekarang kapan lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahha iya gitu spanduknya. Hoax memang berbahaya ya kan Kak? Harus ada kesadaran dan edukasi bagi warga supaya ga mudah terprovokasi oleh berita atau informasi yang masih belum pasti kebenarannya

      Hapus
  8. Sekarang berita hoax dan penyebar kebencian lebih mudah di terima masyarakat ya mbak dibanding berita positif. Kadang suka sedih dan pilu, kalau Momen Hari Raya gini masih aja ada oknum yg seperti itu. Semoga kegiatan positif ini akan sering diadakan ya mbak agar selalu mengingatkan kita semua

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba sedih banget melihat orang zaman sekarang dengan mudah mencaci maki orang lain, merasa benar sendiri dan mudah tersulut emosinya. Mudah-mudahan kondisi ini bisa segera membaik

      Hapus
  9. Gerakan antimainstream krn zaman skrg hoax emang bertebaran dimana mana yaa mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul Mba, makanya cara cegah hoax paling efektif ya mulai dari diri sendiri

      Hapus
  10. Paling sedih itu, moment hari raya begini ttp aj ad pesan berantai dr WA ttg Hoax ini. Mau ditegur nanti dibilang sok tau. Mau di begini begini dikira Pendukung apalah. Jadi kalau saya biasanya cm diem sambil mendem nulis. Hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba, bingung kadang sama yg masih sebar hoax, maunya apa sih semua koq ga ada bagusnya. Benar juga sih Mba, mungkin sebagai blogger cara kita memerangi hoax adalah menulis fakta

      Hapus
  11. Bener Bun mencegah hoax itu harus dimulai dari diri sendiri. Jadi kalau ada berita baiknya kita tahu sumbet jelasnya. Jng sampe menyebarkan sesuatu yang tidak baik atau menfitnah orang karena apa yang kita bagikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul banget Bunda, semoga kita semua ga menjadi penyebar hoax ya. Semoga kita sebagai blogger bisa menulis fakta yg memerangi hoax

      Hapus
  12. Wah sesama pedagang saling icip makanan. Gratis atau bayar ya? Hehehe Miss penasaran. Sukses ya buat bazar selanjutnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gratis Miss, tuker-tukeran makanan aja karena males dibawa pulang lagi. Yaa bagi-bagi rezeki

      Hapus
  13. Salah satu cara mengurangi hoax adalah mengedukasi orang2, kebanyakan sih ibu/bapak yang ngeloat berita, terus langsung di-share tanpa baca baik2..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya edukasi dengan cara dan bahasa yang tepat bisa membuat orang-orang mengurangi subyektivitas seseorang menyebar hoax, dan mudah-mudahan bisa berhenti

      Hapus
  14. duh, emang ngeri nih kalau kita terima berita mentah-mentah tanpa kroscrek terlebih dahulu.. biasa saya lihat di facebook nih, pada share berita yang cuma dibaca judulnya aja, padahal gak nyambung sama artikelnya -_-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya di FB banyak sekali grup2 yang isi beritanya hoax. Sedih lihat orang begitu mudahnya berbahasa kasar hanya karena subyektivitas dan opini yang beda. Memangnya kalau beda kenapa sih, kan ga apa2 juga ya Mba.

      Hapus
  15. Hallo Cikgu Yunita!

    Dan buat aku pribadi cara mencegah hoax adalah nggak mudah re-share berita berita yang judulnya terlalu mennyudutkan atau menjelekkan atau kontroversial, atau linknya dari portal berita yang tidak terpercaya. Secara sekarang berita hoax makin makin menjadi jadi apalagi yang mengatasnamakan agama. Kzl

    Aku juga pernah datang di acara stand2 kudapan tradisional begini tapi yang di Summarecon Bekasi. Ahh, emang ini syurga makanan ya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo Mba Meykke, salam kenal ya. Yup jangan mudah share berita yang masih ga jelas sumbernya, atau mending ga share apapun sama sekali

      Hapus
  16. Acaranya bagus ya..mensosialisasikan hoax kepada masyarakat agar gak sembarang percaya berita hoax apalagi ikut menyebarkannya. Eh aku kok gafok ma adonan dodolnya ya...dodol betawi bukan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dodol betawi asli. Stand paling niat itu Mba. Bawa kompor, ngaduk adonan on the spot. Yang beli dan numpang foto di situ jg banyak

      Hapus
  17. hoax itu memang meresahkan dan kampanye seperti ini adalah kampanye yang baik. Mencegah hoax itu metodenya variatif ya, dengan kita sendiri yang tidak ikut terprovokasi aja kita udah bis amencegah hoax.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Kak, kita pribadi bisa jadi mata rantai pencegah hoax dengan tidak share berita yang tidak jelas sumbernya

      Hapus
  18. Salam cikgu. Keren info nya. Sebagai perempuan sadar digital butuh kesadaran tingkat tinggi. Tidak mudaj terprofokasi. Membaca pengalaman dari berbagai sumber. Menganalisa. Konfrontasi dengan cara yang baik. Menggunakan bahasa yang baik dan bijak. Membutuhkan kedewasaan tingkat tinggi. Smart Phone memang betul betul dibutuhkan smart people who van realized smart sharing. Hanya bisa berdoa Cikgu. Semoga Tidak ada lagi War Comments. Kalimat penebar kebencian. Memojokan satu kaum. Padahal belum tentu kaum yang maha benar itu sempurna 100%. Thanks for sharing Cikgu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam Kak, benar banget Kak sebagai blogger kita perempuan sadar digital dan semoga kita juga mampu menjadi garda depan anti hoax demgan senjata kita menulis sesuai fakta

      Hapus
  19. Masih banyak juga yang berpendidikan masih termakan hoax. Kita emang masih harus mengedukasi (terutama diri sendiri dan keluarga) gimana caranya menyaring hoax ya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sangat disayangkan ketika orang berpendidika, tokoh Masyarakat malah ikut2an menyebar hoax, semoga mereka bisa lebih bijak ya mba

      Hapus
  20. Wuaaah, makanannya bikin ngiler. Lihat dodol betawi kog jadi kepengen. Lebaran kemaren sempet dioleh29n dodol betawi dan sukses habis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enak ini Mba, apalagi cobain yang langsung dari wajannya. Manis hangat

      Hapus
  21. Hoax oh hoax, herannya banyak aja yang percaya. Makanya saya ogah share2 BC di grup2 gtu. Lbh baik baca media yang terpercaya.
    Sbg pengguna medsos kita mulai dr diri kita sendiri gak ikutan nyebarin ya mbak TFS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mba, setidaknya kita ga jadi mata rantai penyebaran informasi yang masih simpang siur

      Hapus
  22. Hoax, ah sudahlah, edukasinya kudu pelan2 dan istiqomah. Aku fokus ke makanannya aja deh, itu bikin ngiler makanan tradisionalnya. Duuh jadi kangen ramadhan lagi ada mamang mangkal depan gang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari semua stand yg ada pas bazaar itu, stand dodol betawi yg paling menarik orang. Unik sih pakai bawa2 wajannya langsung hehehe

      Hapus
  23. Jajanannya seru banget itu, bener banget sekarang ini memang jangan mudah terprovokasi dengan berita yang belum tentu valid. Apalagi sekarang ini media social gampang banget di akses oleh siapapun ya mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang acara bazaarnya aeru banget, tapi yg beli ga banyak Mba makanya siangan kita sesama pedagang sudah tuker2an kue sambil kenalan. Hitung2 saudara baru yangbbisa tukeran informasi bazaar

      Hapus
  24. Bener banget ini, kita harus cegah hoax dari diri kita sendiri. Kalau kita pandai memilah informasi, pasti gak akan ada yg namanya hoax yg semakin tersebar. Btw aku kok salfok sama makanan-makanannya terutama dodol itu aku belum pernah coba yg kayak gitu *ngiler*

    BalasHapus
  25. yups, aku setuju banget. berota hoax itu harus dicegah bersama-sama. perlunya edukasi untuk semua elemen masyarakat untuk lebih cerdas dalam menggunakan social media karena dengan jejaring social media membuat berita hoax mudah tersebar. aku pun sering dibuat gemas dengan beberapa orang yg tanpa merasa bersalah menyebarkan berita hoax di social media apalagi ada unsur kekerasan dan provokasi.

    BalasHapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images