Lembutnya Angin Kepulauan Nha Trang Vietnam

10.52


Hangatnya sinar matahari menyapa dari jendela sleeper bus yang saya naiki. Saat tirai tersibak, hamparan pasir pantai dan deru ombak menyapa mata saya yang masih mengantuk. Pukul enam tiga puluh pagi, sleeper bus sudah merapat di kantor Shinh Tourist Nha Trang. Dari semua kantor biro wisata terbesar di Vietnam Shinh Tourist ini, kantor Nha Trang lah yang paling bagus karena jadi satu dengan hotel. 

Pantai Nha Trang 

Kami meletakkan carrierl di tempat yang telah disediakan sambil men-charge baterai ponsel dan juga power bank. Sayangnya di kantor Shinh Tourist Nha Trang tidak ada kamar mandi (shower), jadi pagi itu kami harus bersabar membersihkan badan hanya dengan tisu basah.

Pantai gratis dan bersih di Nha Trang
Wisata kami selanjutnya di Nha Trang akan dimulai pukul Sembilan, jadi kami punya waktu untuk jalan-jalan di sekitar kantor Shinh Tourist sambil mencari sarapan. Suasana Nha Trang hampir sama dengan Kawasan Kuta Bali. Pantai dengan lautan biru dan pasir yang langsung berseberangan dengan jaringan hotel mewah skala internasional. Satu yang membuat saya iri dengan pemerintah Vietnam adalah mereka sadar wisata dan mampu mendidik warganya untuk menjaga kebersihan di tempat wisata.



Finally makan pho asli Vietnam
Kami kembali ke jalan dekat Shinh Tourist karena tak menemukan sarapan yang enak di Kawasan pantai, soal jajanan pinggir jalan memang Indonesia masih juara. Sekira 50 meter dari kantor Shinh Tourist terdapat sebuah kafe pinggir jalan yang terletak di pelataran sebuah hotal. Karena terlihat bersih dan menjual pho makanan khas Vietnam, kami pun tertarik untuk masuk. Hari ini adaah hari keempat kami di Vietnam namun belum sekalipun mencoba makan pho. Saat pesanan kami terhidang, semangkuk besar pho yang terlihat seperti kwetiaw kecil tipis dengan kuah kaldu bening yang harum menyentuh hidung, kami jadi yakin kalau kami tak salah pilih.



Kesegaran kuah kaldu bening dengan sayuran segar, perasan jeruk nipis dan daun wonsui (daun ketumbar) membuat pho ini kaya rasa, kata enak sepertinya tidak cukup untuk menceritakan. Kami makan dengan nikmat hingga tak sadar bahwa 15 menit lagi akan dijemput travel yang akan membawa kami keliling pulau.

Di depan kantor Shinh Tourist kami dijemput sebuah bus dan menempuh perjalanan selama dua puluh menit hingga tiba di sebuah dermaga. Secara fisik dermaga ini mengingatkan saya pada Muara Angke Jakarta namun kondisinya sangat bersih. Puluhan kapal bersandar di dermaga ini. Kami memasuki sebuah kapal dan segera memilih tempat duduk dan mengenakan life jacket yang sudah dibagikan.


Perahu pun mengalun membelah lautan, di sebelah barat sebuah theme park berdiri dengan megah. Kalau tidak salah Vin Pearl Namanya. Kereta gantung melintas di atas lautan. Salut lagi saya dibuatnya, pemerintah Vietnam sadar benar akan potensi wisata dan memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk para investor. Buih-buih ombak memecah sisi perahu, seperti biasa sisi romantis saya pun kumat, hehehhee.

Pulau Mun menjadi perhentian pertama kami. Air laut turquoise yang jernih seolah mengucapkan selamat datang. Betul-betul breath taken scene, segalanya terlihat begitu cantik. Tebing batu yang berpadu dengan pesona birunya laut. Istimewanya lagi, meski matahari terik namun udara begitu lembut dan sejuk di pulau ini. Beberapa orang menikmati sport water dan snorkeling di ujung pulau, sementara kami berdua cukup puas menikmati debur ombak pulau Mun. Sebenarnya karena irit juga mengingat kami masih di Vietnam hingga empat hari ke depan.








Baca juga: Pulau Tunda yang tak tertunda

Kami menikmati suasana pulau Mun selama satu jam lebih kemudian dipanggil oleh Yin, tour guide kami selama di Nha Trang. Perjalanan pun dilanjutkan menuju pulau kedua, pulau Mot. Saya baca di itinerary akan ada hal seru di pulau Mot.

Entertainment program: Music and singing on board, floating bar with a cup of mulberry wine and piece of pineapple. Being able to raise a cheer even in the water.

Ih keren sekali ya programnya. Mendekati dermaga pulau Mot, tiba-tiba perahu berhenti dan saya bertanya dalam hati “ada apa ini?”. Kebingungan makin berlanjut dengan merapatnya dua perahu lain di ke sisi sebelah kanan kapal yang saya tumpangi. Yin dan penanggung jawab tiap perahu bekerja sama mengikat ketiga perahu.

Dari perahu tengah tiba-tiba muncul drum band, gitar dan bass yang saya sendiri tidak lihat kapan diletakannya. Oke, sepertinya inilah yang dimaksud singing on board. Yin yang tadi pagi terihat pendiam dan pemalu saat menjemput kami di pelataran Shinh Tourist kini berubah menjadi seorang rapper di atas perahu.

sudden rapper
Tak hanya Yin, para pemandu wisata lainnya pun memamerkan kebolehan mereka menyanyi dan bermain alat musik dengan kualitas sound system yang … yah begitulah. Mau dibilang jelek karena sering nge-juit dan treble tapi agak enggak tega lihat effort mereka. Mereka menyanyikan lagu bahasa inggris, mandarin dan Korea sambil mengundang turis dari negara itu untuk bernyanyi bahkan menari bersama.


Saya dibuat tertawa lebar melihat hiburan ini. Setelah lagu Ni Wen Wo Ai Teresa Teng yang terkenal itu tiba-tiba musik berganti menjadi menghentak ala house music. Ada apa lagi ini pikir saya semakin heran. Para pemandu wisata kini melepas bajunya masing-masing dan menceburkan diri ke laut hanya dengan celana renang.

Di atas permukaan laut yang tak jauh dari perahu ketiga, mengambanglah sebuah papan biru berukuran sedang. Seorang pemandu, rekannya Yin duduk di atasnya dan membagikan minuman dari sebuah botol plastik ke gelas-gelas kecil dan mengajak turis untuk ikut berenang. Saya ngakak tak berhenti, ya ampun ternyata ini yang mereka sebut floating bar dan cheer in the water ahahhaaa. Yang dibagikan juga bukannya wine tapi lebih mirip anggur cap orang tua kalau di Indonesia, dituangkan dari botol plastik pula. Aduh, benar-benar lucu dan jauh dari bayangan.

cheers on the ocean
Musik pun mulai redup, satu persatu tali pengikat antar perahu dilepas. Tiap perahu melanjutkan ke pulau tujuan masing-masing. Perahu saya mendarat di San Beach yang dipenuhi batu koral, katanya bagus untuk refleksi. Peserta disediakan makan siang dari sebuah restoran di sana. Saya harus hati-hati dan bisa memilah makanan mana yang bisa saya makan. Yang saya tidak suka, di pulau ini banyak anjing liar. Meski anjing itu tidak ganas, tapi saya kurang suka jika makan ada banyak anjing. Sepertinya lagi-lagi saya adalah satu-satunya turis muslim di pulau itu. Kami makan bersama rombongan anak-anak muda Korea yang menyebut dirinya Marine Boys. Meraka adalah anak-anak yang baru lulus SMA. 


Bernica and the Marine Boys Dongsaeng

Baca Juga: Ganasnya ombak di pulau Seribu

Usai makan,  saya duduk-duduk di pinggir pantai. Angin yang membelai lembut membuat saya tertidur dan baru bangun ketika Yin menepuk pundak saya.  Kita akan lanjut ke aquarium Tri Nguyen. Aquarium terbesar di Vietnam. 

Saat tiba di area aquarium yang berbentuk seperti kapal layar yang besar,  udara mulai panas menyengat.  Tiket aquarium yang cukup mahal membuat kami memutuskan untuk main di kafe pinggir pantai sambil makan es krim segar. 

Aquariium Tri Nguyen berbentuk kapal


Marine Boys


Pukul tiga sore rombongan kami meninggalkan pulau terakhir dan kembali ke area pantai Nha Trang dekat Shinh Tourist. Di perjalanan pulang,  kami melihat bangunan toilet besar di pinggir pantai. Setelah diturunkan bus di kantor Shinh Tourist, kami segera mengeluarkan alat mandi dan baju ganti. 

Seperti yang sudah kami duga,  toilet besar di pinggir pantai itu memang memiliki shower untuk mandi. Dengan membayar sepuluh ribu VND,  petugas membuka kunci kamar mandi untuk kami berdua. Senang dan segar sekali usai mandi,  mengingat kami memang belum mandi dari pagi dan seharian main di pantai. 


Pukul delapan malam nanti kami akan pindah ke Mui Ne,  kota keempat dalam trip susur Vietnam selatan.  Sambil menunggi waktu berangkat,  kami jalan-jalan dan makan malam di tempat tadi pagi. Kali ini saya memesan banh xeao (dibaca banchew)  makanan berupa dadar berwarna kuning yang diisi anek sayiran dan seafood, dimakan dengan saus air ikan asam pedas. Buat saya sih rasanya enak. 

Ban Chew
Tepat pukul delapan,  sleeper bus membawa kami ke Mui Ne. Perjalanan akan ditempuh selama 5 jam. Petualangan seru pun menanti kami di Mui Ne. Nantikan cerita selanjutnya ya. 

Baca juga: Cantiknya Benteng Martello di pulau Kelor

You Might Also Like

4 comments

  1. Ya ampun seru banget sptnya kak, pengen jg ah ke Vietnam

    BalasHapus
  2. Waaah.. syantik.. mirip di Maluku pantai dan lautnya.. sukaaak ��

    BalasHapus
  3. View-nya keren ya kak 😍
    Jadi mupeng mau kesana juga

    BalasHapus
  4. Dari awal kepo , apaan floating bar dan cheer in the water ..ternyata oh ternyata hahah..
    tapi boleh juga idenya ya..
    Oh ya enggak kebayang dermaga kayak Muara Angke tapi bersih. Berarti sejatinya <uara Angke bisa dibikin bersih jugaaa
    Dan, foto-fotonya syantiiik

    BalasHapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images