Mengunjungi Sang Puspa Pesona di Orchid Forest Lembang

11.05


Puspa pesona ialah julukan untuk bunga anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis) berdasarkan  Keputusan Presiden Nomor 4/1993. Dulu,  ketika masih kuliah di Bandung,  tak jauh dari kampus terdapat area kebun bunga di Parongpong yang sering saya kunjungi untuk melihat anggrek-anggrek cantik yang berada dalam rumah kaca. Anggrek cantik tersebut dijual sangat fantastis dari harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Tak salah kiranya Dee Lestari menjadikan puspa pesona sebagai bunga berkhasiat dalam novel terbarunya Aroma Karsa.



Sebuah lokasi wisata yang belum lama ini diresmikan di Lembang, Bandung melirik potensi pencinta anggrek. Keinginan saya melihat bunga-bunga anggrek seperti zaman kuliah dulu seolah terulang.  Teman-teman backpacker Jakarta mengajak pergi ke Bandung. Berangkatlah kami berempat menuju kota kembang.

Drama di Stasiun Gambir
Kereta akan berangkat ke Bandung pukul Sembilan pagi. Satu persatu teman-teman bermunculan. Saat waktu mendekati berangkat, Rini yang dari Bekasi belum muncul juga. Semua panik karena kami belum mencetak tiket. Untungnya Rini tiba tepat sepuluh menit sebelum kereta berangkat, saya pun mengantri mencetak tiket. Kode yang diberikan Rini tak juga berhasil untuk mencetak, kami makin panik. Setelah berkali-kali gagal mencetak, akhirnya Rini sadar ternyata ia memberikan kode tiket kereta Bandung-Jakarta pulang nanti. Ahahahha ada-ada saja ini.

Tiket berangkat pun berhasil kami cetak, antrian boarding cukup panjang saat itu membuat gelisah.  Usai petugas memeriksa tiket, kami lari secepatnya ke atas menuju kereta. Kereta berjalan tepat saat kami sudah duduk manis dan segala tas sudah disimpan di kompartemen.


Berangkat
Halo-halo Bandung
Perjalanan dari Jakarta menuju Bandung ditempuh selama tiga jam, tibalah kami di stasiun Bandung. Saat kaki melangkah keluar gerbong kereta, sayup terdengar lagu mengalun.


Stasiun Bandung

Mewahnya gerbong prioritas
“Salahkah bila diriku terlalu mencintaimu, jangan tanyakan mengapa karena ku tak tahu.”

Dinyanyikan oleh band khusus yang sering tampil di pelataran Stasiun dengan personil band penyandang tuna netra cukup berhasil membuat galau. Duh kapan yak ke Bandung enggak galau lagi? Oke stop curhat, cerita lanjut. Kami berempat keluar dari stasiun dan memesan go-car menuju Orchid Forest, Lembang.

Wanawisata Serba Anggrek
Kawasan Orchid Forest terbilang sangat luas, penjaga loket membolehkan go-car ikut masuk sampai pintu masuk pengunjung, sekitar 200 Meter dari loket utama dengan gratis. Harga tiket masuk Orchid Forest sebesar 35.000.  Udara begitu teduh, sambil menunggu Ira dan Putri yang sholat, saya dan Rini sibuk jajan cilok dan juga cilor. Kedua jajanan khas Bandung yang bisa didapat di manapun tapi tak pernah seenak di Bandung.


cilok

Kami pun memasuki area Orchid Forest, tak lupa berfoto di gerbangnya yang terdapat tulisan juga gambar bunga anggrek. Sebuah prasasti terletak tak jauh dari pintu masuk. Prasasti ini diresmikan Menteri pariwisata tanggal 24 Agustus 2018, jadi usia Orchid Forest ini terbilang masih baru.


pintu masuk Orchid Forest

kiri-kanan: Rini, Ira, Putri, Yunita

Prasasti peresmian Orchid Forest

Asyiknya Ngopi dan Makan Pizza dalam Nuansa Hutan
Sebuah kafe sederhana dengan bangunan unsur kayu terletak di sebalah kiri prasasti. Kafe cantik ini menjual pizza tungku, kami yang belum makan siang tergoda untuk mampir. Kafe Aspasia ini dikelilingi pepohonan pinus dan area foto yang instagramable. Kami berempat memesan kopi, pizza dan pasta.


Pizza

Kafe Aspasia dengan nuansa alam

area luar kafe Aspasia

melamun di tengah hutan
Kopinya lumayan lah meski tak bisa dikategorikan enak banget. Pizza yang tipis dengan topping mozzarella enak sekali, tapi sayang pastanya kurang oke. Suasana kafa Aspasia yang teduh membuat kami betah untuk berlama-lama namun kami harus segera melanjutkan berkeliling Orchid Forest karena banyak sekali yang bisa kami lihat.


Pizza, pasta dan aneka kopi

Hutan Anggrek dengan Banyak Fasilitas
Yang pertama kami lihat adalah area kursi malas bean bag yang nyaman dan empuk. Selanjutnya, area amphi theatre di antara rindangnya pepohonan pinus. Selanjutnya di seberang amphi theatre terdapat sebuah rumah kaca, di dalamnya puluhan spesies anggrek tumbuh dan mekar dengan cantiknya.


Beean Bag Chair

Amphi Theater

Hydrangea di rumah kaca

Koleksi anggrek

Aneka koleksi anggrek di rumah kaca


Senja mulai turun, perpaduan mendung dan sunset memberi warna kelabu yang unik. Jembatan dan area labirin sudah mulai diterangi lampu kelap kelip. Saat itu kami baru tahu kalau berfoto di jembatan ikoniknya Orchid Forest harus bayar dan antrian cukup panjang. Terpaksa kami cukup puas dengan berfoto di sisi dekat jembatan saja.



labirin kala senja

Jembatan

Malam makin gelap, kami segera menuju pintu keluar dan menunggu mobil kecil menuju loket utama. Mobil kecil ternyata hanya mengantar sampai parkir bus, tapi karena supirnya tak tega pada kami yang manis-manis ini, ia pun mengantar hingga loket utama. Kami memberinya tips dua puluh ribu.

Kapok naik angkot dari Orchid Forest, Hati-hati ditipu!
Saat tiba di loket utama barisan angkot kuning sudah menunggu. Rencananya kami akan naik angkot kuning trayek Cikole-Pasar Lembang ini, kemudian menyambung angkot menuju Ledeng. Angkot langsung jalan begitu kami berempat naik, sungguh kami sama sekali tak curiga.

Begitu kami diturunkan di Pasar Lembang, ternyata ongkosnya per-orang Rp 35.000 jadi kami berempat harus membayar sebesar Rp 140.000. Kaget bukan main, ongkos kami tadi siang dari stasiun saja hanya seratus ribu. Supir angkot keukeuh bahwa itu tarif biasa. Bayangkan dari Cikole hingga Pasar Lembang jaraknya tak sampai sepuluh kilometer. Tahu begitu tadi menunggu angkot di jalan besar atau kami order go atau grab-car, lebih nyaman tanpa tipuan. Untung saja angkot selebihnya yang kami naiki menuju penginapan di Cihampelas tak lagi menipu.

Yuk, Nge-trip Lagi
Setelah makan malam dan mandi, kami berempat duduk santai di ruang TV. Kami menyewa sebuah apartemen di Cihampelas untuk menginap bersama-sama. Baik Rini, Ira, dan Putri merasa senang sekali hari ini bisa jalan-jalan di Bandung. Putri pun berkomentar untuk jalan-jalan bareng lagi yang tentu saja kami iyakan. Tujuan selanjutnya adalah Sukabumi, kampung halaman Ira dan sang mantan (nah jadi curhat lagi, maafkan yak hehehe).


Obrolan santai
“Oke Kak Rini yang pesan tiket ya.” Kata Ira
“Sip deh, nanti gue pesen di minimarket samping rumah.” Jawab Rini bersemangat.

Lebih Mudah, Cepat dan Hemat dengan aplikasi Pegipegi
Saya yang baru keluar dari kamar mandi merasa heran dengan jawaban Rini.

“Beli tiket di minimarket, Rin?” Tanya saya heran.

“Iya Kak, gampang, cepat juga.” Jawabnya yakin.

“Lah tapi kan kudu keluar rumah, ga bisa sembarangan pakai baju.”  Kata saya lagi.

“Iya sih Kak, tapi kan lebih mudah daripada ke Stasiun.”

“Rini, hari begini mah semua bisa pesan dari rumah aja, tinggal buka hp. Ga usah repot kemana-mana.” Saya menjawab sambil tertawa geli.

Saya pun menunjukkan cara memesan tiket kereta melalui aplikasi traveling yang terpercaya pegipegi.com. Memesan tiket kereta di pegi-pegi sangat mudah, tinggal masukkan tujuan dan tanggal keberangkatan, kemudian pilih kereta yang diinginkan. Langkah selanjutnya adalah memasukkan data penumpang dan membayar. Aneka metode pembayaran pun terdapat di pegipegi tinggal dipilih saja mana yang memudahkan.

pilih menu tiket kereta
pilih kota tujuan

pilih kereta yang diinginkan

Periksa kembali ringkasan pemesanan

banyak opsi pilihan pembayaran

Aneka promosi dan diskon bisa diperoleh di aplikasi pegipegi.com, jadi traveling ke semua tempat wisata di Indonesia dengan kereta bisa lebih mudah  dengan pegipegi.


aneka promo di www.pegipegi.com


You Might Also Like

15 comments

  1. Kenapa kl ke bandung aku ngga pernah ke tempat2 kyk gini yaa hahahah #tanyakenapa :D pengen ah next time kesini dan nyobain ke bandung pake kereta :D

    BalasHapus
  2. Sebel banget ya ditipu angkot gitu parah..Bandung cantiiik..

    BalasHapus
  3. Anggreknya cantik-cantik bangeeeeet
    Kalau ngajak ibuku ke sini, bisa-bisa gak mau pulang beliau hahaha

    BalasHapus
  4. Mbak di Orchid Foresr ada yang jual anggrek gak? Itu anggreknya menggoda sekaliiii..

    Parongpong memang menawan alamnya. Hawanya juga bikin betah

    BalasHapus
  5. Kemarin gk sempet mampir kesini karena hujan euy..kangen mau kesana jadinya.. next insyaAllah

    BalasHapus
  6. Jadi inget almarhumah mamah mertua. Semasa hidup seneng banget menanam anggrek. Sekarang udha pada gak ada anggreknya

    BalasHapus
  7. Lembang memang memesona, berkali2 Bali ke Sana enggak bikin Bosen. Ternyata orchid forest Ada di Cikole tho, aku pikir di mana

    BalasHapus
  8. Ya atuhlah Kakak, di antara semua gambar-gambar kece di atas, mataku tertujam pada cilok. Sudah tak mau lepas lagi, pada cilok saja.

    BalasHapus
  9. Saya org bdg tp blum pernah ke sana, jd wishlist buat weekend nih

    BalasHapus
  10. Whaaaatttt per orang 35rb angkotnya? hiiiihhh itu angkot apa rampok, Mbak? Duh teganya. Keluarga aku tinggal di Parongpong, tapi aku malah belum sempat ke Orchid Forrest nih

    BalasHapus
  11. Wah baru tahu ada tempat macam Orchid Forest di Bandung, lengkap lagi ceritanya, jd bisa buat petunjuk kalo aku mau main ke sana.
    Eh, aku ikut sebel lho baca bagian ditipu sopir angkot. Duh, jangan sampe kejadian lagi ya.

    BalasHapus
  12. Pernah main ke Lembang itu mainnya ke Ciater air panas itu aja ternyata ada tempat menarik lainnya nih

    BalasHapus
  13. Tempatnya seru ya kak, bunga anggreknya juga cantik2, jadi pingin kesana😍

    BalasHapus
  14. cantiknya banyak anggrek bisa cuci mata puas dan nyantai - nyantai bareng temen. andai disini ada juga pasti seru ya.

    BalasHapus
  15. Enakan di Bandung setiap tempat wisata pasti sudah lengkap fasilitasnya.. gak cuma dapet liat anggrek tapi juga view hutan udah keren tertata. Sayang masih ada aja angkut atau penjual makanan yang main palak harga begitu bikin orang kapok

    BalasHapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images