Desir Pasir Berbisik di Mui Ne

18.04


White Sand Dunes Mui Ne Vietnam

Pukul satu dinihari, langkah kami tersuruk-suruk memasuki Mui Ne Resort. Setelah menemui resepsionis yang juga baru terbangun dan menyerahkan kunci serta mengantar kami ke bungalow, kami bisa duduk sebentar dan langsung tertidur lagi. Pukul empat nanti kami harus segera bangun dan bersiap menuju Kawasan wisata bukit pasir yang terkenal di Mui Ne.


Pukul 04.30 kami berkumpul di area dekat resepsionis Mui Ne Resort, menunggu mobil jeep yang akan membawa kami ke perbukitan pasir. Satu mobil memuat 6 orang, selain saya dan Bernica serta Tina (teman Bernica yang datang menyusul) ada dua orang Vietnam dan seorang gadis Singapura yang enerjik ZQ namanya. Setengah mengantuk, perjalanan dimulai. Mui Ne ini memiliki jalan besar yang berbatasan langsung dengan laut.
menuju White Sand Dunes

Menyaksikan Matahari Terbit di White Sand Dunes

Kami pun tiba di bukit pasir White Sand Dunes pertama setelah tiga puluh menit perjalanan. Suasana masih gelap. Jeep hanya bisa mengantar hingga pintu masuk.  Kami bisa menyewa ATV atau jeep khusus yang mengantarkan ke puncak perbukitan pasir tapi harga sewanya mahal, kurang lebih 200.000 VND.


suasana masih gelap

ATV yang disewakan
Pelan-pelan saya berjalan mendaki bukit pasir ditemani cahaya samar matahari yang mulai terbit. Saya selalu tertinggal oleh yang lain karena sibuk berfoto, membuat video (biar kesannya jadi Vlogger gitu) dan tanah pasir yang saya injak selalu merosot dan jeblos. Saat sampai puncak, angin berhembus kencang, matahari sudah terbit di ufuk timur dan bersinar terang. Kami duduk menikmati, terdiam.

bulan masih ada di langit

Menyambut terbitnya matahari


Eksotisme Red Sand Dunes

Setengah jam kemudian, jeep kembali membawa kami ke area bukit pasir kedua Red Sand Dunes. Pemandangannya sangat unik,  bukit pasir di sebelah kiri jalan sementara pantai dan hamparan laut luas di sebelah kanan. Area bukit pasir ini lebih kecil dan tidak terlalu tinggi. Banyak pedagang yang menyewakan papan untuk meluncur di pasir. ZQ menyewa satu papan luncur,  tak lama kemudian ia sudah sibuk meluncur turun di bukit pasir. Kami menghabiskan waktu 45 menit di Red Sand Dunes.

ZQ si gadis enerjetik dari Singapore
Bernica, ZQ membawa papan seluncur

Red Sand Dunes Mui Ne
Baca juga: Sepucuk doa di Jabal Rahmah

Segarnya Hasil Laut di Fisherman Village

Aroma khas laut menyapa kami saat melangkah turun dari jeep dan masuk ke kampung nelayan. Menuruni puluhan anak tangga,  tibalah kami di pinggir pantai. Aneka tenda seperti jajaran tenda seafood di seberang mangga dua siap memasakkan aneka hasil laut yang kami pilih. Kerang,  ikan,  udang,  kepiting segar berjajar di hadapan mata. Sejauh mata memandang, perahu tradisional Vietnam yang berbentuk bulat nampak sedang melaut.

tangga menuju fisherman Village
aneka hasil laut segar


perahu tradisional Vietnam
Baca juga: Kiss from Fish

Mencari Jejak Peri di Fairy Stream

Tujuan kami terakhir sebelum kembali ke resort adalah fairy stream. Sungguh saya penasaran,  namanya saja sudah begitu menggoda, "fairy". Apakah kami akan menjumpai peri cantik di sini?

Menuju Fairy Stream,  kami harus melepas sandal,  dan turun ke sungai. Di sisi sungai ada penjual kelapa muda dan kue tradisional, coconut cakes yang bentuknya seperti semprong. Si gadis Singapore  nan enerjik membeli sebuah kelapa muda dan sebungkus coconut cakes. Menurut ZQ kelapa muda di Vietnam sangat murah, saat saya cerita kalau di Indonesia es kelapa muda sebungkus hanya lima ribu rupiah dia pun kaget.

coconut cakes, kalau di sini namanya semprong
Kami berempat berjalan menyusuri sungai dengan dasar pasir yang begitu padat dengan ketinggian air kurang lebih 15—20  cm,  kira-kira semata kaki.  Kiri kanan sungai tersebut ditumbuhi tanaman,  berselang dengan bukit tanah merah. Saya makin penasaran, mengapa namanya fairy stream. Semakin jauh langkah berjalan menyusuri sungai, kami belum menemukan satu alasan pun tentang fairy di sini.   

menyusuri fairy stream
Rimbunan pepohonan di sisi kiri dan kanan mulai berganti pemandangan dengan lapisan tanah merah dan tebing batu. Beberapa turis terlihat memenuhi tebing batu dan berfoto di sana. Jadi tebing batu inilah yang diberi nama fairy stream. Saya hanya bisa heran sekaligus takjub dengan cara Vietnam mempromosikan wisatanya.  Karena apa yang saya saksikan pagi ini tidak sama dengan apa yang saya baca pada situs pariwisata milik Vietnam.

After the first 300 m, the scene is like a fairyland. There are sand pillars created by the water – masterpieces of Mother Nature – that have strange forms or huge reliefs, which change with the flow. Thus, even if you have visited the Fairy Stream before, every future visit will still feel like it is the first.


Fairy Stream yang ada di web pariwisata Vietnam
Hasil foto saya di Fairy Stream 
wisatawan yang sibuk berfoto



Scene like a fairy land itu sama sekali tidak saya rasakan hehhehe.  Karena sudah lelah dan juga lapar,  kami segera  berputar kembali ke jalur pertama masuk. Jeep kami segera meluncur kembali ke Mui Ne Resort yang letaknya hanya sekira lima menit dari Fairy Stream. 

Baca juga: Takluk pada pesona Malacca River

Area restoran sudah dipenuhi tamu yang menikmati sarapan. Saat itu sudah hampir jam 08.30 sementara sarapan hanya tersedia sampai pukul sembilan. Sebagai backpacker ogah rugi,  kami segera mengambil makanan yang masih tersedia. Sarapan sambil menikmati pemandangan kolam renang dan tebing yang langsung berbatasan dengan laut memberikan sensasi tersendiri.

Usai sarapan,  kami janjian untuk berenang di kolam hotel dan juga main ke area pantai pribadi Mui Ne Resort.  Kami masih punya waktu sekitar tiga jam sebab bus menuju Ho Chi Minh City yang sudah kami pesan akan tiba jam 1 siang nanti.

kolam renang Mui Ne Resort
sumber foto dari tripadvisor
jalan setapak di Mui Ne Resort
sumber foto tripadvisor
Air kolam yang hangat,  tingkah polah anak-anak kecil lucu yang ikut berenang di kolam membuat suasana menyenangkan. Setelah bosan berenang,  kami berjalan ke ujung resort yang berbatas dengan tebing.  Beberapa kursi malas dengan tenda tersedia, pasti asyik sekali baca buku sambil ditemani debur ombak laut. Beberapa petugas hotel lewat dan menawarkan jasa pijat sambil menunjuk beberapa ibu yang duduk di pinggir pantai dekat gerbang bertuliskan Mui Ne Resort. Bukannya memanggil pemijat,  kami malah turun ke arah ibu-ibu tersebut.

kursi malas yang menghadap pantai
sumber foto tripadvisor
Menyusuri daerah pinggir pantai, menikmati ombak yang makin lama makin tinggi,  sambil melihat-lihat resort lain yang ada di samping hingga tak sadar bahwa sudah jam 12 siang. Kami pun berlarian menuju kamar masing-masing, bersiap untuk bersih-bersih dan check out.

Dengan memanggul carierl yang ukurannya makin hari makin membesar kami berjalan menuju kantor Shinh Tourist di area parkir Mui Ne Resort. Kami menyeberang memasuki restoran seafood dan memesan menu makan siang,  sementara carierl kami titipkan,  di kantor shinh tourist. Kami harus makan dengan cepat, sebab tiga puluh menit lagi bus akan tiba.


Sayangnya makanan datang sangat lama, rasanya pun tidak enak. Ya sudah kami makan seadanya, segera membayar dan masuk ke dalam sleeper bus yang akan membawa kami ke Ho Chi Minh City. Kota kelima dalam serangkaian petualangan menyusuri Vietnam.

Lima jam kemudian,  saat matahari mulai terbenam bus memasuki Ho Chi Minh City. Pemandangan khas Ibukota menyambut kami. Simbol komunisme yang di Indonesia dilarang, berkibar dengan santainya di Ho Chi Minh City.  Jika di empat kota sebelumnya saya sudah mengeluh tentang pengendara motor yang serampangan,  di sini lebih parah lagi. Nantikan cerita saya mengelilingi Ho Chi Minh City yaa

You Might Also Like

5 comments

  1. Udah tiga kali ke Vietnam, malah belum pernah ke sini. Thanks infonya, jadi mupeng ke sana...

    BalasHapus
  2. Kak Yun kalau ngetrip pasti seru2 deh tempatnya, pemandangan alamnya keren, bikin mupeng aja kak.
    Sehat selalu ya kak, biar bisa jalan2 terus dan infoin ke kita tempat2 yang amazing.

    BalasHapus
  3. Wah, asyik juga ke Mui Ne. Foto-fotonya keren.

    BalasHapus
  4. Kok aku auto ngakak yaa liat fairy stream yg di situs wisata ama yg kamu foto mba :p. Wkwkwkwk, apakah ini termasuj salah satu scam vietnam :p. Tp apapun, aku ttp cinta sih ama nih negara :D. Karena memang sbnrnya cakep dan serba murah pula. Hrs dtg lg kesana :). Trakhir kesitu, cuma hcmc sih, thn 2011. Kangen juga pgn eksplor kota2 lainnya.

    BalasHapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images