Syahdunya Rintik Hujan di Jembatan Ampera Palembang

11.39


Bandara Sultan Mahmud Badaruddin Palembang

Menjejakkan Kaki di Tanah Sumatera
Hujan deras masih terus mengguyur saat langkah memasuki gedung bandara Sultan Mahmud Badarudin usai pendaratan pesawat yang bikin deg-degan.  Saya, Titi dan Bagas akan menikmati liburan di kota mpek-mpek.  Inilah pertama kalinya saya menjejakkan kaki di tanah Sumatera, meski mengaku sebagai backpacker belum pernah sekalipun saya ke Sumatera. Semoga Palembang ini menjadi awal dan berlanjut petualangan lainnya di tanah Andalas ini.


Setelah memesan taksi online, kami meluncur keluar bandara menuju daerah Ilir timur. Palembang malam hari pukul tujuh telah sepi, gerimis pun belum juga reda.


Saat urusan check in dan mengatur kamar di hotel M Square (yang sudah kami booking online) beres kami pun berjalan keluar. Syahdunya berjalan di antara rinai gerimis melewati area pertokoan yang masih asli dengan bangunan kuno. Tujuan kami yang pertama adalah mengisi perut di martabak Har. Demi kulineran malam di Palembang, kami sengaja tidak makan berat dari Jakarta.

Uniknya Martabak Kari di Martabak Har
Cukup lama kami berputar-putar akibat kemampuan membaca peta yang sangat minim, akhirnya tiba juga di Martabak Har yang nyaris tutup. Tanpa pikir lama akibat lapar yang mendera, dua porsi martabak telur langsung kami pesan.

Martabak Har ini unik sekali. Jika di Jakarta, martabak telur berisi telur yg dikocok dengan tambahan daun bawang dan irisan daging, di sini telur diceplok langsung di atas kulit martabak yang sedang digoreng. Saus cocolannya berupa kari, bukan seperti bumbu kecap biasa. Rasa martabaknya enak sekali, selain saus kari, saus kecap asin berisi irisan cabai rawit juga tersedia.


Martabak Har yang tak boleh dilewatkan

Megahnya Jembatan Ampera
Hujan masih saja turun, tapi bedanya kali ini perut kami telah terisi dan siap menuju jembatan ampera nan tersohor itu. Dari Martabak Har, kami cukup berjalan lurus kurang lebih 200meter menuju jembatan Ampera. Jembatan kebanggaan Palembang yang sejak dulu hanya bisa saya lihat di kartu pos dan gambar di website internet kini terpampang di depan mata. Kerlip lampu yang tersemat, hiasan rinai gerimis membuat jembatan ampera nampak begitu romantis. Sayang saya tak memiliki tangan yang digandeng untuk menikmati pemandangan malam itu, agak galau bagaimana gitu jadinya. mellow swallow deh ahahahhaa.





Lorong Basah Night Culinary
Setelah sesi foto nan romantis dan galau di jembatan Ampera, langkah kami lanjutkan menuju Lorong Basah Night Culinary. Lorong yang belum lama diresmikan sebagai pusat kuliner Palembang yang berlokasi di Ilir Timur ini nampak lengang. Meski hujan telah mereda, namun tak banyak pengunjung yang duduk di area makan yang atapnya berhiaskan payung-payung cantik ini.  Pedagang pun tak banyak yang menjajakan dagangannya. Meski sepi, panggung yang terletak di ujung area kuliner ini tetap menyajikan lagu-lagu lawas dan sesekali para penjual bergiliran menyanyi menghibur pengunjung. Kami bertiga duduk tak jauh dari panggung dan memesan mpek-mpek crispy.


Suasana Lorong Basah Culinary Night
Aneka makanan di Lorong Basah



Mpek-mpek Crispy

Awalnya kami berniat mencoba aneka kuliner seperti yang ada di instagram, namun hujan seharian ini membuat pengunjung sepi dan hanya beberapa penjual yang buka. Untung saja penjual tekwan, yang awalnya sudah siap beres-beres, membuka kembali dagangannya.  Malam itu kami mencoba mpek-mpek crispy dan tekwan.

Mendadak Naik Bentor
Hampir pukul sebelas malam kami keluar dari Lorong Basah Night Culinary. Jalan menuju hotel kini makin sepi dibanding saat berangkat tadi.  Sambil berjalan, kami cerita-cerita lucu dan juga bernyanyi. Tanpa kami sadari, ternyata kami diikuti seorang lelaki tak dikenal. Awalnya kami pikir ia hanya pejalan kaki sama seperti kami, hingga tiba-tiba ia maju ke depan dan menyorongkan gelas plastik dan gerakan meminta uang. Sontak kami kaget, dan tindakan selanjutnya adalah mempercepat langkah kaki agar tiba di jalan yang lebih terang dan sedikit lebih ramai.

Pria itu terus saja mengikuti meski sesekali ia berhenti seolah mengawasi keadaan jalan yang semakin sepi. Tanpa kenal istirahat, langkah kami makin cepat dengan detak jantung makin tak karuan. Kami hanya bisa berdoa, semoga pria itu tak berniat mencelakakan kami. Sebelum kelokan jalan menuju M Square hotel, ada sebuah hotel besar. Saya pun mengajak Titi dan Bagas untuk masuk ke hotel S-One sambil menunggu keadaan lebih aman, setidaknya di hotel itu ada satpam yang bisa menolong.

Benar saja, begitu kami duduk-duduk di lobby hotel, pria tak dikenal itu tak terlihat. Entah ia bersembunyi di mana. Mengingat jalan menuju M Square agak gelap meski dekat kantor polisi, kami tetap khawatir. Tiba-tiba datang seorang bapak yang mengendarai bentor, becak motor di hadapan kami. Setelah tawar menawar harga, kami segera naik dengan formasi saya dan Titi di kursi becak meski berdesakan dan Bagas di boncengan motor.


Bentor
sumber gambar: google

Saat tiba dengan selamat di M Square hotel, kami pun tertawa lepas. Alhamdulillah kami selamat.

Flashback Persiapan Perjalanan
Sambil menunggu giliran mandi, saya mengenang proses keberangkatan kami menuju Palembang hingga kejadian mendebarkan tadi.

Semua berawal dari dua bulan lalu saat saya menemukan tiket promo ke Palembang di applikasi pegipegi.com Dengan semangat kami bertiga menyusun rencana perjalanan. Maklum saja meski mengaku backpacker, tak satupun dari kami bertiga yang pernah menjejakkan kaki di tanah Andalas alias Sumatera.

Sebagai well planned backpacker, saya paling anti pergi tanpa menyusun itinerary dan akomodasi dengan baik. Saya bukan tipe pejalan yang "gimana nanti aja", karena itu saya mengunduh aplikasi pegi-pegi di ponsel saya.

Website ataupun aplikasi mobile Pegipegi yang diresmikan pada 7 Mei 2012 oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif saat itu, Marie Elka Pangestu ini menyediakan layanan reservasi online terbaik untuk para backpacker seperti kami.


Website pegipegi.com andalan saya kala bepergian
Pegipegi terhubung langsung dengan lebih dari 7.000 pilihan hotel, memiliki lebih dari 20.000 rute penerbangan, serta lebih dari 1.600 rute kereta api dan Kereta Api Bandara (Railink) dapat di-booking melalui website dan aplikasi di ponsel. Proses pemesanannya sangat mudah ditambah dengan berbagai promo menarik dan pilihan metode pembayaran membuat Pegipegi selalu menjadi andalan saya ketika bepergian.


keunggulan pegipegi.com dan aneka promo yang disediakan

Tiket Jakarta Palembang PP kami peroleh dengan harga 500 ribuan saja dan hotel yang lokasinya sangat strategis ini, hanya bertarif 200 ribuan. Bayangkan betapa murah dan iritnya perjalanan kali ini. Semua ini saya peroleh dari aplikasi Pegipegi yang memberikan banyak promo.

Malam kian larut, sehabis mandi saya pun segera tertidur lelap. Keesokan harinya, usai sarapan kami segera check out dan bersiap memulai petualangan kami di Bumi Sriwijaya di pagi yang cerah ini.


Pagi-pagi kami sudah check out dari M Square Hotel
pemandangan menuju stasiun LRT Ampera

Norak-Norak Bergembira Naik LRT
Tentu LRT Palembang menjadi tujuan utama, kami ingin merasakan sensasi "suasana Singapura" yang membelah sungai Musi. Kami akan naik LRT menuju komplek Olahraga Jakabaring yang terkenal itu.


Menuju Stasiun LRT Ampera

Tak seperti Commuter Line Jabodetabek yang lewat tiap 10-15 menit sekali, LRT Palembang ini punya jadwal sendiri. Saat kami tiba di Stasiun Ampera, jadwal keberangkatan terdekat masih Dua puluh menit lagi. Sambil menunggu, kami sibuk mengambil foto pemandangan Ilir timur yang klasik, pasar tempo dulu.

Sepuluh menit menjelang jadwal LRT tiba, kami masuk ruang tunggu kemudian diantar ke atas. Stasiun sangat bersih, eskalator berfungsi dengan baik, harga tiketnya pun hanya lima ribu rupiah.


ruang tunggu stasiun Ampera
wefie sambil menunggu

Saat berada di atas dari jalur kuning dekat rel LRT, kereta super keren itu terlihat dan melaju ke arah saya. Perasaan deg-degan melanda, saya jadi norak-norak bergembira karena akan naik LRT di negara sendiri. Perasaan bangga dan norak ini tak pernah ada saat saya naik LRT di Malaysia, Singapura ataupun Thailand.





interior LRT
Interior kereta yang keren, bersih dengan sofa biru sebagai tempat duduk menjadi pemandangan di dalam LRT. Saat kereta berjalan meninggalkan stasiun Ampera, pemandangan sungai Musi terlihat di bawah, jembatan merah ampera menjadi pemandangan di sisi kanan. Di seberang sungai Musi adalah daerah Ilir Barat.

Jika Ilir Timur merupakan area pasar dengan gedung klasik maka Ilir Barat adalah kawasan kota modern. Gedung Pemerintahan, Universitas, Mall dan yang terkenal Jakabaring Sport City. Setibanya di stasiun Jakabaring, saya langsung memesan tiket LRT kembali ke stasiun Ampera.  Kereta selanjutnya pukul 09.35. Kami hanya punya waktu kurang lebih tiga puluh menit untuk menjelajahi Jakabaring.


Loket Stasiun Jakabaring
Jadwal LRT Palembang
sumber: google

Stasiun Jakabaring

Tiket LRT Palembang

Langkah kami memasuki Jakabaring Sport City disambut dengan megahnya Stadion Bumi Sriwijaya. Beberapa warga nampak berada di sekitar air mancur di depan stadion. Kami sibuk menelusuri stadion dan berfoto-foto, hingga tak sadar bahwa kurang lebih sepuluh menit lagi LRT akan tiba. Perjalanan keluar dari Komplek Olahraga Jakabaring menuju stasiun LRT cukup jauh. Setengah berlari kami keluar Jakabaring. Apakah LRT dapat kami kejar?  Nantikan kelanjutannya ya.

pintu masuk Jakabaring Sport City

Gelora Sriwijaya

You Might Also Like

11 comments

  1. Kangen Palembang, pernah tinggal beberapa tahun di sana waktu sekolah, sekarang makin bersolek kotanya yaa

    BalasHapus
  2. Hiks belom pernah ke Palembang.
    Eh malah belum pernah ke Sumatra dong.
    Pengen deh traveling ke sana.
    Mau intip pegi-pegi, kali aja bisa direncanain liburan dengan tiket murah dari pegi-pegi :D

    BalasHapus
  3. Duluuuu banget pernah ke Palembang
    Kotanya belum secantik ini. Jembatan ampera belum semenark sekarang
    Kayaknya suatu hari mesti ngulang ke kota ini

    BalasHapus
  4. eh ini yang pas acara fam trip di Palembang bukan?

    BalasHapus
  5. Syahdunya kerasa pas baca, apalagi pas ingat ke Palembang waktu itu berdua bokap doang, di bawah rintik gerimis kami berperahu di atas sungai Musi sambil berbincang tentang masa kecil bokap saat di Palembang yang memorable banget. Aku dengerinnya bagai cerita yang manis sambil hop on hop off pake perahu.
    Btw itu trip matching2 amat, dari payung yang matching ama warna baju sampai warna baju yang senada bertiga. Aih...

    BalasHapus
  6. Mpek mpek Krispynya terlihat enak banget mba, jadi gagal fokus.

    BalasHapus
  7. Gw yang orang sum-sel pun belum pernah main-main ke Palembang kota hahaha.

    BalasHapus
  8. Serem banget ada yang ngikutin segala. Tapi yang penting semua berakhir baik. Ditunggu kelanjutannya ya.

    BalasHapus
  9. Padahal ya, pikiran saya dulu ketika setelah menikah mungkin bakal sering ke Palembang karena suami kan orang Sumatera Selatan. Eh, ternyata sampai detik ini malah belum sekalipun ke sana hahaha. Semoga kesampaian, minimal sekali :D

    BalasHapus
  10. Bentornya unik, beda dg yng biasa ada di daerahku di Jawa Timur. Pempeknya juga mngundang. Aaakkk...pertanyaannya, kapan ke sana? Wkwkwkk

    BalasHapus
  11. Mudah2an dlm waktu dekat bisa nih k palembang kpingn bnget explore wisata dan kulinernya

    BalasHapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images