Keliling Ho Chi MInh City sehari

10.30


Ibukota Vetnam yang kondisinya setali tiga uang dengan Jakarta ini memiliki daya pikat khas kota-kota besar di dunia. Tak seperti kisah di kota-kota sebelumnya yang kaya akan pesona alam, di Ho Chi Minh City ini saya berniat mengunjungi bangunan-bangunan bersejarah yang bisa disambangi dengan berjalan kaki.



Usai sarapan kami berjalan keluar hotel menuju Bui Vien Street. Suasana pagi di Bui Vien Street tidak semeriah seperti yang saya lihat tadi malam. Kami menyeberang lalu menikmati gedung-gedung lucu sepanjang jalan. Tujuan kami yang pertama adalah Independence Palace. Ini dia rute yang sepertinya efektif dan sangat hemat untuk diikuti.

Gedung-gedung lucu sepanjang jalan

Independence Place
Kami melintasi sebuah taman menuju Independence Place, beberapa anak remaja berseragam biru sedang bermain, mungkin ini pramuka ala Vietnam. Meski matahari bersinar terik namun rimbunnya pepohonan sekitar Independence Place cukup meneduhkan.
 
Anak-anak bermain di taman

Hijaunya jaln-jalan di Ho Chi Minh City

Setelah sedikit berputar-putar akibat kemampuan membaca peta yang minim padahal sudah memakai google maps, tibalah kami di pintu samping Indepence Palace. Ternyata tiket masuknya terbilang cukup mahal, kami pun cukup berpuas hati berfoto di pelataran saja, maklum budget terbatas. Melihat di peta, di sekeliling Indpendence Palace banyak gedung-gedung kuno dan bersejarah untuk dilihat.

Independence Palace

Keluar dari pintu Independence Palace kami menyeberang jalan kecil menuju gedung berwarna kuning cerah. Ternyata Gedung klasik berwarna kuning ini adalah pengadilan negeri Ho Chi Minh City, pilar besar ala gedung kuno menyangganya. Sayang sedang direnovasi sehingga kami tak bisa menikmati kecantikan gedung ini. Perjalanan pun kami lanjutkan menuju Perpustakaan kota, lagi-lagi bangunan kuno yang cantik menyapa kami. Kami pun berfoto ala-ala brosur kampus atau tempat les di anak tangga gedung perpustakaan.

Pengadilan Tinggi di Ho Chi Minh City

Foto ala-ala brosur kampus atau bimbel hehehe

War Remnant Museum
Museum perang menjadi tujuan kedua kami. Dari perpustakaan menuju museum perang banyak sekali kafe kopi lucu yang kami lewati. Sesampainya di sana, lagi-lagi tiketnya mahal sehingga kami pun tak masuk. Sebenarnya sayang tapi ya mau bagaimana. Matahari semakin tinggi saat kami berjalan menuju tujuan ketiga.

War Remnant Museum
cukup berfoto di depannya saja

Aneka kafe cantik sepanjang perjalanan

Notre Dame Cathedral of Saigon
Gereja klasik ala Perancis ini menjadi tujuan ketiga kami. Gereja cantik nan kuno ini tersusun dari bata merah, beberapa taman teduh berada di dekatnya. Rupanya pemerintah Ho Chi Minh City sedang giat merenovasi bangunan-bangunan budaya mereka karena gereja ini pun turut direnovasi.

Notre Dame dari taman di seberangnya

Saigon Notre Dame 

Saigon Central Post Office
Kantor pos pusat kota berada persis di samping gereja. Bangunan klasik ala Perancis ini masih berfungsi. Bagi penggemar bangunan kuno pasti senang sekali berada di area ini. Suasana makin panas, pengunjung lain nampak makin memadati kantor pos ini. Kami pun lanjut perjalanan ke Saigon Square naik grab car karena sudah begitu panas dan rasanya sudah malas untuk jalan kaki.
Saigon Central Post Office





Udara yang begitu panas dan kami pun tak dapat apa-apa di Saigon Square membuat kami kembali ke hotel berjalan kaki melewati pasar Ben Thanh, kami mau belanja nanti sore karena konon pedagangnya mengisi area luar pasar dan harganya lebih murah. Kami melewati lorong melayu jajaran toko muslim dan restoran halal memadati tempat ini. Tiba-tiba hawa panas terik matahari berganti mendung yang tebal, kami mempercepat langkah menuju hotel yang sudah tak jauh lagi. Tepat saat kami masuk hotel, hujan turun deras sekali.

jajaran resto halal di Ben Thanh

Sense Market
Hujan deras tak jua reda, sementara ini malam terakhir kami di Ho Chi Minh City. Esok kami akan menuju Phnom Penh sementara belanja oleh-oleh saja belum, apa kata dunia? Akhirnya kami memutuskan untuk belanja ke Sense Market yang letaknya di seberang hotel.
 
toko oleh-oleh di Sense Market
Di Sense market kami membeli beberapa oleh-oleh khas Vietnam seperti kopi, teh juga makanan ringan lainnya. Banyak juga toko baju, sepatu serta benda-benda lucu lainnya, tapi harganya wiiw mahal.

Ben Thanh Market at night
Hujan mulai reda, kami keluar dari Sense Market menuju Ben Thanh. Para pedagang pasar Ben Thanh baru saja merapikan dagangannya. Suasananya persis seperti pasar tumpah di depan stasiun Jatinegara. Ada lapak penjual oleh-oleh, baju, t-shirt khas Vietnam dan tak ketinggalan ada pula jajanan pasar. Aneka Sport T-shirt branded dijual sangat murah di sana, pastinya barang kw sih tapi kualitas bahannya cukup bagus, saya membeli beberapa t-shirt berlogo Under Armor seharga 70.000 VND atau sekira lima puluh ribu rupiah saja. Puas berbelanja kami pun kembali ke hotel untuk packing.

Taman menuju Ben Than Market

kuliner dan sport t-shirt murah

Scammers are everywhere
Oh iya satu lagi nih, hati-hati sama penipu di sepanjang jalanan Ho Chi Minh City. Mereka berjualan tapi menipu, contoh ada yang berjualan kelapa muda dan mengajak foto bersama lalu dengan seenaknya memotong kelapa dan meminta dibayar satu kelapa muda seharga tiga puluh hingga lima puluh ribu VND. Yang lebih lucu lagi ada penjual lem yang dengan cueknya menunjuk-nunjuk sepatu kami dan menawarkan lemnya, duh maaf ya sepatu saya mah udah disol hehehhee.

scammer kelapa muda

ini bikin saya ngakak, ada ya scammer lem? hahahha


Intinya keliling Ho Chi Minh City jalan kaki itu cukup seru. Larut malam baru kami tidur, esok kami akan berpindah kota menuju Phnom Penh, Kamboja. Ikuti terus ceritanya ya

You Might Also Like

10 comments

  1. Kak Yun, saya kok penasaran dengan war remmant museum. Tiket masuknya kalau dirupiahkan sekitar berapa kah kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau Independence palace sekira lima puluh ribu, Teh. Kalau War Remnant aku lupa

      Hapus
  2. Keren banget nih jalan-jalan di Vietnamnya.

    BalasHapus
  3. wahhh seru juga nih jalan-jalannya mbak..

    BalasHapus
  4. Ho Chi Mich City mengingakan kampung halaman saya ka..

    BalasHapus
  5. Waktu itu ak udh dpt tiket promo mbaa, tp gk jd ak ambil krn ngeringeri ngebay masih ad sisa2 perang gt. Eh skrg nyeseel gak jd pergi .... Hiks

    BalasHapus
  6. Waduuuhhh dinegara orang ada juga tipu 2 ya ckckck perjalanannya masih seru seru nih di kamboja

    Belanja baju olahraga disana asyik juga ya dapet merk2 bagus dengan harga miring hehe

    BalasHapus
  7. Ben Tanh Market itu emang pasar ter-the best sih di antara negara-negara indochina lain. Um...karena paling murah, hahahaha. Kalo ada waktu bisa itu ke Chuchi Tunnel, Mbak.

    BalasHapus
  8. aku kalo inget HCMC, lgs inget kena scam 2 kakek tua pengemudi becak. sebeel. pokoknya kita dipalak abis2an deh. ga bakal ridho itu aku hahahahah. tp wkt itu aku memnag blm terlaku srg traveling mba. jd msh polos :p. kena deh jebakan batman.. cm kalo ditanya mau balik lg ato ga, mau banget sih. apalagi aku msh pgn ke sapa, hanoi, dalat dan danang

    BalasHapus

Blog ini adalah "kelas kecil" Miss Yunita, tempat menikmati kisah sambil minum kopi. Terima kasih sudah berkunjung. Kalau suka boleh komentar, boleh juga di-share. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images